SoE, METRO TIMORNEWS.ID – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur pendidikan dan program pemerataan akses belajar di Indonesia, masih ada potret berbeda yang terjadi di pelosok Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Puluhan siswa SD Negeri Bes’ao, Desa Obibi, Kecamatan Kot’olin, hingga kini masih harus belajar di ruang kelas berdinding bambu, beratapkan seng yang telah berlubang, serta berlantai tanah.
Pemandangan ini bukan adegan dalam film, melainkan kenyataan yang setiap hari dihadapi para siswa dan guru. Saat musim hujan tiba, air dengan mudah masuk ke dalam ruang kelas, mengubah lantai tanah menjadi becek dan berlumpur. Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung secara normal.
Meski hidup dalam berbagai keterbatasan, semangat belajar para siswa tak pernah surut. Sebanyak 68 siswa tetap datang ke sekolah setiap hari untuk menimba ilmu dan mengejar cita-cita. Bahkan, terdapat tiga calon siswa yang belum terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) karena belum memiliki Kartu Keluarga (KK).
Di balik keterbatasan fasilitas itu, terdapat dedikasi para pendidik yang patut diapresiasi. SD Negeri Bes’ao saat ini memiliki satu guru berstatus PNS dan tujuh guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang terus mengabdi demi memastikan anak-anak tetap memperoleh hak mereka atas pendidikan.
Kepala SD Negeri Bes’ao, Alexander Liufeto, saat diwawancarai wartawan pada Senin (20/7/2026), mengatakan bahwa musim hujan menjadi tantangan terbesar bagi sekolah yang dipimpinnya.
“Kendala terbesar saat hujan adalah semua ruang kelas menjadi basah. Lantai yang masih tanah berubah menjadi lumpur sehingga anak-anak tidak bisa belajar dengan normal. Demi keselamatan mereka, kami memindahkan seluruh siswa ke dua ruang permanen yang sebelumnya dibangun melalui Dana Alokasi Umum (DAU),” ujarnya.
Menurut Alexander, semangat belajar para siswa justru semakin tumbuh karena melihat keteladanan para guru yang tidak pernah menyerah meski harus mengajar dalam kondisi serba terbatas.
“Semangat belajar anak-anak sangat tinggi. Mungkin karena mereka melihat guru-gurunya yang tidak pernah menyerah. Meski cuaca buruk dan fasilitas sekolah sangat terbatas, semua guru tetap rajin masuk mengajar. Itu menjadi contoh bagi anak-anak sehingga mereka juga tetap semangat datang ke sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan telah berlangsung cukup lama. Atap seng yang telah lapuk dan berlubang membuat air hujan masuk ke dalam ruangan, sementara dinding bambu mulai rapuh dan lantai tanah belum pernah mendapatkan pengecoran semen.
Meski demikian, pihak sekolah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dengan tetap mengikuti berbagai kegiatan pendidikan di tingkat kabupaten.
Alexander mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah beberapa kali berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Timor Tengah Selatan terkait usulan revitalisasi sekolah. Salah satu syarat yang diminta adalah pembaruan data Dapodik sebagai bagian dari proses pengajuan bantuan.
“Kami sudah berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan dan diminta memperbaiki data Dapodik. Harapan kami sederhana, semoga tahun 2026 ini SD Negeri Bes’ao bisa mendapatkan program revitalisasi sekolah sehingga anak-anak dapat belajar di ruang kelas yang aman dan layak,” ungkapnya.
Keselamatan siswa menjadi perhatian utama pihak sekolah. Setiap kali hujan deras disertai angin kencang, ruang kelas berdinding bambu tidak lagi digunakan karena dikhawatirkan membahayakan para siswa.
“Kami tidak mengizinkan siswa masuk ke ruang itu ketika cuaca buruk. Semua kami arahkan ke dua ruang permanen. Kami sangat takut terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan mereka,” tegas Alexander.
Dengan nada penuh haru, ia mengaku dirinya bersama para guru sering merasa sedih melihat murid-murid harus belajar dalam kondisi yang jauh dari layak.
“Sebagai guru, hati kami hancur setiap kali melihat anak-anak harus belajar di ruang kelas seperti ini. Kami hanya bisa terus memberi semangat kepada mereka. Kami sadar TTS wilayahnya sangat luas sehingga mungkin perhatian pemerintah belum bisa menjangkau semua sekolah secara merata. Namun kami berharap SD Negeri Bes’ao tidak terus dilupakan,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Alexander menyampaikan harapan kepada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pemerintah Provinsi NTT, hingga Pemerintah Pusat agar memberikan perhatian serius terhadap kondisi sekolah tersebut.
“Kami memohon kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar melihat kami lebih dekat. Anak-anak di SD Negeri Bes’ao memiliki semangat dan mimpi yang sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Mereka hanya ingin belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak. Kami berharap pemerintah dapat membantu menghadirkan bangunan sekolah yang lebih baik demi masa depan mereka,” pungkasnya.
Potret SD Negeri Bes’ao menjadi cermin bahwa perjuangan menghadirkan pendidikan yang merata masih menyisakan pekerjaan besar. Di saat banyak sekolah telah menikmati ruang belajar yang nyaman dan modern, masih ada anak-anak di pelosok negeri yang harus bertaruh dengan hujan, lumpur, dan bangunan yang rapuh demi memperoleh hak dasar mereka untuk belajar.
Di balik dinding bambu yang mulai lapuk dan lantai tanah yang berubah menjadi lumpur setiap musim hujan, tersimpan mimpi-mimpi besar anak-anak Bes’ao untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kini, harapan mereka tertuju kepada pemerintah agar suara dari sebuah sekolah kecil di pelosok Timor benar-benar didengar. Sebab setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang aman, layak, dan bermartabat, tanpa memandang seberapa jauh mereka tinggal dari pusat pembangunan.
(*tim)








