YNS Jawab Doa Keluarga Kikhau, 8 Tahun Tinggal di Gubuk Tepi Pantai Bersama Tiga Anak

Selasa, 29 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

KOLBANO, METRO TIMORNEWS.ID – Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Namun, selama itulah Oscar Kikhau dan istrinya, Lodia Malkus, bersama tiga anak laki-laki mereka bertahan hidup di sebuah gubuk sederhana di tepi Pantai Kolbano, Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Gubuk beratapkan daun gewang dengan dinding yang berlubang menjadi tempat keluarga tersebut berlindung dari panas dan hujan. Keterbatasan tempat tinggal bahkan membuat ketiga anak mereka harus menumpang mandi di rumah Ketua RT sebelum berangkat ke sekolah.

Kondisi kehidupan keluarga yang berdomisili di RT 012/RW 006 itu akhirnya mendapat perhatian dari Yusinta Nenobahan, Founder Yayasan YNS. Ia bersama suaminya, Aldy Syarief, mendatangi langsung kediaman keluarga Kikhau pada Minggu, 27 September 2026.

Kunjungan tersebut bermula setelah seorang Ketua RT menyampaikan kondisi keluarga Oscar dan Lodia kepada Yusinta. Mendengar ada sebuah keluarga yang telah bertahun-tahun tinggal di gubuk di pinggir pantai bersama tiga anak yang masih bersekolah, Yusinta kemudian memutuskan untuk melihat kondisi mereka secara langsung.

Sesampainya di lokasi, Yusinta melihat sendiri kondisi tempat tinggal keluarga tersebut. Ia kemudian duduk bersama Oscar, Lodia, dan ketiga anak mereka untuk mendengarkan kisah kehidupan keluarga itu.

“Jadi kalian tidak punya rumah? Dan sudah berapa lama tinggal di sini?” tanya Yusinta.

Lodia kemudian menjawab bahwa keluarganya telah tinggal di gubuk tersebut selama delapan tahun.

“Sudah delapan tahun kami tinggal di sini dan kami tidak punya rumah,” jawab Lodia.

Di tengah keterbatasan, keluarga Kikhau sebenarnya terus berusaha untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Mereka sedang mencicil sebidang tanah milik seorang tokoh adat dengan ukuran sekitar 10 x 15 meter.

Namun, karena cicilan tanah tersebut belum lunas, keluarga ini belum mampu membangun rumah yang layak untuk tempat tinggal bersama ketiga anak mereka.

Kondisi tersebut membuat Yusinta tersentuh. Setelah mendengar cerita keluarga itu, ia menyampaikan niat untuk membantu mereka mendapatkan rumah yang lebih layak.

“Nanti saya bantu buatkan rumah untuk keluarga ini, karena kasihan. Di sini ada tiga anak sekolah dan juga ada anak yang sudah beranjak dewasa. Kasihan mereka tinggal di gubuk kecil ini dengan ayah dan ibu mereka,” ujar Yusinta dengan suara bergetar.

Janji tersebut sontak membawa harapan baru bagi keluarga Kikhau yang selama delapan tahun bertahan dalam keterbatasan.

Tidak hanya menawarkan bantuan tempat tinggal, Yusinta juga memberikan pesan khusus kepada ketiga anak keluarga Kikhau agar tidak menyerah pada keadaan.

Ia meminta mereka tetap bersemangat bersekolah, menghormati dan menyayangi kedua orang tua serta menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk mengubah kehidupan keluarga mereka di masa depan.

“Harus semangat dan sayang Mama dan Bapa. Kalian harus jadi orang, supaya nanti pulang ketika sudah besar, sudah bisa bantu Bapa dan Mama,” pesannya.

“Nanti Ibu bantu buatkan rumah buat kalian bertiga, karena ini berkat kalian yang Tuhan titip melalui Ibu,” lanjut Yusinta.

