KABUPATEN KUPANG, METRO TIMORNEWS.ID — Inovasi dalam dunia pendidikan kembali ditunjukkan oleh mahasiswa Semester 4 Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang. Dalam rangka pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah PAK Pemuda, mereka menggelar seminar pemuda yang inspiratif di GMIT Betel Uel Naibonat, Minggu (26/04/2026).
Mengangkat tema “Hidup Berintegritas dan Berperan Aktif: Menjadi Pemuda Kristen yang Berdampak di Tengah Tekanan Zaman,” kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ujian tidak selalu identik dengan ruang kelas dan lembar jawaban. Sebaliknya, mahasiswa diajak terjun langsung ke tengah jemaat, menghadirkan edukasi, inspirasi, sekaligus pelayanan yang menyentuh kehidupan nyata.
Seminar ini dibuka secara resmi oleh Gembala Jemaat GMIT Betel Uel, Pdt. Leonard Duil, M.Pd., dan dilanjutkan dengan sambutan dari dosen pengasuh mata kuliah, Adriana Indra Santi Sole, M.Pd.K. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik ini bertujuan membentuk mahasiswa yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga siap melayani dengan hati.
Materi utama disampaikan oleh Ordiana Martha Pays yang mengupas secara mendalam tentang integritas Kristen dalam tiga dimensi: di hadapan Allah, diri sendiri, dan sesama. Berangkat dari Roma 12:2, peserta diajak merefleksikan tantangan nyata yang dihadapi pemuda masa kini, seperti tekanan pergaulan, relativisme moral, serta derasnya arus media sosial.
Pemaparan materi semakin hidup dengan contoh tokoh-tokoh Alkitab seperti Yusuf, Daniel, dan Nehemia—figur-figur yang tetap teguh dalam iman meski berada di bawah tekanan besar. Hal ini memberikan gambaran konkret bahwa integritas bukan sekadar konsep, melainkan pilihan hidup yang harus diperjuangkan.
Suasana seminar semakin dinamis saat sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Senia Enjelika Oematan. Para pemuda jemaat dengan antusias mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta menyampaikan pergumulan mereka. Interaksi yang hangat ini menjadikan seminar bukan hanya sebagai forum belajar, tetapi juga ruang refleksi yang jujur dan membangun.
Dalam pernyataannya, Adriana Indra Santi Sole menegaskan,
“Integritas bukan hanya topik seminar, tetapi harus menjadi gaya hidup. Kehadiran mahasiswa di sini adalah wujud nyata panggilan pelayanan, bukan sekadar kewajiban akademik.”
Sementara itu, Pdt. Leonard Duil juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia mengajak pemuda untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi menjadi terang bagi sesama.
“Jadilah terang, bukan sekadar bersinar untuk diri sendiri. Dunia membutuhkan pemuda yang berani hidup berbeda dan membawa dampak,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan ibadah singkat, makan malam bersama, serta penyampaian pesan dan kesan dari berbagai pihak, termasuk ketua panitia Febrianti Nenosaet. Penyerahan cenderamata kepada pihak jemaat menjadi simbol kebersamaan dan kolaborasi yang terjalin antara kampus dan gereja.
Seminar ini meninggalkan kesan mendalam, tidak hanya bagi jemaat tetapi juga bagi mahasiswa yang terlibat. Mereka belajar bahwa pelayanan bukan sekadar teori, melainkan pengalaman nyata yang menguji keberanian, empati, dan iman.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa proses belajar yang bermakna terjadi ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan tindakan nyata. Seperti tertulis dalam Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” para mahasiswa membuktikan bahwa dengan iman dan komitmen, mereka mampu menjadi agen perubahan di tengah generasi muda.
Seminar ini bukan sekadar UTS, melainkan langkah kecil dengan dampak besar menuju pemuda Kristen yang berintegritas dan siap menjawab tantangan zaman.
Reporter: Martin Knaufmone








