SOE,METROTIMORNEWS.ID – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukan komitmennya dalam mempeluas ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi hingga ke wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Melalui Fakultas Teknologi Industri, Prodi Teknik Fisika ITB komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran teknologi pemantauan kondisi lingkungan dan pertanian di desa Batnun kecamatan Amanuban Selatan kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan pengenalan alat teknologi ini berlangsung di SMP PENABUR PLUS TEAS ROMBEL BATNUN sejak Kamis, 03/09/2026 sampai Minggu, 13/09/2026 yang melibatkan pihak ITB, SMA PENABUR PLUS TEAS, Yayasan Munther Indonesia, Pemerintah desa Batnun serta masyarakat desa Batnun. Sedangkan penyerahan alat teknologi tersebut dilaksanakan pada Senin, 07/09/2026 sekitar pukul 10:00 Wita
Teknologi tersebut dirancang untuk memantau sejumlah parameter lingkungan seperti, suhu dan kelembapan udara, suhu dan kelembapan tanah, intensitas cahaya matahari, kecepatan angin hingga tingkat polutan lingkungan.
Prof. Ir. Endra Joelianto, Ph.D., selaku guru besar Fakultas Teknologi Industri, Prodi Teknik Fisika ITB sekaligus pembuat dan pengembang teknologi menjelaskan bahwa, teknologi tersebut dihadirkan untuk membantu masyarakat memperoleh data lingungan yang akurat serta berkelanjutan.
Prof. Ir. Endra Joelianto, Ph.D., juga menyampaikan bahwa data – data tersebut dapat dikumpulkan secara berkala mulai dari setiap hari bahkan setiap menit, menurutnya dengan data – data tersebut, kondisi dan perubahan lingkungan suatu wilayah dapat dipantau lebih terukur.
Lanjutnya ia juga menegaskan bahwa teknologi tidak boleh hanya berhenti pada pengumpulan angka dan data. Secara ilmiah data perlu dipadukan dengan pengetahuan serta kearifan lokal masyarakat, terutama dalam pengelolaan lingkungan dan pertanian yang menjadi warisan sejak turun temurun.
Sang guru besar Fakultas Teknologi Industri, Prodi Teknik Fisika ITB itu berharap, perpaduan antara teknologi, data ilmiah serta kearifan lokal dapat menghasilkan pola pertanian yang lebih tepat dan sesuai dengan karakteristik wilayah.
Ia menambahkan dengan informasi yang lebih akurat mengenai kondisi lingkungan, masyarakat bisa menentukan jenis tanaman yang sesuai, mengatur pola tanam serta menyesuaikan kegiatan pertanian dengan ketersediaan air serta sarana pendukung lainnya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Ir. Endra Joelianto, Ph.D., juga mengungkapkan bahwa melalui perencanaan dan pengelolaan yang tepat, produktivitas diharapkan dapat ditingkatkan dengan memungkinkan masa tanam yang awalnya hanya satu kali dalam setahun menjadi dua bahkan empat kali dalam setahun sesuai kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber daya.
Menurutnya selain untuk sektor pertanian, teknologi ini juga diproyeksikan sebagai media pembelajaran bagi siswa/i. Ia menegaskan para siswa dapat belajar mengoperasikan peralatan, melakukan pengukuran , mengumpulkan data, membaca hasil pengukuran, menganalisis perubahan kondisi lingkungan dan serta mencari solusi berdasarkan data yang diperoleh.
Prof. Ir. Endra Joelianto, Ph.D., kembali memberikan penegasannya dalam kegiatan tersebut bahwa, kehadiran generasi muda tidak cukup jika hanya menjadi pengguna teknologi, mereka perlu mendapatkan ruang untuk memahami, mengembangkan bahkan berinovasi dan menciptakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa keberadaan teknologi tersebut diharapkan dapat mendorong kemampuan berpikir ilmiah, kreativitas serta inovasi para siswa serta mampu melahirkan generasi muda yang mampu mengembangkan teknologi berbasis potensi daerah.
