JUT 1,25 Kilometer Buka Jalan Keluar dari Keterisolasian Warga Eno Neontes

Sabtu, 5 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TTS, METROTIMORNEWS.ID — Harapan warga wilayah Noefefan, RT 17/RW 09, Dusun Eno Neontes, Desa Tuapakas, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), untuk mendapatkan akses transportasi yang lebih layak mulai menemukan titik terang.

Pembukaan Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 1,25 kilometer tidak hanya membuka akses masyarakat menuju lahan pertanian, tetapi juga menjadi jalur alternatif yang sangat dibutuhkan warga, terutama saat musim hujan.

Jalan tersebut dibangun melalui pokok pikiran (pokir) Anggota DPRD TTS dari Fraksi PAN, Imanuel Bire, melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten TTS.

Kehadiran akses tersebut diharapkan mampu memperkuat konektivitas masyarakat dengan pusat pemerintahan desa, kecamatan hingga wilayah perkotaan.

Penjabat Kepala Desa Tuapakas, Yavet Upu, menyampaikan apresiasi terhadap perhatian pemerintah daerah dan DPRD TTS yang telah merespons kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikannya usai pertemuan yang melibatkan Anggota DPRD TTS, Camat Kualin, Kapolsek Kualin, Dinas TPHP TTS serta masyarakat penerima manfaat, Kamis (3/9/2026).

“Kami sangat senang ketika ada perhatian dari Bapak Dewan Imanuel Bire dan pemerintah daerah dengan membuka jalan ke lahan pertanian, tetapi bisa menghubungkan juga ke wilayah Dusun 3 yang selama ini terisolasi,” ungkap Yavet.

Menurut Yavet, akses jalan tersebut sangat berarti bagi masyarakat yang tersebar di enam RT dan tiga RW. Selama ini keterbatasan infrastruktur jalan menjadi kendala mobilitas warga, terlebih ketika curah hujan tinggi.

“Jalan ini bukan hanya membuka akses ke lahan pertanian, tetapi juga menghubungkan warga dengan kantor desa, kecamatan dan kota. Saat musim hujan, warga tidak perlu melalui kali,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada DPRD TTS dan pemerintah daerah yang telah mendengar serta merespons aspirasi masyarakat.

“Saya atas nama masyarakat dan Pemerintah Desa Tuapakas menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Dewan dan Bapak Bupati melalui Dinas karena sudah mendengar keluhan kami selama ini,” ucapnya.

Bukan Sekadar Jalan Pertanian

Pembukaan JUT tersebut dinilai memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar akses menuju lahan pertanian. Jalan itu sekaligus membuka konektivitas menuju Dusun 3 Eno Neontes, wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Di wilayah tersebut terdapat sejumlah fasilitas pelayanan dasar masyarakat, di antaranya dua gereja GMIT, sekolah dasar, Posyandu dan PAUD.

Yavet menjelaskan, akses menuju wilayah tersebut sebelumnya telah beberapa kali diusulkan masyarakat melalui musyawarah desa agar dapat dibangun menggunakan Dana Desa (DD). Namun, usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran.

“Jalan ini pernah diusulkan oleh warga, tetapi belum terjawab. Sehingga melalui pokir Bapak Dewan dan Dinas, baru dapat dibangun dari Noefefan RT 17/RW 09 Desa Tuapakas menuju Dusun 3 Eno Neontes,” jelasnya.

Selain memudahkan mobilitas warga, jalan tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru. Akses yang lebih mudah akan membantu masyarakat mengangkut hasil pertanian dan ternak menuju lokasi pemasaran.

Warga Tak Lagi Bergantung pada Jalur Sungai

Warga Nano, Elia Taneo, mengatakan keterbatasan akses sangat dirasakan masyarakat, terutama saat musim hujan.

“Kalau musim hujan susah dan kami harus melalui Kali Noesiu, Desa Noesiu, Kecamatan Kolbano,” ujar Elia.

Dengan adanya jalur alternatif tersebut, masyarakat berharap mobilitas sehari-hari dan aktivitas ekonomi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jalur sungai yang sulit dilalui ketika debit air meningkat.

