MANUFUI, METRO TIMORNEWS.ID — Antusiasme masyarakat mengikuti layanan pemeriksaan kesehatan terlihat dalam kegiatan tracing Tuberkulosis (TB) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Desa Manufui, Kecamatan Santian, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang dilaksanakan UPT Puskesmas Manufui pada Rabu, 16 September 2026, tersebut dipusatkan di Kantor Desa Manufui dan turut melibatkan masyarakat dari Desa Manufui serta Desa Naifatu.
Lebih dari 100 warga tercatat hadir untuk mengikuti pemeriksaan. Layanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan sekaligus mendorong deteksi dini terhadap TB dan sejumlah faktor risiko penyakit lainnya.
Koordinator Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Stefanus Rape Tupen, S.KM, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan pemeriksaan TB yang dilakukan pada sejumlah titik pelayanan di Kabupaten TTS.
“Secara keseluruhan, Timor Tengah Selatan mendapat alokasi dari pusat untuk 72 titik pelayanan. Hari ini kami berada di Kecamatan Santian, tepatnya di Desa Manufui, sedangkan besok kegiatan akan dilaksanakan di Desa Santai,” jelas Stefanus.
Ia menjelaskan, setiap titik pelayanan ditargetkan dapat menjangkau sekitar 100 orang. Pemeriksaan dilakukan antara lain melalui foto toraks atau rontgen sebagai salah satu metode pemeriksaan untuk mendukung deteksi dini dugaan TB.
Layanan pemeriksaan tersebut kemudian diintegrasikan dengan CKG. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan pemeriksaan terkait TB, tetapi juga dapat memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan lainnya sesuai dengan cakupan program.
“Dalam satu titik pelayanan, kami berharap sekitar 100 orang dapat melakukan foto toraks atau rontgen untuk mengetahui suspek TBC. Pemeriksaan ini kemudian diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis,” katanya.
Menurut Stefanus, CKG juga dapat membantu mengidentifikasi sejumlah kondisi kesehatan dan faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes. Pemeriksaan lain juga dapat mencakup deteksi dini terhadap sejumlah penyakit, termasuk kanker payudara dan kanker leher rahim, sesuai dengan layanan yang tersedia.
Antusiasme warga di Desa Manufui dan Naifatu membuat jumlah peserta yang hadir disebut telah melampaui sasaran awal.
Stefanus mengatakan kondisi tersebut menjadi hal positif dalam upaya memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan masyarakat. Namun, proses pemeriksaan tetap harus disesuaikan dengan kapasitas peralatan yang tersedia.
“Untuk hari ini, sasaran dari Desa Manufui dan Naifatu sudah berjumlah lebih dari 100 orang. Nantinya kami menyesuaikan dengan alat karena apabila alat terlalu panas, harus diistirahatkan terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelancaran kegiatan di tingkat desa membutuhkan dukungan dan koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, puskesmas hingga masyarakat.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten TTS berharap koordinasi tersebut terus diperkuat sehingga masyarakat yang telah mendapatkan informasi mengenai jadwal pemeriksaan dapat hadir dan memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan.
“Harapan kami, koordinasi lintas sektor di kecamatan dan desa tetap dibangun sehingga sasaran yang sudah diinformasikan oleh teman-teman dari puskesmas kepada desa dapat hadir untuk melaksanakan atau mengikuti layanan. Dengan demikian, layanan tersebut bisa terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis,” ungkapnya.
Tingginya kehadiran masyarakat dalam kegiatan tersebut juga tidak terlepas dari upaya petugas puskesmas dalam menyampaikan informasi kepada warga.
Penanggung Jawab Program TB UPT Puskesmas Manufui, Aristo D. Nenometa,S.Kep.Ns yang akrab disapa Ardi, turut aktif memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pelaksanaan kegiatan pemeriksaan tersebut.
Sosialisasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat dinilai penting agar warga mengetahui jadwal, lokasi serta layanan pemeriksaan yang tersedia sehingga dapat memanfaatkan kesempatan pemeriksaan kesehatan secara langsung.
Kegiatan di Desa Manufui sekaligus menunjukkan pentingnya pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat desa. Dengan akses pemeriksaan yang lebih dekat, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal dan memperoleh informasi kesehatan dari tenaga medis.
Melalui integrasi tracing TB dan CKG, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
TIM MTID








