NIKI-NIKI, METROTIMORNEWS.ID — Dalam upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme tenaga pendidik, SMA Katolik Stella Maris Niki-Niki menggelar In House Training (IHT) bagi seluruh dewan guru.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai Jumat 4 hingga Sabtu 5 September 2026, tersebut dipusatkan di lingkungan SMA Katolik Stella Maris Niki-Niki.
Plt. Kepala SMA Katolik Stella Maris Niki-Niki, Diakon Fransiskus Rivandi Koa, S.Fil., kepada media ini, Jumat (4/9/2026), menjelaskan bahwa kegiatan IHT merupakan bagian dari upaya sekolah meningkatkan kompetensi guru sekaligus memperkuat kualitas proses pembelajaran.
“IHT dilaksanakan selama dua hari, dari Jumat 4 sampai 5 September 2026. Kami menghadirkan pemateri dari dalam untuk menguatkan guru-guru kita dalam menghadapi Kurikulum Merdeka dan penguatan karakter,” jelas Diakon Rivandi.
Dalam kegiatan tersebut, sekolah menghadirkan dua pemateri dengan materi yang berbeda dan saling melengkapi.
Ronisius Otu, S.Pd., M.Pd., membawakan materi mengenai Implementasi Kurikulum Merdeka. Sementara Yakob A. N. Selan, S.Pd., M.Sos., menyampaikan materi Penguatan Disiplin dan Karakter Guru serta Menciptakan Sekolah Aman, Nyaman dan Inklusif.
Menurut Diakon Rivandi, pelaksanaan IHT memiliki lima tujuan utama yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Lima Fokus Utama IHT
Pertama, meningkatkan kompetensi guru. Para pendidik dibekali pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka sehingga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran.
Kedua, menyusun perangkat ajar. Guru dilatih agar semakin terampil dalam menyusun modul ajar, Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), serta melakukan penyesuaian materi pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik.
Ketiga, menguasai asesmen pembelajaran. Guru diharapkan memahami dan mampu menerapkan asesmen diagnostik, formatif, maupun sumatif secara tepat dalam mengukur perkembangan dan capaian belajar siswa.
Keempat, membangun sinergi antarpendidik. IHT menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama dan komunikasi antar-guru, termasuk dalam mengevaluasi efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Kelima, menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa. Guru didorong memiliki keterampilan dalam merancang pembelajaran yang fleksibel, sesuai kebutuhan, karakter, potensi, dan kemampuan masing-masing peserta didik.
Diakon Rivandi menegaskan bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak hanya bergantung pada perangkat pembelajaran, tetapi juga pada kesiapan dan karakter guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik.
Karena itu, penguatan karakter, kedisiplinan, serta penciptaan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan inklusif menjadi bagian penting dalam kegiatan IHT tersebut.
“Harapan kami setelah IHT ini, guru-guru semakin siap, kreatif, dan mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman serta berpihak pada murid,” tutupnya.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi seluruh tenaga pendidik SMA Katolik Stella Maris Niki-Niki untuk terus meningkatkan kapasitas, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan pembelajaran yang semakin berkualitas bagi peserta didik.
(Albert Baunsele)