Hal senada disampaikan Kepala Dusun 3 Eno Neontes, Lides Y.R. Womsiwor. Menurutnya, persoalan akses selama ini bukan hanya berdampak terhadap aktivitas ekonomi, tetapi juga pelayanan dasar masyarakat.

“Selama ini kalau ada pelayanan gereja di wilayah Dusun 3, saat musim hujan sangat susah. Bahkan kadang kalau ibu pendeta, bidan dan perawat mau Posyandu harus lewat Noesiu. Tetapi dengan adanya jalan alternatif ini, akses kami tidak akan susah lagi,” ungkapnya.

Karena itu, masyarakat berharap jalan yang telah dibuka tersebut dapat terus dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk berbagai kebutuhan warga.

Sempat Diwarnai Persoalan Lahan

Di balik manfaat yang diharapkan masyarakat, proses pembukaan akses jalan tersebut sebelumnya sempat diwarnai persoalan terkait lahan dan pengaduan kepada DPRD TTS.

Namun, berdasarkan keterangan dalam pertemuan, persoalan tersebut kemudian mengarah pada kesepakatan antara marga Nabunome, Lakapu, Taneo dan Nenotaek terkait persetujuan pembukaan akses jalan tersebut pada Jumat (4/9/2026).

Kesepakatan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan akses jalan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat secara bersama-sama.

Ketua Majelis Wilayah Tuapakas, Pendeta Marita E. Sinapas, mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan perdamaian, kebijaksanaan dan kepentingan bersama dalam menyikapi keberadaan jalan tersebut.

Ia berharap pembangunan yang telah dihadirkan pemerintah dapat dilihat sebagai sesuatu yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Kalau berkat itu ada jangan kita tolak. Mari buka hati untuk kita bijaksana menerima segala sesuatu yang ada agar dapat dinikmati oleh sesama kita di tempat ini,” ujar Pdt. Marita.

Bagi masyarakat Eno Neontes dan Nano, JUT sepanjang 1,25 kilometer tersebut kini bukan lagi sekadar infrastruktur pertanian.

Jalan itu diharapkan menjadi pintu penghubung baru yang memperpendek jarak masyarakat dengan pusat pemerintahan, pendidikan, kesehatan, pelayanan keagamaan, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi aktivitas ekonomi warga.

Di tengah keterbatasan akses yang selama ini dirasakan, kehadiran jalan tersebut menjadi harapan baru agar masyarakat Eno Neontes tidak lagi merasa terisolasi, terutama ketika musim hujan tiba.

MARTIN MTID

Berita Terkait

Mahasiswa Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang Raih Juara 1 dan 2 Lomba Nasional Cipta Media Kreasi Pembelajaran 2026
Direktur CV KPR Bantah Tuduhan Tambang Ilegal di Pantai Oenikan, Sebut Batu Warna Dibeli dari Warga
Yabes Nubatonis Desak Pemda TTS Serius Awasi Distribusi BBM Bersubsidi, Warga Pelosok Jangan Jadi Korban
Siap Bawa Perubahan, Clara Yunita Tefa Resmi Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027
Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa
Kejaksaan Diminta Segera Periksa Tim PHO dan BARAKAT, Usut Tuntas Pekerjaan HMT Big Push di Wulo Kolo
Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang
Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:56

Mahasiswa Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang Raih Juara 1 dan 2 Lomba Nasional Cipta Media Kreasi Pembelajaran 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:25

Direktur CV KPR Bantah Tuduhan Tambang Ilegal di Pantai Oenikan, Sebut Batu Warna Dibeli dari Warga

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:39

Yabes Nubatonis Desak Pemda TTS Serius Awasi Distribusi BBM Bersubsidi, Warga Pelosok Jangan Jadi Korban

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:53

Siap Bawa Perubahan, Clara Yunita Tefa Resmi Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:39

Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:41

Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:45

Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:24

Dosen IAKN Kupang Dorong Penyuluh Agama Kristen Hadir di Ruang Digital

Berita Terbaru