Sementara itu, Kepala SMA PENABUR PLUS TEAS, Sarlotha Selan, S.E, M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada ITB yang telah memberikan dukungan terhadap pengembangan pendidikan diwilayah 3T khususnya di SMA PENABUR PLUS TEAS.
Menurut Sarlotha kehadiran ITB melalui
Fakultas Teknologi Industri, Prodi Teknik Fisika memberikan kebanggaan tersendiri bagi sekolahnya.
SMA PENABUR PLUS TEAS sendiri tercatat sudah dua kali mendapatkan hasil pengembangan teknologi dari ITB melalui program pengabdian kepada masyarakat Fakultas Teknologi Industri, Prodi Teknik Fisika ITB dibawah bimbingan Prof. Ir. Endra Joelianto, Ph.D.
Ia menjelaskan teknologi pertama yang mereka peroleh adalah berupa rumah adat berpodcast dan yang kedua adalah perangkat pengukur suhu, kelembapan tanah serta air. Ia sangat berharap agar teknologi kedua yang diterima pihaknya dapat mendukung peningkatan di sektor pertanian.
Diakhir sambutannya, Sarlotha menyampaikan bahwa pihak sekolah berkomitmen untuk terus mengimplementasikan teknologi tersebut sekaligus membagikan pengetahuan terkait pemanfaatan teknologi tersebut kepada sekolah lain mulai dari tingkat SD hingga tingkat SMA/K.
Pada kesempatan yang sama apresiasi juga disampaikan oleh ketua dewan pembina Yayasan Munther Indonesia sekaligus pendiri SMP dan SMA Penabur, Pdt. Munce R. Therik, S.Th., S.H., M.Pd., M.M.
Munce menyampaikan rasa syukur serta terima kasih kepada Prof. Ir. Endra Joelianto, Ph.D. dan Fakultas Teknologi Industri, Prodi Teknik Fisika ITB yang hingga kini terus mengembangkan serta memperkenalkan teknologi hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau, termasuk wilayah 3T di Nusa Tenggara Timur dan terkhususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Menurut Munce, program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh ITB memberikan manfaat yang sangat besar bagi siswa, sekolah dan masyarakat di daerah 3T karena mereka bisa memperoleh akses terhadap perkembangan teknologi terbaru.
Lanjutnya Munce mengungkapkan bahwa, Yayasan Munther Indonesia berharap program pengabdian masyarakat ITB dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.
Lanjutnya, pendiri SMP dan SMA PENABUR itu mengungkapkan bahwa, teknologi yang diluncurkan di Desa Batnun memiliki manfaat strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian. Ia juga berharap teknologi tersebut dapat mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian serta sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, hilirisasi pangan dan swasembada pangan.
Sementara itu, Kepala Dusun 02 Tuatune yang mewakili Pemerintah Desa Batnun menyampaikan rasa syukur dan bangga karena Desa Batnun menjadi lokasi peluncuran teknologi tersebut.
Menurut pemerintah desa, peluncuran teknologi ini menjadi sebuah momentum penting karena merupakan pengalaman pertama bagi Desa Batnun dalam menerima dan memperkenalkan teknologi kepada masyarakat.
Pemerintah Desa Batnun juga berharap kolaborasi dengan ITB melalui program pemberdayaan masyarakat dapat terus dilanjutkan, terutama untuk membantu masyarakat di wilayah 3T.
Peluncuran dan penyerahan alat ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi sekolah, siswa, masyarakat dan sektor pertanian.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, yayasan, pemerintah desa dan masyarakat, teknologi diharapkan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan lokal dan menjadi instrumen untuk menghasilkan data yang dapat mendukung pengambilan keputusan.
Kehadiran teknologi pemantauan lingkungan di Desa Batnun sekaligus menjadi langkah nyata dalam mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan kearifan lokal untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di wilayah 3T.
Dari Desa Batnun, Kabupaten Timor Tengah Selatan, upaya memperluas akses teknologi diharapkan terus berlanjut demi mendukung kemajuan pendidikan, lingkungan dan pertanian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Pulau Timor.
#MTID-06








