Oleh: Albert Baunsele
Guru di TTS
Kita hidup di era di mana anak SD pun sudah mahir bermain ponsel. Generasi muda saat ini tidak bisa lepas dari teknologi. Hampir semua aspek hidup kita ditempeli teknologi – mulai dari ponsel, media sosial, internet, hingga berbagai aplikasi digital. Cara kita belajar, bekerja, dan berkomunikasi telah berubah total karena kemajuan teknologi modern.
Kita menyebut mereka Generasi Melek Teknologi. Tapi di balik itu, ada ironi yang menyedihkan: banyak dari mereka yang justru menjadi Generasi Gaptek Budaya.
Gaptek Budaya. Gagap Teknologi? Bukan. Tapi gagap terhadap budayanya sendiri. Tidak kenal adat istiadatnya, tidak paham tradisi daerahnya, tidak bisa menyebutkan makna di balik pakaian adatnya, bahkan malu untuk menggunakan bahasa daerahnya sendiri.
Padahal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah bisa dikatakan gudang budaya terbesar di Indonesia. Setiap daerah punya nilai luhur, seni, adat istiadat, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Itu adalah harta yang tak ternilai, identitas kita sebagai bangsa. Jika warisan ini hilang, kita akan menjadi bangsa yang canggih secara teknologi, tapi kosong secara jati diri.
Persoalannya, pendidikan kita seringkali terlalu sibuk mengejar relevansi zaman sampai lupa menjaga akar. Kita sibuk mengajarkan anak cara menggunakan teknologi terbaru, tapi lupa mengajarkan dari mana mereka berasal.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Jawabannya bukan menolak teknologi, tapi mengawinkan teknologi dengan kearifan lokal. Mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kurikulum pendidikan, khususnya dalam Kurikulum Merdeka yang memberi ruang fleksibilitas itu.
Ada beberapa cara konkret yang bisa dilakukan:
1.Pembelajaran Berbasis Proyek Budaya.
Jangan hanya menyuruh murid menghafal nama pakaian adat. Suruh mereka merancangnya. Dalam pelajaran Seni Budaya, beri proyek membuat busana tradisional dengan motif khas Timor, Rote, atau Sabu. Biarkan mereka berkreasi dengan teknik dan filosofi lokal.
2.Jadikan Budaya Sebagai Laboratorium Kewirausahaan.
Dalam pelajaran kewirausahaan, ajak murid membedah masakan tradisional. Apa filosofinya? Bagaimana cara mengemas dan memasarkannya secara digital? Dari sepiring jagung bose atau sambal lu’at, mereka belajar bisnis sekaligus belajar menghargai warisan leluhur.
3.PKL di Usaha Lokal, Bukan Hanya di Industri Besar.
Untuk murid SMK, magang jangan hanya di pabrik atau perusahaan besar. Beri mereka kesempatan magang di usaha lokal yang melestarikan budaya – di sanggar tenun ikat, di kelompok pengrajin anyaman lontar, atau di UMKM kuliner tradisional. Di sana kompetensi kejuruan mereka akan bertemu langsung dengan realitas budaya.
4.Belajar Langsung dari Sumbernya.
Ajak murid kunjungan lapangan ke situs sejarah, pusat kebudayaan, atau kampung adat yang masih menjaga tradisinya. Belajar di luar kelas akan memberi pengalaman yang tidak akan mereka dapatkan dari layar ponsel.
5.Hadirkan Pelaku Budaya ke Sekolah.
Sekolah harus membuka pintu bagi pengrajin, pelaku usaha lokal, dan tokoh masyarakat untuk berbagi. Biarkan murid mendengar langsung dari mama penenun bagaimana sehelai kain dibuat dengan doa dan kesabaran berbulan-bulan.
Semua ini butuh kerja sama. Guru harus dibekali pelatihan agar mampu mengemas kearifan lokal secara menarik, tidak membosankan. Sekolah harus aktif membangun kemitraan dengan komunitas budaya.
Tujuannya satu: dengan memasukkan kearifan lokal ke dalam pendidikan, kita tidak hanya mencetak murid yang kompeten secara akademik, tetapi juga murid yang punya identitas budaya yang kuat.
Kita tidak ingin melahirkan generasi yang hebat mengoperasikan drone, tapi tidak tahu cara menghormati tamu menurut adatnya. Kita tidak ingin punya generasi yang viral di media sosial, tapi punah budayanya.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang paling melek teknologi, tapi paling buta terhadap budayanya sendiri.
Jangan sampai kita menjadi Generasi Gaptek Budaya di Era Digital.
Semoga Bermanfaat.








