Program Unggulan Sentra Sapi Wolo Kolo: Tiga Profesor Dampingi PLT Disbunter Cipto Keraf, Pakan Jadi Sorotan Utama

Selasa, 15 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FLORES TIMUR, METROTIMORNEWS.ID — Program unggulan Big Push Sapi Bali di Kabupaten Flores Timur kembali menjadi sorotan. Di tengah persiapan pengembangan Sentra Sapi Wolo Kolo, Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga, persoalan kesiapan pakan justru menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah daerah.

Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) Flores Timur, Yoseph Aryo Soecipto Pehan Keraf, atau yang akrab disapa Cipto Keraf, menegaskan bahwa program tersebut tidak berjalan sendiri.

Ia mengaku mendapat pendampingan langsung dari tiga profesor dari Kupang yang disebut memiliki kompetensi dan pengalaman panjang di bidangnya.

Ketiga akademisi tersebut yakni Prof. Dr. Yantus A.B. Neolaka, S.Pd., M.Si., Ir. Yoharis Umbu L. Sabang, Al.Si., serta Ir. Markus Sinla’e, USe, Aq.

“Mereka menggunakan teknologi tepat guna, mereka ini ahlinya. Jadi pasti siap bertanggung jawab,” ujar Cipto Keraf saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 14 September 2026.

Tiga Profesor Turun Langsung ke Wolo Kolo

Cipto menjelaskan, ketiga profesor tersebut telah turun langsung ke lokasi Sentra Sapi Wolo Kolo pada Sabtu, 12 September 2026.

Kehadiran para akademisi tersebut diharapkan mampu memberikan dukungan ilmiah dan teknis dalam pengembangan sentra peternakan yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah daerah.

Menurut Cipto, keterlibatan para profesor tersebut juga menjadi bagian dari upaya memitigasi berbagai risiko dalam pelaksanaan program.

“Kalau ke depan ada kegagalan, mereka juga yang akan bertanggung jawab. Ada ikatan perjanjian, jadi risiko bisa dimitigasi,” katanya.

Namun, di balik optimisme tersebut, Cipto mengakui masih ada satu persoalan mendasar yang belum sepenuhnya siap.

Pakan ternak.

Pakan Belum Siap, Sapi Belum Didatangkan

Cipto mengatakan, penyedia sapi yang telah dijanjikan sesuai kontrak pada dasarnya sudah siap.

Namun, pihaknya belum memberikan lampu hijau untuk mendatangkan sapi ke Flores Timur karena kesiapan pakan di lokasi sentra belum terpenuhi.

“Secara proporsional penyedia sudah siap. Hanya kita di Flores Timur pakannya belum siap, maka belum beri lampu hijau untuk dropping,” jelasnya.

Menurutnya, kesiapan pakan menjadi faktor penting sebelum sapi didatangkan. Jangan sampai sapi sudah berada di lokasi, namun kebutuhan pakan belum mampu dipenuhi secara berkelanjutan.

Lahan 200 Hektare Disiapkan, Dibagi 12 Pedok

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan sekitar 200 hektare sesuai kontrak.

Lahan itu nantinya dikembangkan menggunakan sistem pedok, yakni membagi kawasan peternakan ke dalam sejumlah blok sehingga sapi dapat dipindahkan secara berkala.

Cipto menjelaskan, kawasan tersebut direncanakan dibagi menjadi sekitar 12 blok besar.

“Pedok itu lumayan besar. Sapi makan habis di satu titik, lalu pindah ke pedok lain. Jadi pakan tidak rusak karena diinjak,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, sapi tidak terus-menerus berada di satu kawasan. Ketika pakan di satu pedok telah berkurang, sapi dapat dipindahkan ke blok berikutnya.

Jumlah sapi yang dapat ditempatkan pada setiap pedok nantinya akan disesuaikan dengan luas dan kapasitas pakan yang tersedia.

“Kalau pedok sudah terbentuk, baru bisa dihitung berapa ekor sapi yang masuk ke tiap pedok,” tambahnya.

Anggaran Pakan Disebut Capai Rp1,2 Miliar

Persoalan pakan juga berkaitan dengan anggaran.

Cipto menyebut pemerintah telah menjalin kerja sama dengan pihak Barakat untuk mendukung penyediaan pakan.

Anggaran yang disebut dialokasikan untuk kebutuhan pakan mencapai sekitar Rp1,2 miliar.

