BA’A,METROTIMORNEWS.ID- Pagi itu Kamis (16/10/2025), mentari belum tinggi, tapi cahaya hangatnya sudah menari-nari di atas permukaan Selat Loekeli.
Air laut tenang, seakan tahu bahwa ia sedang menjadi jalan bagi sebuah perjalanan yang bukan sekadar lintas pulau, melainkan lintas hati.
Dari Pelabuhan Rakyat Nemberala, perahu motor sederhana bernama Enam Putri perlahan meninggalkan daratan.
Di atasnya, berdiri sosok yang sudah lama dirindukan oleh pulau seberang, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.
Bersama rombongan imam dan umat, sang Uskup melintasi laut membawa bukan hanya tubuhnya, tapi juga harapan, cinta kasih dan doa yang telah dirajut sejak lama oleh warga Pulau Ndao.
Saat perahu itu akhirnya bersandar di dermaga kecil Pulau Ndao, langit seolah ikut bersukacita. Tak hanya umat Katolik, masyarakat lintas agama pun telah berkumpul, menanti dengan pakaian adat dan hati terbuka.
Dua lelaki memikul sang Uskup turun dari perahu. Ia disambut dengan tradisi khas Rote, dikenakan topi kebanggaan Ti’i Langga dan diselimuti kain adat yang hangat, bukan hanya di badan, tapi juga di jiwa.
“Ini bukan kunjungan biasa. Ini adalah pelukan kasih seorang bapa kepada anak-anaknya,” ujar Dikson Arwadi Yami, Sekretaris Desa Ndao Nuse penuh bangga.
Ia mengisahkan, terakhir kali seorang Uskup menginjakkan kaki di tanah Ndao adalah tahun 1995, saat Mgr. Gregorius Monteiro datang melayani umat.
Di balik jarak dan keterbatasan, warga Ndao tetap setia menjaga nyala iman. Mereka membangun Kapela Santo Petrus dengan tangan sendiri, mengajarkan doa kepada anak-anak mereka dan tetap berdiri teguh dalam harapan.
Bagi Dikson, kunjungan Mgr. Hironimus kali ini menjadi peneguhan bahwa Gereja tidak pernah benar-benar jauh. Bahwa kasih Tuhan menjangkau hingga ke titik-titik terluar.
Ia menyampaikan bahwa laut yang dipandang banyak orang sebagai pembatas, hari itu justru menjadi jembatan kasih.
“Cinta kasih Tuhan itu seperti laut, luas dan dalam, tak pernah memilih pantai mana yang ingin Ia sentuh. Hari ini, kasih itu berlabuh di sini, di Ndao, di hati kami semua,” ucap Dikson.
Lebih dari Sebuah Perjalanan
Bagi sebagian orang, perjalanan ke Ndao mungkin hanya sekadar penyeberangan laut singkat.
Tapi bagi umat di pulau ini, ini adalah jawaban dari doa selama tiga dekade. Sebuah kunjungan yang memeluk mereka dalam hangatnya perhatian Gereja. Sebuah tanda bahwa mereka tidak dilupakan.
Dikson mengaku, Pulau Ndao hari ini bernyanyi dalam syukur. Ia menari dalam damai. Dan di dalam tiap dada, menyala api baru yang diyakini tak akan padam karena telah diberkati, didatangi dan dicintai.
“Di antara laut dan langit, di bawah sinar mentari dan pelukan angin, cinta kasih telah menemukan jalannya ke pulau kecil ini. Dan di Ndao, kasih Bapak Uskup tidak hanya singgah, ia tinggal,” ungkapnya.
(**)








