Kupang, Metrotimornews.id — Dari Desa Enoneontes di ujung Timur Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tampil sosok perempuan muda yang kini menyita perhatian banyak kalangan karena dedikasi dan kecintaannya terhadap budaya. Ia adalah Kori Faot, mahasiswa Semester 5 Jurusan Guru Pendidikan Agama Kristen di IAKN Kupang, yang dikenal sebagai pelantun Natoni, penenun muda, pekerja keras, dan mahasiswa berprestasi.

Kepada Metrotimornews.id, Rabu, 10 Desember 2025, Kori berbagi kisah di sela kesibukannya sebagai mahasiswi sekaligus pekerja.
Di balik senyum lembutnya, tersimpan tekad kuat yang jarang dimiliki anak seusianya. Terlahir dari keluarga sederhana—ayah seorang petani dan ibu seorang ibu rumah tangga—Kori sejak kecil memahami bahwa pendidikan adalah jalan pembuka masa depan. Namun lebih dari itu, ia memilih untuk tidak menyerah pada keterbatasan.
Empat Peran, Satu keterbatasan
Selain sebagai mahasiswa, Kori bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), aktif sebagai penenun, dan kerap dipercaya membawakan Natoni di berbagai acara adat.
“Saya memilih pekerjaan ini karena dua alasan utama: kebutuhan ekonomi dan cinta budaya,” ujarnya.
Bekerja sebagai ART membantunya bertahan sebagai mahasiswa rantau tanpa membebani orang tua. Sementara menenun dan Natoni menjadi napas hidupnya—identitas Atoin Meto yang ia bawa ke mana pun melangkah.
“Pekerjaan tradisional dan budaya bukan penghalang untuk kuliah. Justru itu sumber kekuatan dan inspirasi,” tegasnya.
Disiplin Waktu yang Menggerakkan
Meski kesibukan berlapis-lapis, Kori tetap menempatkan kuliah sebagai prioritas utama. Ia mengerjakan tugas kampus di sela perkuliahan atau malam hari, bekerja sebagai ART pagi hari atau akhir pekan, menenun di waktu luang, dan mengatur jadwal Natoni agar tidak berbenturan dengan kegiatan akademik.
“Kalau jadwal jelas dan komunikasinya baik, semua bisa jalan,” tuturnya.
Komunikasi dengan dosen, majikan, dan pihak yang mengundangnya tampil menjadi kunci keseimbangan perannya.
Natoni: Suara Leluhur di Zaman Kini
Bagi masyarakat Atoin Meto, Natoni merupakan seni tutur sarat makna. Bagi Kori, Natoni bukan sekadar keterampilan, melainkan bentuk tanggung jawab budaya.
“Natoni itu tanggung jawab. Lewat Natoni saya menjaga nilai leluhur tetap hidup,” katanya.
Setiap kalimat adat yang ia lantunkan menjadi penghormatan bagi para leluhur sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan kearifan tradisional.

Natoni Sambut Uskup Agung Kupang: Momen yang Tak Terlupakan
Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Kori terjadi ketika ia dipercaya tampil dalam acara syukuran ulang tahun THS–THM di Paroki Familis Sikumana—acara besar yang dihadiri langsung oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang.
Di panggung sederhana itu, Kori memadukan bahasa adat Atoin Meto dengan pesan etika dan persaudaraan. Penampilannya disambut tepuk tangan meriah, bahkan mendapat apresiasi khusus dari Uskup Agung. Seorang Romo kemudian mendekatinya, memuji penampilannya, dan memotivasinya untuk terus melestarikan Natoni tanpa mengabaikan pendidikan.
“Momen itu membuka mata saya bahwa budaya adalah media diplomasi dan pemersatu,” kenangnya.
Mimpi Besar untuk Negeri
Kori tak ingin berhenti pada prestasi pribadi. Ia menyimpan mimpi besar untuk membangkitkan kecintaan generasi muda terhadap budaya. Beberapa cita-citanya antara lain:
Membentuk komunitas penenun dan pelantun Natoni bagi pemuda
Mendokumentasikan sastra lisan Natoni dalam bentuk buku atau video
Mengembangkan pelayanan gereja yang berbasis budaya lokal
“Pendidikan dan budaya harus berjalan beriringan. Dari situ kita bisa membangun identitas yang kuat,” jelasnya.
Sosok Inspiratif dari Tanah Amanuban
Kisah Kori Faot adalah potret perempuan muda yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga bekerja keras untuk mewujudkannya. Ia menjaga budaya leluhur sambil menapaki masa depan yang ia bangun sendiri. Ia membuktikan bahwa identitas budaya bukan beban, tetapi kekuatan. Bahwa tradisi bukan penghalang, melainkan cahaya yang menerangi jalan generasi mendatang.
Dari Desa Enoneontes, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, Kori membawa harapan. Dari Kupang, ia menanam mimpi. Dan melalui setiap Natoni yang ia lantunkan, budaya Atoin Meto terus hidup dan diwariskan.
(Fagan)








