Angka di dalam sistem boleh berubah. Tetapi kenyataan hidup masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak selalu berubah secepat itu.
Di tengah pembaruan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), persoalan status desil kesejahteraan mulai menjadi perhatian masyarakat.
Sebagian warga mengaku heran ketika posisi desil mereka berubah, bahkan meningkat, sementara kondisi ekonomi keluarga sehari-hari masih berjalan seperti biasa.
Penghasilan tetap pas-pasan. Pekerjaan belum tentu ada setiap hari. Hasil kebun menunggu musim hujan. Nelayan bergantung pada cuaca. Peternak masih harus memikirkan pakan dan harga jual ternak.
Namun, ketika data menunjukkan kondisi yang berbeda, muncul kekhawatiran baru.
Apakah perubahan desil bisa membuat keluarga kehilangan akses terhadap bantuan sosial atau subsidi yang selama ini mereka andalkan?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting di daerah seperti NTT, yang karakter ekonominya sangat beragam dan sebagian besar masyarakatnya masih bergantung pada sektor informal, pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.
Di NTT, Pendapatan Tidak Selalu Datang Setiap Bulan
Membaca kondisi ekonomi masyarakat NTT memang tidak selalu sederhana.
Di sebuah desa, misalnya, sebuah keluarga bisa memiliki beberapa ekor sapi atau kambing. Tetapi bukan berarti setiap bulan keluarga tersebut memiliki uang tunai yang cukup.
Sapi bisa menjadi tabungan keluarga.
Hasil kebun juga demikian. Jagung, padi, kelapa, jambu mete atau komoditas lainnya baru menghasilkan ketika musim panen tiba.
Begitu pula nelayan.
Hari ini bisa mendapatkan ikan cukup banyak. Besok belum tentu. Kondisi cuaca, musim dan harga ikan ikut menentukan pendapatan.
Karena itu, kepemilikan aset atau kondisi tertentu belum tentu menggambarkan kemampuan sebuah keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Inilah salah satu alasan mengapa akurasi data sosial ekonomi menjadi sangat penting.
Ketika Desil Naik, Warga Mulai Bertanya
Perubahan status desil tentu membuat masyarakat bertanya-tanya.
Apalagi jika keluarga tersebut merasa tidak mengalami perubahan ekonomi yang berarti.
Di sejumlah wilayah NTT, bantuan sosial bukan sekadar tambahan pendapatan.
Bagi keluarga tertentu, bantuan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan anak, listrik maupun kebutuhan rumah tangga lainnya.
Karena itu, perubahan status dalam data pemerintah perlu dipahami dengan baik.
Jika data tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, masyarakat memiliki ruang untuk mengajukan pembaruan data melalui mekanisme resmi.
Warga NTT Bisa Cek Data dari Ponsel
Bagi masyarakat yang memiliki akses internet, pengecekan dapat dilakukan melalui aplikasi Cek Bansos Kementerian Sosial.
Warga dapat melakukan registrasi, masuk ke akun, kemudian memeriksa Profil Keluarga dan informasi desil yang tercatat.
Jika terdapat ketidaksesuaian, masyarakat dapat mengikuti mekanisme pembaruan data yang tersedia.
Data dan informasi yang dimasukkan harus sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Dalam proses pengajuan, masyarakat dapat diminta mengisi pernyataan mandiri serta melengkapi dokumen sesuai ketentuan.
Untuk masyarakat di wilayah kepulauan seperti Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Lembata, Flores, Sumba maupun Timor, akses teknologi tentu tidak selalu sama.
Ada wilayah yang jaringan internetnya masih menjadi persoalan.
Ada pula masyarakat lanjut usia yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi.
Di sinilah peran pemerintah desa dan kelurahan menjadi penting.
Tidak Bisa Menggunakan Aplikasi? Datang ke Desa
Warga yang kesulitan melakukan pembaruan melalui aplikasi dapat mendatangi kantor desa atau kelurahan.
Sampaikan kepada petugas atau operator SIKS-NG bahwa terdapat ketidaksesuaian data dan ingin mengajukan pemutakhiran DTSEN.
Bawalah dokumen kependudukan serta bukti pendukung yang diperlukan.
Yang perlu disampaikan bukan cerita yang dibuat-buat, melainkan kondisi keluarga yang sebenarnya.
Berapa penghasilan rata-rata?
Apa pekerjaan utama?
Apakah pekerjaan tersebut tetap atau musiman?
