Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa

Rabu, 7 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SOE, METRO TIMORNEWS.ID – Perubahan besar dalam dunia pendidikan tidak selalu lahir dari gedung sekolah yang megah atau fasilitas yang serba lengkap. Di pelosok Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, perubahan justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana, buku-buku yang dibaca bersama, permainan tradisional yang dijadikan media belajar, dan ketekunan seorang guru yang percaya bahwa setiap anak desa berhak memiliki mimpi besar. Sosok itu adalah Thomas Edison Kabu, guru matematika, pembimbing olimpiade, penulis, praktisi pendidikan, sekaligus pegiat literasi asal Kabupaten TTS.

Bagi Thomas, menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan rumus, lalu memberikan tugas kepada peserta didik. Ia ingin menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak. Matematika, menurutnya, tidak harus selalu hadir dalam bentuk angka, rumus, dan soal di atas kertas. Ilmu itu dapat ditemukan di sekitar kehidupan manusia dalam budaya, permainan tradisional, lingkungan, aktivitas masyarakat, hingga berbagai kebiasaan yang dijalani setiap hari.

Dari pemikiran itulah Thomas mengembangkan pembelajaran berbasis etnomatematika, yakni pendekatan yang menghubungkan konsep matematika dengan budaya dan kehidupan masyarakat. Di TBM Cendekiawan, misalnya, ia mengembangkan pembelajaran numerasi melalui permainan tradisional dan pendekatan budaya lokal. Tujuannya sederhana: membuat matematika lebih konkret, menyenangkan, sekaligus dekat dengan dunia anak. Kiprah tersebut kemudian mendapat perhatian media nasional melalui pemberitaan RRI pada 2026.

Perjalanan Thomas sebagai pendidik tidak dapat dipisahkan dari latar belakangnya sebagai anak desa. Ia menempuh pendidikan dasar di SD GMIT Putain 2, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Amanatun Utara dan SMA PGRI Mnelalete. Pendidikan tingginya ditempuh pada bidang Pendidikan Matematika di STKIP Soe.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Thomas memilih jalan sebagai pendidik. Sejak 2018, ia menjalani profesinya sebagai guru matematika di SMA PGRI Mnelalete. Di luar sekolah, ia juga mengembangkan bimbingan belajar matematika dan terlibat dalam pembinaan olimpiade matematika. Riwayat profesional yang dipublikasikannya juga mencatat pengalaman sebagai asisten dosen, pembimbing olimpiade, serta penggerak berbagai kegiatan literasi dan pendidikan. Bagi Thomas, pilihan menjadi guru bukan semata-mata persoalan pekerjaan.

Pendidikan adalah jalan pengabdian. Karena itu, aktivitasnya tidak berhenti ketika jam pelajaran di sekolah selesai. Ia mendirikan TBM Cendekiawan, sebuah ruang belajar masyarakat yang mengembangkan berbagai kegiatan, mulai dari literasi, menulis, numerasi, pembentukan karakter, komputer, hingga pembelajaran berbasis budaya lokal. Ruang tersebut dibangun dengan keyakinan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan integritas anak-anak.

Membangun Rumah Literasi di Desa

Semangat itu kemudian dibawa Thomas lebih jauh ke Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara.

Pada 2024, ia menginisiasi Rumah Literasi Thomas Edison dengan gagasan Gerakan Literasi Anak Desa Membangun Negeri. Rumah literasi tersebut hadir sebagai ruang belajar yang terbuka bagi anak-anak dan masyarakat desa. Ketika pertama kali diberitakan, rumah literasi itu telah melibatkan tujuh tenaga pengajar dari berbagai unsur masyarakat dan memiliki sekitar 20 warga belajar. Kehadirannya diarahkan untuk membangun, mengembangkan, sekaligus membudayakan literasi di tengah masyarakat desa. Apa yang dilakukan Thomas kemudian berkembang melampaui aktivitas komunitas. Gerakan tersebut mulai mendapat perhatian dari kalangan akademik.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Education For All Universitas Nusa Cendana pada 2025 secara khusus mengkaji strategi Rumah Literasi Thomas Edison dalam meningkatkan minat baca masyarakat Desa Lilo. Penelitian tersebut mencatat sejumlah strategi, antara lain sosialisasi aktif, penyediaan bahan bacaan sesuai kebutuhan anak, pendampingan membaca, serta kegiatan membaca dan menulis yang disesuaikan dengan konteks budaya masyarakat setempat. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa sebuah gerakan pendidikan yang bermula dari ruang sederhana di desa dapat berkembang menjadi praktik yang menarik perhatian dunia akademik.

