FLORES TIMUR, METROtimornews.id – Program unggulan Big Push sapi Bali di Kabupaten Flores Timur (Flotim) memasuki tahap penting. Pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) terus mematangkan pengembangan Sentra Sapi Wolo Kolo di Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga.
Di balik program tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disbunter Flores Timur, Yoseph Aryo Soecipto Pehan Keraf atau yang akrab disapa Cipto Keraf, mendapat pendampingan langsung dari tiga profesor yang disebut memiliki keahlian dan pengalaman panjang di bidang peternakan serta pengembangan teknologi tepat guna.
Ketiga akademisi tersebut masing-masing Prof. Dr. Yantus A.B. Neolaka, S.Pd., M.Si., Ir. Yoharis Umbu L. Sabang, A.Md., dan Ir. Markus Sinla’e, Use Aq.
Cipto Keraf menyebut keterlibatan para akademisi tersebut bukan sekadar formalitas. Mereka telah turun langsung melihat kondisi Sentra Sapi Wolo Kolo pada Sabtu, 12 September 2026.
“Mereka menggunakan teknologi tepat guna. Mereka ini ahlinya, jadi pasti siap bertanggung jawab,” ujar Cipto Keraf saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, keterlibatan tiga profesor tersebut diharapkan mampu memastikan setiap tahapan pengembangan sentra sapi dapat berjalan berdasarkan kajian dan pengalaman akademik.
Bahkan, kata Cipto, terdapat ikatan perjanjian dalam kerja sama tersebut sehingga berbagai kemungkinan risiko dalam pengembangan program dapat dimitigasi.
“Kalau ke depan ada kegagalan, mereka juga yang akan bertanggung jawab. Ada ikatan perjanjian, jadi risiko bisa dimitigasi,” tegasnya.
Pakan Jadi Persoalan Utama
Di tengah optimisme tersebut, terdapat satu persoalan yang hingga kini menjadi perhatian serius, yakni kesiapan pakan ternak.
Cipto Keraf mengakui bahwa sapi yang menjadi bagian dari program tersebut secara proporsional sudah siap disediakan oleh pihak penyedia sesuai kontrak. Namun, sapi belum dapat didatangkan ke Flores Timur karena kesiapan pakan di lokasi sentra belum sepenuhnya terpenuhi.
“Secara proporsional penyedia sudah siap. Hanya kita di Flores Timur pakannya belum siap, maka belum beri lampu hijau untuk dropping,” jelasnya.
Artinya, kesiapan sapi bukan menjadi satu-satunya faktor penentu. Pemerintah daerah terlebih dahulu harus memastikan sumber pakan tersedia sehingga sapi yang nantinya masuk ke Wolo Kolo dapat dipelihara secara berkelanjutan.
Lahan 200 Hektare Disiapkan, Dibagi 12 Pedok
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah menyiapkan lahan seluas sekitar 200 hektare sesuai kontrak.
Lahan tersebut nantinya dikembangkan menggunakan sistem pedok, yakni pembagian kawasan peternakan ke dalam sejumlah blok agar sapi dapat digilir dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
Cipto menjelaskan, kawasan tersebut direncanakan terbagi dalam 12 blok besar.
“Pedok itu lumayan besar. Sapi makan habis di satu titik, lalu pindah ke pedok lain. Jadi pakan tidak rusak karena diinjak,” katanya.
Sistem tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan hijauan sekaligus mencegah kerusakan padang penggembalaan akibat sapi terus berada pada satu lokasi.
Jumlah sapi yang dapat ditempatkan pada setiap pedok nantinya akan disesuaikan dengan luas dan kondisi masing-masing blok.
“Kalau pedok sudah terbentuk, baru bisa dihitung berapa ekor sapi yang masuk ke tiap pedok,” tambahnya.
Anggaran Pakan Capai Sekitar Rp1,2 Miliar
Untuk mendukung kebutuhan pakan, Disbunter Flores Timur juga telah menjalin kerja sama dengan pihak Barakat.
Cipto menyebut anggaran yang disiapkan untuk kebutuhan pakan mencapai sekitar Rp1,2 miliar. Namun, dirinya mengaku belum mengetahui secara persis rincian angka tersebut.
“Itu memang total pengeluaran untuk pakan. Angka pastinya saya belum tahu persis. Tapi sejumlah anggaran sudah keluar di awal, itu persiapan dasar,” ungkapnya.
Menurut Cipto, penggunaan lahan 200 hektare tetap mengacu pada kontrak dan pengembangannya dilakukan secara bertahap.
Karena itu, persoalan pakan menjadi salah satu prasyarat utama sebelum sapi didatangkan ke sentra.
Tiga Profesor Jadi Penopang Program
Cipto Keraf optimistis program Big Push sapi Bali dapat berjalan sesuai harapan. Ia menilai keterlibatan tiga profesor menjadi salah satu kekuatan penting dalam memastikan program tersebut tidak sekadar menjadi proyek jangka pendek.
Salah satu profesor yang dilibatkan bahkan disebut telah memiliki pengalaman sejak tahun 1974.
“Mereka dipakai jasanya untuk langkah lanjutan sentra sapi. Jadi saya yakin ke depan pasti baik,” katanya.
Ia menambahkan, program Big Push sapi Bali telah masuk dalam RPJMD sehingga intervensi terhadap sektor peternakan diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Cipto juga berharap DPRD Flores Timur dapat melihat hasil nyata dari program tersebut sehingga dukungan anggaran dapat terus diberikan.
“Kalau berhasil dalam skala kecil, maka akan berlanjut dalam skala besar. Tahun depan bisa bertahap sampai 700 ekor, bahkan lebih,” ujarnya.
Wolo Kolo, Antara Harapan dan Tantangan
Program Big Push sapi Bali sejak awal digadang-gadang sebagai salah satu upaya besar untuk mendorong kebangkitan sektor peternakan di Flores Timur.
Namun, perjalanan menuju realisasi program tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang paling krusial adalah kesiapan pakan.
Masyarakat tentu menunggu kepastian kapan sapi-sapi tersebut benar-benar didatangkan dan mulai mengisi Sentra Sapi Wolo Kolo.
Di sisi lain, keterlibatan tiga profesor dari Kupang menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah berupaya mengedepankan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola sentra peternakan tersebut.
Kini, perhatian tertuju pada Wolo Kolo.
Apakah Sentra Sapi Wolo Kolo mampu menjadi tonggak baru kebangkitan peternakan Flores Timur dan melahirkan success story yang dapat dikembangkan hingga ratusan bahkan ribuan ekor sapi?
Atau justru persoalan klasik seperti kesiapan pakan kembali menjadi batu sandungan?
Jawabannya akan ditentukan oleh sejauh mana pemerintah daerah mampu memastikan seluruh komponen program—mulai dari lahan, pedok, pakan, hingga sapi—benar-benar siap sebelum program Big Push tersebut dijalankan secara penuh.
Tim