Bagaimana kondisi rumah tangga?
Berapa anggota keluarga yang menjadi tanggungan?
Semakin jelas kondisi yang disampaikan, semakin mudah proses verifikasi dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku.
Jangan Berpikir Punya Sapi Berarti Pasti Sejahtera
Ini juga menjadi persoalan menarik di daerah pedesaan NTT.
Memiliki sapi tidak otomatis berarti sebuah keluarga hidup berkecukupan.
Sapi bagi sebagian masyarakat NTT merupakan aset sekaligus tabungan jangka panjang.
Demikian pula memiliki kebun.
Seseorang bisa memiliki lahan, tetapi belum tentu memperoleh pendapatan rutin setiap bulan.
Karena itu, membaca kesejahteraan masyarakat tidak cukup hanya dari apa yang terlihat di depan mata.
Kondisi pendapatan, pengeluaran, jumlah tanggungan, akses terhadap layanan dasar dan kondisi sosial ekonomi lainnya juga perlu diperhatikan sesuai indikator yang digunakan dalam pendataan.
Jangan Ada Celah bagi Calo Data
Masyarakat juga perlu berhati-hati.
Jangan mudah percaya apabila ada orang yang mengaku dapat menurunkan desil atau memastikan bantuan sosial kembali dengan meminta bayaran.
Pemutakhiran data harus ditempuh melalui jalur resmi.
Jangan sampai masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi justru menjadi sasaran oknum yang memanfaatkan persoalan data.
Jika ada dugaan pungutan atau penyalahgunaan proses, masyarakat dapat melaporkannya melalui kanal pengaduan pemerintah yang tersedia.
Jangan Hanya Bagus di Sistem, Harus Benar di Lapangan
Persoalan DTSEN pada akhirnya kembali kepada satu hal sederhana:
Seberapa akurat data menggambarkan kehidupan masyarakat?
NTT memiliki karakter geografis dan ekonomi yang berbeda dengan banyak wilayah lain.
Jarak antarpulau, akses transportasi, kondisi infrastruktur, ketergantungan pada musim, serta pola pendapatan masyarakat pedesaan menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, proses verifikasi lapangan tetap memiliki arti penting.
Sebab keluarga yang hidup dari hasil kebun tidak bisa disamakan begitu saja dengan keluarga yang menerima gaji tetap setiap bulan.
Nelayan tidak bisa dibaca hanya dari jumlah perahu.
Peternak tidak bisa dinilai hanya dari jumlah ternak.
Petani tidak bisa dinilai hanya dari luas lahan.
Kesejahteraan adalah tentang kemampuan nyata sebuah keluarga memenuhi kebutuhan hidupnya.
Warga Jangan Diam Jika Data Tidak Sesuai
Bagi masyarakat NTT yang menemukan perubahan desil dan merasa tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, jangan langsung panik.
Cek datanya. Pahami statusnya. Jika tidak sesuai, ajukan pembaruan melalui jalur resmi.
Namun masyarakat juga perlu memahami bahwa pengajuan perubahan tidak otomatis membuat desil langsung turun.
Ada proses verifikasi, validasi dan pemeringkatan ulang sesuai mekanisme yang berlaku.
Karena itu, jangan percaya janji bahwa status desil bisa berubah dalam sehari hanya dengan membayar sejumlah uang.
Satu Angka, Ada Nasib Keluarga di Belakangnya
Pada akhirnya, DTSEN bukan sekadar database pemerintah.
Di balik satu nama terdapat sebuah keluarga.
Di balik satu angka desil terdapat kebutuhan hidup.
Dan di balik sebuah status penerima bantuan, ada masyarakat yang mungkin sedang berjuang mempertahankan dapur tetap mengepul.
Angka boleh menjadi alat untuk membaca kondisi masyarakat. Tetapi angka harus terus diuji dengan kenyataan di lapangan.
Bagi masyarakat NTT, pesan sederhananya jelas:
Jika kondisi hidup belum berubah tetapi data menunjukkan perubahan besar, jangan diam. Periksa dan gunakan hak untuk mengajukan pembaruan data melalui jalur resmi.
Sebab, data yang benar bukan hanya penting bagi pemerintah dalam membuat kebijakan, tetapi juga penting bagi keluarga-keluarga kecil yang berharap negara benar-benar melihat kondisi mereka apa adanya.
Catatan Redaksi