Ketika Matematika Bertemu Literasi dan Budaya

Salah satu kekuatan Thomas adalah kemampuannya mempertemukan tiga bidang yang selama ini kerap dipandang terpisah: matematika, literasi, dan budaya. Ia menulis tentang etnomatematika dan mengembangkan sumber belajar yang mengangkat budaya masyarakat TTS. Salah satu karya yang tercatat dalam riwayat publikasinya adalah sumber belajar matematika berbasis etnomatematika pada materi bangun ruang prisma. Ia juga menulis mengenai integrasi etnomatematika dalam kurikulum sekolah berbasis budaya masyarakat TTS. Bagi Thomas, budaya bukan sekadar warisan yang harus dikenang.

Budaya adalah sumber belajar.

Permainan tradisional dapat menjadi media numerasi. Motif budaya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami geometri. Lingkungan sekitar dapat menjadi laboratorium matematika. Cerita rakyat dapat menjadi bahan literasi. Sementara kehidupan masyarakat dapat menjadi konteks pembelajaran. Cara pandang tersebut membuat proses belajar tidak terasa jauh dari kehidupan peserta didik. Anak-anak tidak hanya belajar tentang sesuatu yang ada di dalam buku, tetapi juga belajar memahami dunia yang berada di sekitar mereka.

Menanamkan Mimpi kepada Anak-Anak dari Pelosok

Perhatian Thomas juga tertuju pada anak-anak yang hidup di daerah dengan keterbatasan akses terhadap sumber belajar. Melalui berbagai kegiatan literasi dan pembelajaran, ia berusaha menanamkan satu pesan penting: tempat tinggal tidak boleh menjadi batas bagi cita-cita. Anak yang lahir di desa tetap berhak bermimpi menjadi guru, dokter, ilmuwan, penulis, atau bahkan pemimpin di masa depan. Dalam salah satu tulisannya pada 2026, Thomas menggambarkan perjalanan tersebut melalui kalimat sederhana, “Aku anak desa.”

Kalimat itu bukan sekadar identitas.

Desa baginya bukan simbol keterbatasan, melainkan titik awal untuk membangun mimpi, pengetahuan, dan karya. Di sinilah peran seorang guru menjadi lebih dari sekadar pengajar. Anak-anak membutuhkan buku dan ruang belajar, tetapi mereka juga membutuhkan seseorang yang percaya kepada mereka. Seseorang yang berani mengatakan bahwa mereka mampu, meskipun berasal dari tempat yang jauh dari pusat kota.

Guru yang Memilih untuk Bergerak

Kiprah Thomas Edison Kabu memperlihatkan wajah lain seorang guru. Ia mengajar di sekolah, membimbing peserta didik dalam matematika dan olimpiade, mengembangkan bimbingan belajar, menulis, menggerakkan taman bacaan, membangun rumah literasi, serta mengembangkan pembelajaran yang berakar pada budaya lokal. Dalam perjalanan tersebut, ia juga memperoleh sejumlah pengakuan dan menjalankan berbagai peran dalam gerakan literasi. Profil publiknya mencatat kiprahnya sebagai Guru Motivator Literasi Nasional 2021 dan Sosialisator Program Literasi Nasional 2022. Namun, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Ukuran keberhasilan seorang guru, bagi Thomas, justru dapat terlihat dari perubahan kecil yang terjadi pada anak-anak.

