Setiap kali sebuah kasus kekerasan yang merenggut nyawa seseorang, perhatian publik hampir selalu tertuju pada pelaku, motif, dan proses hukum yang akan dijalani. Namun, ada korban lain yang sering luput dari pemberitaan, yakni anak-anak yang harus kehilangan sosok ayah secara mendadak akibat peristiwa tersebut.
Dalam proses tumbuh kembangnya, ayah dan ibu bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik untuk perkembangan anak, tetapi juga menjadi sumber rasa aman, tempat berbagi cerita, serta tempat ternyaman untuk membangun kepercayaan diri ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Menurut saya, inilah sisi yang paling sering diabaikan dalam setiap kasus kekerasan. Kita terlalu sibuk mencari siapa yang bersalah, tetapi sering lupa bertanya siapa yang akan menemani seorang anak menghadapi kehilangan tersebut.

Kasus penganiayaan yang menewaskan Sumarna (40), seorang petugas satuan pengamanan (satpam) di kawasan Objek Vital Nasional Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kembali mengingatkan kita bahwa dampak kekerasan tidak berhenti pada hilangnya nyawa korban. Di balik peristiwa tersebut, terdapat keluarga yang harus menghadapi kehilangan, termasuk anak-anak yang berpotensi mengalami luka psikologis akibat kehilangan figur ayah secara mendadak.
Sayangnya, perhatian publik umumnya lebih terfokus pada kronologi kejadian, motif pelaku, dan proses penegakan hukum, sementara kondisi kesehatan mental anak yang ditinggalkan seringkali luput dari pembahasan.
Mengapa kehilangan ayah akibat kekerasan dapat meninggalkan dampak yang begitu besar bagi seorang anak?
Jika kita melihat dari perspektif psikologi perkembangan, tragedi ini juga mendapat perhatian yang tidak kalah penting, yaitu kondisi kesehatan mental anak yang kehilangan figur kelekatan (attachment figure) secara mendadak.
Menurut John Bowlby, hubungan emosional antara anak dan orang tua merupakan fondasi utama terbentuknya rasa aman. Ketika hubungan tersebut terputus secara tiba-tiba melalui peristiwa yang penuh kekerasan, anak berpotensi mengalami gangguan pada rasa aman, munculnya kecemasan, kesulitan mempercayai lingkungan, hingga perubahan perilaku yang dapat memengaruhi proses perkembangannya.
Dalam kasus seperti ini, seorang anak tidak hanya kehilangan ayahnya, tetapi juga kehilangan rasa aman melalui pengalaman yang penuh kekerasan.
Psikologi menyebut kondisi tersebut sebagai traumatic bereavement, yaitu ketika proses berduka bercampur dengan pengalaman traumatis sehingga anak lebih rentan mengalami gangguan emosi dibandingkan kehilangan yang terjadi secara alamiah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehilangan salah satu orang tua akibat peristiwa traumatis meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, PTSD, serta kesulitan penyesuaian sosial pada anak apabila tidak memperoleh pendampingan psikologis yang memadai.
Karena itu, pemulihan anak tidak cukup dilakukan dengan memberikan bantuan sosial semata. Anak memerlukan intervensi psikologis yang membantu mereka mengolah pengalaman traumatis tersebut.
Salah satu pendekatan yang telah terbukti efektif adalah Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT), yang dikembangkan oleh Cohen, Mannarino, dan Deblinger. Pendekatan ini membantu anak mengenali dan mengelola emosi, mengurangi ketakutan serta ingatan traumatis, membangun kembali rasa aman, dan memperkuat dukungan dari orang tua atau pengasuh yang masih ada.
Dengan demikian, pemulihan anak tidak hanya berorientasi pada penyembuhan luka emosional, tetapi juga pada penguatan resiliensi agar ia mampu melanjutkan proses tumbuh kembang secara sehat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara dalam menangani kasus kekerasan bukan hanya terletak pada beratnya hukuman bagi pelaku, tetapi juga pada kemampuannya memastikan bahwa anak-anak yang ditinggalkan tidak kehilangan masa depan. Sebab, ketika kekerasan merenggut seorang ayah atau ibu, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya satu nyawa, melainkan juga kesehatan mental generasi yang akan tumbuh setelahnya.
Penulis: Agung Daniel Fhilipino Kase Lie (Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga)