“Itu memang total pengeluaran untuk pakan. Angka pastinya saya belum tahu persis. Tapi sejumlah anggaran sudah keluar di awal, itu persiapan dasar,” ungkapnya.

Ia menegaskan, lahan seluas 200 hektare tersebut digunakan sesuai kontrak dan pengembangan sentra dilakukan secara bertahap.

Bagi Cipto, pakan merupakan kunci utama sebelum sapi didatangkan ke Wolo Kolo.

Target 700 Ekor Sapi dan Lebih

Meski menghadapi persoalan kesiapan pakan, Cipto tetap optimistis program Big Push Sapi Bali dapat berjalan.

Ia menilai dukungan tiga profesor menjadi salah satu kekuatan dalam memastikan program tersebut dikembangkan berdasarkan kajian dan pengalaman akademik.

Salah satu profesor yang terlibat, kata Cipto, bahkan telah memiliki pengalaman sejak tahun 1974.

“Mereka dipakai jasanya untuk langkah lanjutan sentra sapi. Jadi saya yakin ke depan pasti baik,” katanya.

Cipto menegaskan, program Big Push Sapi Bali telah masuk dalam RPJMD dan akan mendapatkan intervensi secara berkelanjutan.

Ia berharap DPRD Flores Timur juga melihat hasil nyata dari program tersebut sehingga dukungan anggaran dapat terus berlanjut.

“Kalau berhasil dalam skala kecil, maka akan berlanjut dalam skala besar. Tahun depan bisa bertahap sampai 700 ekor, bahkan lebih,” ujarnya.

Wolo Kolo Menanti Realisasi

Program Big Push Sapi Bali sejak awal digadang-gadang sebagai salah satu upaya mendorong kebangkitan sektor peternakan di Flores Timur.

Namun, realisasinya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama menyangkut kesiapan pakan.

Di satu sisi, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan 200 hektare dan menggandeng tenaga akademisi. Di sisi lain, sapi yang disebut sudah siap didatangkan masih harus menunggu kesiapan pakan di lokasi.

Masyarakat pun kini menunggu kepastian kapan sapi-sapi tersebut benar-benar masuk dan mengisi Sentra Sapi Wolo Kolo.

Dengan pendampingan tiga profesor dan konsep pengelolaan berbasis pedok, pemerintah daerah berharap Wolo Kolo tidak sekadar menjadi proyek sesaat.

Program tersebut diharapkan mampu menjadi investasi jangka panjang sekaligus mendorong peningkatan populasi dan produktivitas sapi Bali di Flores Timur.

Kini perhatian publik tertuju ke Wolo Kolo.

Apakah Sentra Sapi Wolo Kolo benar-benar akan menjadi tonggak kebangkitan peternakan Flores Timur, atau persoalan klasik soal kesiapan pakan kembali menjadi batu sandungan?

(MTN)

Berita Terkait

Mahasiswa Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang Raih Juara 1 dan 2 Lomba Nasional Cipta Media Kreasi Pembelajaran 2026
Direktur CV KPR Bantah Tuduhan Tambang Ilegal di Pantai Oenikan, Sebut Batu Warna Dibeli dari Warga
Yabes Nubatonis Desak Pemda TTS Serius Awasi Distribusi BBM Bersubsidi, Warga Pelosok Jangan Jadi Korban
Siap Bawa Perubahan, Clara Yunita Tefa Resmi Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027
Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa
Kejaksaan Diminta Segera Periksa Tim PHO dan BARAKAT, Usut Tuntas Pekerjaan HMT Big Push di Wulo Kolo
Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang
Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:56

Mahasiswa Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang Raih Juara 1 dan 2 Lomba Nasional Cipta Media Kreasi Pembelajaran 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:25

Direktur CV KPR Bantah Tuduhan Tambang Ilegal di Pantai Oenikan, Sebut Batu Warna Dibeli dari Warga

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:39

Yabes Nubatonis Desak Pemda TTS Serius Awasi Distribusi BBM Bersubsidi, Warga Pelosok Jangan Jadi Korban

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:53

Siap Bawa Perubahan, Clara Yunita Tefa Resmi Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:39

Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:41

Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:45

Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:24

Dosen IAKN Kupang Dorong Penyuluh Agama Kristen Hadir di Ruang Digital

Berita Terbaru