KUPANG, METRO TIMORNEWS.ID – Usia muda bukan penghalang untuk meraih pendidikan hingga jenjang tertinggi. Pesan itu tercermin dari sosok Dr. Talita Tlonaen, S.Ag., M.Pd., yang berhasil meraih gelar doktor pada usia 29 tahun dalam momentum Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-X Tahun 2026 Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang. Sebanyak 349 lulusan IAKN Kupang resmi menyandang gelar akademik setelah dikukuhkan dalam prosesi wisuda yang berlangsung di Gedung GMIT Center, Jalan Frans Seda, Kelapa Lima, Kota Kupang, Selasa (29/9/2026).
Di antara ratusan wisudawan tersebut, perjalanan akademik Talita menjadi salah satu kisah yang menarik perhatian. Perempuan asal Desa Oeekam, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) itu berhasil menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Doktor Teologi di usia yang relatif muda. Bagi Talita, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang toga, gelar akademik, atau sebuah prosesi wisuda. Lebih dari itu, keberhasilannya menjadi momentum untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda, khususnya perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT), agar tidak takut bermimpi dan berani memperjuangkan pendidikan.
“Bersyukur dan bangga karena bisa menjadi inspirasi bagi anak muda masa kini,” ungkap Talita.
Talita mengungkapkan, keputusan melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor didorong oleh keinginannya untuk menjadi inspirasi bagi generasi muda. Ia juga ingin memberikan pesan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berkarya dan mencapai pendidikan setinggi mungkin.
“Motivasi terbesar saya adalah ingin menjadi inspirasi yang baik bagi anak muda masa kini dan ingin mematahkan budaya patriarki yang selalu menyudutkan kedudukan perempuan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ketertarikannya untuk melanjutkan studi doktor mulai tumbuh sejak 2023. Sejak saat itu, ia mulai memantapkan diri untuk menempuh pendidikan pada Program Studi Doktor Teologi. Perjalanan tersebut kemudian membawanya sampai pada momentum wisuda dan menyandang gelar doktor di usia 29 tahun. Perjalanan Talita menyelesaikan studi tidak terlepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan. Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan doktor, Talita juga tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai dosen di IAKN Kupang. Baginya, manajemen waktu menjadi kunci penting untuk menyelesaikan setiap tanggung jawab secara baik.
“Saya berusaha menjalankan semua tugas dan tanggung jawab dengan baik, sembari melakukan penelitian karena semuanya telah saya persiapkan dengan baik,” jelasnya.
Talita mengatakan, dukungan doa dan motivasi dari orang tua, keluarga, sahabat serta seluruh civitas akademika IAKN Kupang menjadi kekuatan penting selama menjalani proses pendidikan.
“Puji Tuhan semuanya berjalan dengan baik karena adanya dukungan doa dan motivasi yang luar biasa dari orang tua, keluarga, sahabat dan seluruh civitas akademika IAKN Kupang,” ujarnya.
Menariknya, di tengah berbagai tuntutan akademik dan pekerjaan, Talita mengaku tidak pernah memiliki keinginan untuk menyerah. Ia memilih terus percaya pada kemampuan diri sendiri dan meyakini bahwa Tuhan akan menuntun setiap proses yang dijalani.
“Saya tidak pernah ingin menyerah karena saya yakin dan percaya pada kemampuan diri saya dan saya yakin Tuhan akan menuntun saya untuk menyelesaikan studi,” tuturnya.
Menurut Talita, doa, komitmen dan semangat juang menjadi bagian penting yang membantunya menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Dalam pendidikan doktornya, Talita mengangkat disertasi berjudul:
“Dari Ritual ke Resiliensi; Analisis Kritis Spiritualitas Perempuan GMIT melalui Naketi, Nazar dan Puasa pada Klasis Amanuban Timur.”
Ia memilih tema tersebut karena berangkat dari realitas kehidupan perempuan di Amanuban Timur, terutama berkaitan dengan budaya patriarki dan ketidaksetaraan gender yang dialami perempuan dalam kehidupan rumah tangga.
Melalui penelitian tersebut, Talita berupaya melihat secara kritis pengalaman spiritualitas perempuan serta bagaimana nilai-nilai keagamaan dan praktik spiritual dapat menjadi bagian dari kekuatan perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan doktor, Talita tidak ingin pencapaiannya berhenti pada dirinya sendiri. Ia berharap keberhasilannya dapat menjadi dorongan bagi anak-anak muda NTT untuk berani melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, pendidikan S3 memang bukan perjalanan yang mudah. Namun, tantangan tersebut perlu dihadapi karena pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan dampak bagi masyarakat.
“Untuk anak-anak muda di NTT, studi S3 merupakan tantangan yang perlu dilalui karena sangat membantu dalam meningkatkan pendidikan di NTT dan terlebihnya membawa dampak besar bagi semua orang yang ada di sekitar kita,” katanya.
Talita juga berpesan agar setiap perjuangan pendidikan tetap menempatkan Tuhan sebagai sumber kekuatan.
“Utamakan Tuhan dalam segala upaya yang sedang diperjuangkan karena usaha yang benar selalu mendatangkan hasil yang memuaskan,” pesannya.
Bagi Talita, keberhasilan seseorang dalam pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan. Menurutnya, kecerdasan harus berjalan bersama disiplin, kerja keras dan keberanian untuk bermimpi.
“Tentu semuanya penting karena kecerdasan, disiplin, kerja keras dan keberanian selalu dibutuhkan dalam menjalani pendidikan di masa kini,” ujarnya.
Namun, ada hal yang menurutnya jauh lebih penting, yakni bagaimana pendidikan yang diperoleh dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Yang tidak kalah penting bagaimana kita mengenyam pendidikan dan mampu untuk mempraktikkan dalam kehidupan setiap hari dengan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjuangan,” tambahnya.
Kisah Talita menjadi salah satu warna dalam Wisuda Ke-X IAKN Kupang Tahun 2026. Di tengah 349 lulusan yang resmi menyandang gelar akademik, perjalanan perempuan berusia 29 tahun asal Oeekam, Amanuban Timur, tersebut membawa pesan bahwa usia bukan batas untuk bermimpi dan pendidikan bukan sekadar tentang gelar, tetapi tentang bagaimana ilmu dapat memberi dampak bagi kehidupan. Dari Oeekam, Amanuban Timur, Talita membawa sebuah pesan untuk generasi muda NTT: berani bermimpi, berani berjuang, jangan mudah menyerah, dan tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah.
MARTIN MTID








