Kori Faot: Perempuan Enoneontes Penyambut Uskup dengan Natoni

Rabu, 10 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, Metrotimornews.id — Dari Desa Enoneontes di ujung Timur Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tampil sosok perempuan muda yang kini menyita perhatian banyak kalangan karena dedikasi dan kecintaannya terhadap budaya. Ia adalah Kori Faot, mahasiswa Semester 5 Jurusan Guru Pendidikan Agama Kristen di IAKN Kupang, yang dikenal sebagai pelantun Natoni, penenun muda, pekerja keras, dan mahasiswa berprestasi.

Kepada Metrotimornews.id, Rabu, 10 Desember 2025, Kori berbagi kisah di sela kesibukannya sebagai mahasiswi sekaligus pekerja.

Di balik senyum lembutnya, tersimpan tekad kuat yang jarang dimiliki anak seusianya. Terlahir dari keluarga sederhana—ayah seorang petani dan ibu seorang ibu rumah tangga—Kori sejak kecil memahami bahwa pendidikan adalah jalan pembuka masa depan. Namun lebih dari itu, ia memilih untuk tidak menyerah pada keterbatasan.

Empat Peran, Satu keterbatasan

Selain sebagai mahasiswa, Kori bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), aktif sebagai penenun, dan kerap dipercaya membawakan Natoni di berbagai acara adat.

“Saya memilih pekerjaan ini karena dua alasan utama: kebutuhan ekonomi dan cinta budaya,” ujarnya.

Bekerja sebagai ART membantunya bertahan sebagai mahasiswa rantau tanpa membebani orang tua. Sementara menenun dan Natoni menjadi napas hidupnya—identitas Atoin Meto yang ia bawa ke mana pun melangkah.

“Pekerjaan tradisional dan budaya bukan penghalang untuk kuliah. Justru itu sumber kekuatan dan inspirasi,” tegasnya.

Disiplin Waktu yang Menggerakkan

Meski kesibukan berlapis-lapis, Kori tetap menempatkan kuliah sebagai prioritas utama. Ia mengerjakan tugas kampus di sela perkuliahan atau malam hari, bekerja sebagai ART pagi hari atau akhir pekan, menenun di waktu luang, dan mengatur jadwal Natoni agar tidak berbenturan dengan kegiatan akademik.

“Kalau jadwal jelas dan komunikasinya baik, semua bisa jalan,” tuturnya.
Komunikasi dengan dosen, majikan, dan pihak yang mengundangnya tampil menjadi kunci keseimbangan perannya.

Natoni: Suara Leluhur di Zaman Kini

Bagi masyarakat Atoin Meto, Natoni merupakan seni tutur sarat makna. Bagi Kori, Natoni bukan sekadar keterampilan, melainkan bentuk tanggung jawab budaya.
“Natoni itu tanggung jawab. Lewat Natoni saya menjaga nilai leluhur tetap hidup,” katanya.
Setiap kalimat adat yang ia lantunkan menjadi penghormatan bagi para leluhur sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan kearifan tradisional.

Natoni Sambut Uskup Agung Kupang: Momen yang Tak Terlupakan

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Kori terjadi ketika ia dipercaya tampil dalam acara syukuran ulang tahun THS–THM di Paroki Familis Sikumana—acara besar yang dihadiri langsung oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang.

Di panggung sederhana itu, Kori memadukan bahasa adat Atoin Meto dengan pesan etika dan persaudaraan. Penampilannya disambut tepuk tangan meriah, bahkan mendapat apresiasi khusus dari Uskup Agung. Seorang Romo kemudian mendekatinya, memuji penampilannya, dan memotivasinya untuk terus melestarikan Natoni tanpa mengabaikan pendidikan.

“Momen itu membuka mata saya bahwa budaya adalah media diplomasi dan pemersatu,” kenangnya.

Mimpi Besar untuk Negeri
Kori tak ingin berhenti pada prestasi pribadi. Ia menyimpan mimpi besar untuk membangkitkan kecintaan generasi muda terhadap budaya. Beberapa cita-citanya antara lain:

Membentuk komunitas penenun dan pelantun Natoni bagi pemuda
Mendokumentasikan sastra lisan Natoni dalam bentuk buku atau video
Mengembangkan pelayanan gereja yang berbasis budaya lokal
“Pendidikan dan budaya harus berjalan beriringan. Dari situ kita bisa membangun identitas yang kuat,” jelasnya.

Sosok Inspiratif dari Tanah Amanuban

Kisah Kori Faot adalah potret perempuan muda yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga bekerja keras untuk mewujudkannya. Ia menjaga budaya leluhur sambil menapaki masa depan yang ia bangun sendiri. Ia membuktikan bahwa identitas budaya bukan beban, tetapi kekuatan. Bahwa tradisi bukan penghalang, melainkan cahaya yang menerangi jalan generasi mendatang.

Dari Desa Enoneontes, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, Kori membawa harapan. Dari Kupang, ia menanam mimpi. Dan melalui setiap Natoni yang ia lantunkan, budaya Atoin Meto terus hidup dan diwariskan.

(Fagan)

Berita Terkait

Dobrak Standar Bintang Lima, NIHI Rote Padukan Kemewahan dan Misi Sosial
Jadwal Wings Air Kupang–Larantuka Dibatalkan, Erupsi Dua Gunung Api Ganggu Penerbangan
Pemkab Rote Ndao Sambut 149 Mahasiswa KKN IAKN Kupang, Perkuat Kolaborasi Membangun Masyarakat dari Desa
DPRD Soroti Program 700 Sapi Rp7,7 Miliar, BUMD dan Pakan Belum Siap
348 Calon Berebut Tiket ke Tingkat Pusat, Pangdam Kasuari Tegaskan Seleksi TNI AD Harus Bersih dan Profesional
33 Mahasiswa KKN IAKN Kupang Resmi Mengabdi di Empat Desa Rote Barat
Sat Resnarkoba Gandeng SMA Andaluri, Edukasi Bahaya Narkoba
300 Penunggang Meriahkan Festival Hus Nde’o, Budaya Rote Ndao Memukau Ribuan Pengunjung

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:45

Dobrak Standar Bintang Lima, NIHI Rote Padukan Kemewahan dan Misi Sosial

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:07

Jadwal Wings Air Kupang–Larantuka Dibatalkan, Erupsi Dua Gunung Api Ganggu Penerbangan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:58

Pemkab Rote Ndao Sambut 149 Mahasiswa KKN IAKN Kupang, Perkuat Kolaborasi Membangun Masyarakat dari Desa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:33

DPRD Soroti Program 700 Sapi Rp7,7 Miliar, BUMD dan Pakan Belum Siap

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:53

33 Mahasiswa KKN IAKN Kupang Resmi Mengabdi di Empat Desa Rote Barat

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:04

Sat Resnarkoba Gandeng SMA Andaluri, Edukasi Bahaya Narkoba

Jumat, 10 Juli 2026 - 11:12

300 Penunggang Meriahkan Festival Hus Nde’o, Budaya Rote Ndao Memukau Ribuan Pengunjung

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:30

Mengabdi di Beranda Selatan NKRI, 33 Mahasiswa KKN IAKN Kupang Disambut Hangat Pemerintah Desa Rote Barat

Berita Terbaru