KUPANG, METRO TIMORNEWS.ID — Kepedulian terhadap pendidikan yang ramah dan inklusif bagi siswa penyandang disabilitas terus mendapat perhatian dari sivitas akademika Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang. Salah satunya diwujudkan melalui hasil penelitian yang dikembangkan menjadi buku ajar berjudul “Wajah Allah Dalam Kelas.”
Buku tersebut diserahkan oleh tim penelitian IAKN Kupang kepada pihak SMPTK Sei pada Jumat, 18 September 2026. Penyerahan berlangsung di ruang Laboratorium Micro Teaching Kampus IAKN Kupang.
Buku Wajah Allah Dalam Kelas merupakan pengembangan dari hasil penelitian berjudul “Internalisasi Nilai Imago Dei untuk Meningkatkan Sikap Penerimaan Teman Sebaya bagi Siswa Disabilitas di SMPTK Sei.”
Buku ini ditulis oleh empat dosen IAKN Kupang, yakni Dr. Kristian E.Y.M. Afi, M.Pd.K., Nofriana Baun, M.Pd.K., Orista Mone, M.Pd., dan Norianti Pai Tiba, M.Pd., bersama mahasiswa Boas Tauho.
Karya tersebut tidak hanya menjadi luaran penelitian, tetapi juga diharapkan dapat menjadi buku pegangan bagi guru dalam memahami karakteristik, kebutuhan, serta strategi pendampingan siswa inklusif di lingkungan sekolah.
Kepala SMPTK Sei, Yesaya Boymau, S.Sos., Gr., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada tim penelitian IAKN Kupang yang telah memilih sekolah mereka sebagai lokasi penelitian.
Menurutnya, kehadiran buku tersebut memberikan manfaat nyata bagi para guru, terutama dalam menghadapi perkembangan jumlah siswa penyandang disabilitas di sekolah.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Tim Penelitian Tahun 2026 yang boleh memilih sekolah kami sebagai lokus penelitian dan menghasilkan buku pegangan bagi guru,” ujar Yesaya.
Ia mengakui bahwa selama ini jumlah anak penyandang disabilitas di SMPTK Sei terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman guru mengenai pendidikan inklusif.
“Jujur, selama ini anak-anak disabilitas di SMPTK Sei semakin bertambah setiap angkatan. Namun, kami sebagai guru belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak inklusif. Lewat buku ini, cakrawala berpikir kami dibuka untuk memahami trik dan strategi ketika menghadapi anak-anak inklusif,” ungkapnya.
Yesaya berharap buku Wajah Allah Dalam Kelas tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi benar-benar dimanfaatkan oleh para guru dalam proses pembelajaran dan pendampingan siswa di sekolah.
Menurutnya, pendidikan inklusif membutuhkan pemahaman, kesabaran, strategi, serta penerimaan yang sama terhadap setiap peserta didik tanpa membedakan kondisi dan kemampuan mereka.
Sementara itu, pengembangan hasil penelitian menjadi buku ajar menjadi langkah penting dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata di sekolah. Nilai Imago Dei atau manusia sebagai gambar dan rupa Allah menjadi landasan penting dalam membangun sikap penerimaan terhadap siswa penyandang disabilitas.
Melalui buku tersebut, para guru diharapkan tidak hanya melihat siswa disabilitas dari keterbatasannya, tetapi juga dari martabat, potensi, dan nilai kemanusiaan yang melekat dalam diri setiap peserta didik.
Penyerahan buku ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadilan, sehingga ruang kelas dapat menjadi tempat bagi setiap anak untuk belajar, bertumbuh, diterima, dan dihargai.
Buku “Wajah Allah Dalam Kelas” pun diharapkan menjadi jembatan antara hasil penelitian dan praktik pendidikan di lapangan agar semangat pendidikan inklusif tidak hanya menjadi gagasan di ruang akademik, tetapi hadir nyata di ruang-ruang kelas.
MARTIN MTID