Menurut Yusinta, keterbatasan ekonomi dan kondisi tempat tinggal tidak boleh mematahkan semangat anak-anak untuk meraih masa depan.

“Kalian harus semangat, harus sayang orang tua, karena tidak semua anak di luar sana harus bertahan hidup seperti kalian,” katanya.

“Nanti Ibu buatkan rumah, supaya bisa belajar di rumah sendiri dan tidak numpang lagi di rumah Bapak RT,” sambungnya.

Yusinta juga memberikan apresiasi kepada Lodia yang selama bertahun-tahun tetap merawat dan mendampingi anak-anaknya dalam kondisi serba terbatas.

“Terima kasih ya, sudah merawat anak-anak dengan baik sehingga mereka tetap bersyukur punya orang tua seperti Ibu dan Bapa,” ucapnya.

Bagi Yusinta, ketiga anak tersebut merupakan bagian dari generasi bangsa yang berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup dan belajar dalam kondisi yang lebih layak.

“Mereka anak bangsa yang harus kita tolong. Apalagi dengan tempat tinggal, bahkan mandi saja harus numpang di Bapak RT, tetapi mereka masih tetap semangat untuk bersekolah,” ujarnya dengan suara bergetar.

Setelah mendengar langsung kondisi keluarga tersebut, Yusinta kemudian berkoordinasi dengan pemerintah setempat melalui Ketua RT untuk menindaklanjuti kebutuhan keluarga Oscar dan Lodia.

Ia meminta agar persoalan pelunasan cicilan tanah keluarga tersebut dengan pihak keluarga Sabuna dapat segera dikoordinasikan. Penyelesaian persoalan tanah menjadi salah satu langkah penting agar rencana pembangunan rumah layak bagi keluarga Kikhau dapat segera direalisasikan.

Bagi keluarga Kikhau, perhatian tersebut bukan sekadar bantuan. Setelah delapan tahun hidup dalam keterbatasan, janji untuk membantu menghadirkan sebuah rumah layak menjadi secercah harapan baru bagi mereka.

Dengan mata berkaca-kaca, Lodia menyampaikan terima kasih kepada Yusinta dan suaminya atas kepedulian yang diberikan kepada keluarganya.

Kisah keluarga Kikhau menjadi pengingat bahwa di balik indahnya Pantai Kolbano, masih ada keluarga yang berjuang keras mempertahankan kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Dan bagi mereka, sebuah rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat untuk pulang, belajar, bertumbuh, dan menata masa depan.

Berita Terkait

Siap Bawa Perubahan, Clara Yunita Tefa Resmi Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027
Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa
Kejaksaan Diminta Segera Periksa Tim PHO dan BARAKAT, Usut Tuntas Pekerjaan HMT Big Push di Wulo Kolo
Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang
Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia
Dosen IAKN Kupang Dorong Penyuluh Agama Kristen Hadir di Ruang Digital
Kejaksaan Jangan Menonton, Usut Dugaan Carut-Marut Pakan HMT Big Push Wulo Kolo
262 Guru di TTS Ikuti Pemetaan Kompetensi, Korwas: Saatnya Belajar Sepanjang Waktu

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:53

Siap Bawa Perubahan, Clara Yunita Tefa Resmi Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI Kupang 2026/2027

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:39

Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:43

Kejaksaan Diminta Segera Periksa Tim PHO dan BARAKAT, Usut Tuntas Pekerjaan HMT Big Push di Wulo Kolo

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:41

Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:45

Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:13

Kejaksaan Jangan Menonton, Usut Dugaan Carut-Marut Pakan HMT Big Push Wulo Kolo

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:11

262 Guru di TTS Ikuti Pemetaan Kompetensi, Korwas: Saatnya Belajar Sepanjang Waktu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:58

YNS Beauty Resmi Hadir di Kota Kupang, Tawarkan Beragam Perawatan Rambut

Berita Terbaru