SOLOR TIMUR, METROTIMORNEWS.ID — Rekonstruksi sejumlah ruas jalan di Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat perhatian warga dan awak media. Pasalnya, pada salah satu ruas jalan yang baru selesai dikerjakan, ditemukan bagian aspal yang mulai mengalami keretakan.
Pantauan awak media di lapangan pada Rabu, 16 September 2026, menunjukkan adanya keretakan pada permukaan aspal di ruas SP Lewo–Lamawai–Watohari, Kecamatan Solor Timur.
Selain keretakan, kondisi permukaan aspal di sejumlah titik juga dinilai perlu mendapat perhatian, terutama terkait kepadatan dan ketebalan lapisan aspal.
Awak media juga tidak menemukan papan nama proyek di lokasi pekerjaan, sehingga informasi mengenai pelaksana, sumber anggaran, nilai kontrak, serta waktu pelaksanaan pekerjaan tidak terlihat secara langsung di lapangan.
Rekonstruksi jalan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan penanganan infrastruktur jalan di Pulau Solor. Dua titik yang dikerjakan yakni ruas SP Lewo–Lamawai–Watohari di Kecamatan Solor Timur dan ruas SP Otan–Lamawalang–Lewotanahole di Kecamatan Solor Barat.
Kehadiran pembangunan jalan tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun harus berhadapan dengan kondisi jalan rusak dan licin, terutama ketika musim hujan.
Pelaksana: Pekerjaan Sudah Selesai Sesuai Kontrak
Kepala Pelaksana CV Infinite Konstruksi, Stef Keyn, ketika dikonfirmasi awak media pada Kamis, 17 September 2026, mengatakan pekerjaan fisik telah selesai sesuai dengan kontrak.

“Kami berupaya memastikan kualitas jalan benar-benar terjaga, sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Stef.
Menanggapi temuan keretakan pada aspal, Stef menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh cuaca panas di wilayah Solor.
“Kalau memang teman-teman media menemukan ada keretakan aspal, itu karena cuaca sangat panas di Solor. Tetapi nanti kami akan perhatikan untuk diperbaiki dalam masa pemeliharaan,” katanya.
Anggaran Capai Miliaran Rupiah
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pekerjaan rekonstruksi pada ruas SP Lewo–Lamawai–Watohari menelan anggaran sekitar Rp1,089 miliar dengan panjang penanganan sekitar 670 meter.
Sementara ruas SP Otan–Lamawalang–Lewotanahole memiliki nilai pekerjaan sekitar Rp1,1 miliar dengan panjang penanganan sekitar 460 meter.
Kedua pekerjaan tersebut dilaksanakan selama 120 hari, mulai 8 Mei 2026 hingga 31 Agustus 2026, dengan aktivitas pekerjaan disebut masih berlangsung hingga awal September.
Dalam pengerjaannya, proyek tersebut menggunakan teknologi Hot Rolled Sheet-Base (HRS-Base) yang ditujukan untuk memperkuat struktur jalan dan meningkatkan daya tahan permukaan terhadap beban kendaraan.
Namun, hasil pekerjaan di ruas Lamawai kini menjadi sorotan setelah ditemukan keretakan pada permukaan aspal yang baru dikerjakan.
Baru Sebagian Kecil Ruas Jalan yang Tersentuh
Dari total panjang ruas SP Lewo–Lamawai–Watohari yang mencapai sekitar 6,7 kilometer, penanganan tahun ini baru mencakup sebagian kecil ruas jalan.
Sekitar 6,1 kilometer lainnya masih belum mendapatkan penanganan. Kondisi serupa juga terlihat di ruas Lewotanahole, di mana masih terdapat sekitar dua kilometer jalan yang belum masuk hingga ke kawasan kampung.
Sementara ruas Sulengwaseng–Otan juga masih membutuhkan perhatian karena kondisi jalannya belum sepenuhnya memadai.
Pantauan awak media pada 15 September 2026 menunjukkan aktivitas Urpil/pembersihan lokasi di sekitar ruas Sulengwaseng–Otan.
Menurut Stef Keyn, aktivitas tersebut masih berkaitan dengan persiapan pekerjaan lanjutan yang menunggu penanganan dari Dinas Pekerjaan Umum.
“Saat ini sudah mulai melakukan aktivitas dengan pembersihan lokasi,” jelasnya.
Warga Apresiasi, Namun Minta Kualitas Dijaga
Di tengah sorotan terhadap kondisi fisik jalan, masyarakat Desa Lamawai menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah atas pembangunan jalan yang telah lama dinantikan.
Seorang warga yang sehari-hari melintasi ruas tersebut mengatakan, masyarakat baru kembali merasakan jalan beraspal setelah penantian panjang sejak 1992.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah karena sejak tahun 1992, baru sekarang kami bisa merasakan aspal, walaupun baru sedikit. Hanya kami minta jaga kualitas, supaya kami bisa rasakan lama dan dipakai juga lama,” ungkapnya.
Menurut warga, keberadaan jalan yang lebih baik mulai memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama para petani yang mengangkut hasil kebun.
“Dulu angkut hasil kebun bisa makan waktu berjam-jam, sekarang jauh lebih lancar,” ucap warga tersebut.
Jalan yang layak diharapkan dapat membuka akses ekonomi baru, memperlancar perdagangan lokal, serta membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Pulau Solor.
Camat Dorong Intervensi Pemerintah Pusat
Camat Solor Timur, M. Natzir Hasan, S.IP, berharap pemerintah pusat dapat memberikan intervensi anggaran tambahan sehingga pembangunan infrastruktur jalan di Pulau Solor dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
“Kami berharap ada intervensi lagi dana dari pusat agar Solor benar-benar menikmati jalan yang benar-benar layak,” ujar Natzir.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak rekanan yang telah melaksanakan pekerjaan di wilayah tersebut.
“Kami apresiasi kepada rekanan yang sudah dengan sigap mau dan rela bekerja untuk Pulau Solor,” katanya.
Dengan masih panjangnya ruas jalan yang belum tertangani, pemerintah diharapkan dapat menyiapkan strategi lanjutan. Keterbatasan anggaran dan kondisi geografis kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat pembangunan infrastruktur jalan di wilayah Solor.
Masyarakat kini berharap pekerjaan yang telah selesai tidak hanya mengejar panjang ruas yang ditangani, tetapi juga memastikan kualitas konstruksi, ketebalan, kepadatan, serta daya tahan jalan benar-benar sesuai dengan ketentuan pekerjaan sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.
(*Tim)








