KUPANG, METRO TIMORNEWS.ID — Cahaya firman kembali menerangi kehidupan sivitas akademika Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang. Melalui Ibadah Penyegaran Iman bertema “Your Eternal Value”, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa diajak untuk kembali menyadari identitas serta nilai kekal kehidupan di dalam Tuhan.
Ibadah yang berlangsung di halaman kampus IAKN Kupang, Jumat (4/9/2026), tersebut diikuti seluruh unsur sivitas akademika. Suasana sukacita dan kebersamaan tampak sepanjang rangkaian ibadah, yang menjadi ruang refleksi sekaligus penyegaran spiritual bagi warga kampus.
Ibadah dipimpin oleh Pastor Shelby Grant dari Community Group Ministries International. Dalam penyampaian renungannya, Pastor Shelby mengajak peserta untuk memahami bahwa setiap orang percaya memiliki nilai yang berharga dan kekal di hadapan Tuhan.
Ia menekankan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pencapaian lahiriah, jabatan, status, maupun keadaan yang sedang dihadapi. Nilai manusia, menurutnya, berkaitan erat dengan asal dan tujuan hidup sebagai ciptaan Tuhan.
Pesan tersebut mengajak sivitas akademika untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih dalam. Keberhasilan, kegagalan, tantangan, maupun berbagai keadaan yang datang silih berganti tidak seharusnya menjadi ukuran utama dalam menentukan harga diri seseorang.
Pastor Shelby juga mengajak peserta memahami kembali asal-usul rohani manusia. Kesadaran mengenai dari mana manusia berasal dan ke mana kehidupannya diarahkan dinilai menjadi dasar penting untuk menemukan makna dan tujuan hidup.
Ia menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk rohani. Karena itu, kehidupan spiritual tidak boleh ditempatkan sebagai sesuatu yang sekadar pelengkap, tetapi perlu menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas akademik dan profesional.
Lebih lanjut, Pastor Shelby menjelaskan bahwa identitas manusia berasal dari Tuhan. Identitas tersebut tidak berubah hanya karena seseorang menghadapi persoalan, mengalami kegagalan, atau berada dalam situasi yang sulit.
Pemahaman tersebut diharapkan menjadi kekuatan bagi setiap orang percaya untuk tetap teguh menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Sebab, ketika seseorang memahami nilai dirinya di hadapan Tuhan, ia tidak mudah kehilangan arah hanya karena keadaan yang berubah.
Dalam renungannya, Pastor Shelby juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada orientasi kehidupan yang hanya mengejar hal-hal sementara. Setiap orang perlu menyadari bahwa kehidupannya memiliki nilai dan tujuan yang melampaui pencapaian duniawi.
“Your Eternal Value” kemudian menjadi pesan reflektif bagi seluruh sivitas akademika IAKN Kupang untuk tidak hanya bertanya tentang apa yang dapat dicapai dalam kehidupan, tetapi juga tentang siapa diri manusia di hadapan Tuhan dan untuk tujuan apa kehidupan itu dijalani.
Di akhir renungan, Pastor Shelby mengajak seluruh peserta untuk mengenali nilai kekal dalam kehidupan masing-masing dan mewujudkannya melalui tindakan nyata yang menjadi berkat bagi sesama.
Pesan tersebut diharapkan dapat mendorong warga IAKN Kupang untuk menghadirkan kebaikan di lingkungan tempat mereka belajar, bekerja, dan melayani. Dengan demikian, iman tidak hanya berhenti pada ruang ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui sikap, karakter, integritas, dan kepedulian terhadap orang lain.
Ibadah Penyegaran Iman ini menjadi bagian dari pembinaan kehidupan kerohanian sivitas akademika IAKN Kupang. Kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkokoh iman warga kampus sekaligus membangun pemahaman yang kuat mengenai identitas mereka di dalam Tuhan.
Di tengah tuntutan pendidikan tinggi yang menekankan pengetahuan, kompetensi, dan prestasi, pembinaan spiritual menjadi bagian penting dalam membentuk manusia yang utuh. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter dan menumbuhkan nilai-nilai kehidupan.
Melalui pembinaan iman yang dilakukan secara berkelanjutan, IAKN Kupang diharapkan mampu terus menghadirkan budaya akademik yang memadukan kecerdasan, karakter Kristiani, integritas, spiritualitas, dan kepedulian terhadap sesama.
Sebab, ketika firman Tuhan menjadi cahaya yang menerangi hati dan pikiran, kehidupan akademik pun diharapkan tidak sekadar menghasilkan manusia yang berilmu, tetapi juga pribadi yang beriman, berkarakter, dan mampu menjadi terang serta berkat bagi dunia.
MARTIN MTID