Ketika seorang anak yang sebelumnya enggan membaca mulai membuka buku. Ketika anak yang takut matematika mulai berani mencoba. Ketika seorang anak desa berani mengikuti kompetisi. Dan ketika sebuah ruang sederhana di desa berubah menjadi tempat anak-anak menemukan keberanian untuk bermimpi. Di titik itulah pendidikan menemukan maknanya.

Dari TTS untuk Indonesia

Kisah Thomas Edison Kabu menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak selalu harus menunggu fasilitas lengkap atau kondisi yang sempurna. Perubahan dapat dimulai dari sebuah ruang kelas. Dari sebuah buku. Dari permainan tradisional. Dari sebuah rumah yang disulap menjadi ruang belajar. Dan dari seorang guru yang memilih untuk bergerak.

Dari ruang kelas di Mnelalete, TBM Cendekiawan, hingga Rumah Literasi di Desa Lilo, Thomas terus membawa satu gagasan bahwa pendidikan harus dekat dengan anak, dekat dengan budaya, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia tidak sedang mengajak anak-anak desa meninggalkan identitas mereka.

Sebaliknya, ia ingin menunjukkan bahwa dari budaya sendiri anak-anak dapat belajar, dari desa sendiri mereka dapat bermimpi, dan dari tanah kelahiran sendiri mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang mampu berdiri di panggung yang lebih luas.Thomas Edison Kabu adalah cerita tentang seorang guru yang memilih untuk tidak hanya mengajar di depan kelas. Ia memilih menyalakan cahaya di luar kelas.

Dari TTS, pesannya sederhana tetapi kuat:

pendidikan tidak harus menunggu keadaan menjadi sempurna untuk dimulai. Kadang-kadang, pendidikan dimulai dari seorang guru, sebuah buku, sebuah ruang sederhana, dan keberanian untuk percaya bahwa anak-anak desa juga mampu mengubah masa depan.

MARTIN MTID

Berita Terkait

Kejaksaan Diminta Segera Periksa Tim PHO dan BARAKAT, Usut Tuntas Pekerjaan HMT Big Push di Wulo Kolo
Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang
Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia
Dosen IAKN Kupang Dorong Penyuluh Agama Kristen Hadir di Ruang Digital
Kejaksaan Jangan Menonton, Usut Dugaan Carut-Marut Pakan HMT Big Push Wulo Kolo
262 Guru di TTS Ikuti Pemetaan Kompetensi, Korwas: Saatnya Belajar Sepanjang Waktu
YNS Beauty Resmi Hadir di Kota Kupang, Tawarkan Beragam Perawatan Rambut
Usia 29 Tahun, Talita Tlonaen Raih Gelar Doktor di Wisuda Ke-X IAKN Kupang

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:39

Guru Muda dari TTS yang Menyalakan Cahaya Pendidikan dari Desa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:43

Kejaksaan Diminta Segera Periksa Tim PHO dan BARAKAT, Usut Tuntas Pekerjaan HMT Big Push di Wulo Kolo

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:41

Luar Biasa! SMAN 1 Soe Juara 1 Antar SMA/SMK di Kupang

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:45

Dosen IAKN Kupang Jadi Interpreter di Konferensi Internasional, Jembatani Gagasan Akademisi Dunia

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:24

Dosen IAKN Kupang Dorong Penyuluh Agama Kristen Hadir di Ruang Digital

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:11

262 Guru di TTS Ikuti Pemetaan Kompetensi, Korwas: Saatnya Belajar Sepanjang Waktu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:58

YNS Beauty Resmi Hadir di Kota Kupang, Tawarkan Beragam Perawatan Rambut

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:51

Usia 29 Tahun, Talita Tlonaen Raih Gelar Doktor di Wisuda Ke-X IAKN Kupang

Berita Terbaru