Kembali ke Air Asal: Doa Senyap dari Danau Ledulu

Rabu, 22 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

ROTE NDAO, METROTIMORNews.ID–Di tepi Danau Ledulu yang berkilau keperakan, suara gemericik air bertaut dengan angin laut selatan. Pagi itu, 21 Oktober 2025, pulau paling selatan Indonesia menjadi saksi sebuah peristiwa hening namun bersejarah: dua puluh ekor Kura-Kura Rote — reptil endemik berleher panjang yang hanya hidup di Pulau Rote — dilepaskan kembali ke alamnya.

Di antara deretan tamu kehormatan, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, berdiri di bibir danau, menatap air yang tenang seperti membaca doa dari kedalaman bumi timur. “Tidak ada Rote berarti tidak ada Indonesia,” katanya lantang namun lembut, disambut tepuk tangan hadirin.

“Tanpa kura-kura leher panjang, tanpa Kura-Kura Rote, tanpa kurot, maka tentu tidak ada Indonesia. Ini bagian dari kekayaan bangsa yang hanya dimiliki negeri ini — dan tugas kita menjaganya.”

Di Negeri Kura-Kura Leher Panjang

Kegiatan pelepasliaran ini diselenggarakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, bekerja sama dengan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) serta berbagai mitra konservasi. Dari langit Rote, pagi turun perlahan membawa kesejukan dan harapan baru bagi satwa yang sempat dianggap punah itu.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, hadir mendampingi Menteri Kehutanan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas perhatian besar pemerintah pusat terhadap kelestarian satwa endemik di wilayah perbatasan.

“Kita berterima kasih kepada Bapak Menteri atas perhatian bagi perkembangan kura-kura leher panjang ini. Mari kita jaga bersama agar tidak punah — ini bagian dari kekayaan reptil kita di Rote, di Nusa Tenggara Timur, dan di Indonesia,” ujarnya penuh harap.

Dari Ambang Punah ke Pelukan Alam

Nama ilmiah Chelodina mccordi, atau lebih akrab disebut Kura-Kura Rote, mulai dikenal dunia sejak 1994, ketika peneliti memastikan bahwa spesies ini berbeda dengan kura-kura leher panjang Papua (Chelodina novaeguineae). Namun tak lama berselang, perburuan dan perdagangan ilegal membuat populasinya lenyap dari habitat asli.

Pada 2005, tim Kementerian Kehutanan tak lagi menemukan satu pun individu di alam liar. Maka pada 2009, dilakukan reintroduksi pertama: 40 individu Kura-Kura Rote dilepas di Danau Peto, menandai awal perjalanan panjang pemulihan spesies yang hampir hilang. Kini, enam belas tahun kemudian, harapan itu berlanjut di Danau Ledulu.

“Ini kali kedua pelepasliaran dilakukan, dan menjadi simbol bahwa konservasi adalah kerja lintas waktu, lintas generasi,” ujar Amir Hamidy dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang turut mengawasi program pemulihan populasi.“Indonesia punya 18 persen kekayaan reptil dunia. Menjaga Kura-Kura Rote berarti menjaga salah satu warisan genetik planet ini.”

Kolaborasi dari Rote untuk Dunia

Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa pelepasliaran kali ini merupakan hasil penangkaran PT Alam Nusantara Jayatama — bukti sinergi antara pemerintah, swasta, dan komunitas ilmiah.

“Kura-Kura Rote termasuk satwa dilindungi dengan jumlah yang sangat sedikit di alam. Penangkaran menjadi langkah penyelamat, tetapi tujuan akhirnya tetap satu: mengembalikan mereka ke rumahnya — ke air, ke Rote,” jelas Satyawan.

Dukungan juga datang dari Wakil Bupati Rote Ndao, Apremoi Dudelusy Dethan, yang menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bekerja sendiri.“Ini pertanda kami tidak berjalan sendiri, tetapi berkolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat. Konservasi bukan hanya soal satwa, tapi juga harga diri dan masa depan Rote,” katanya dalam nada penuh bangga.

Jejak Panjang dari Danau ke Dunia

Sejak 2009, berbagai upaya lanjutan dilakukan: asesmen habitat, repatriasi Kura-Kura Rote, pembangunan karantina hewan di Kupang, penyiapan instalasi pelepasliaran di Danau Ledulu dan Lendeoen, hingga lahirnya aturan adat “papadak” — sistem perlindungan berbasis kearifan lokal yang mengatur warga agar tidak mengganggu atau memperjualbelikan satwa langka.

Kura-Kura Rote bertelur tiga hingga empat kali setahun, dengan 10–25 butir per sekali bertelur, dan masa inkubasi 3–4 bulan. Mereka dapat hidup lebih dari dua dekade — umur yang panjang bagi makhluk yang membawa pesan abadi tentang ketahanan dan keseimbangan alam.

Alam yang Pulang, Bangsa yang Ingat

Hadir dalam kegiatan ini berbagai pihak: dari pejabat Desa Daiama, perwakilan Kementerian Kehutanan, PT Alam Nusantara Jayatama, Vantara Nature Rescue and Rehabilitation Center India, hingga Wakil Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Kedutaan Uni Emirat Arab. Di antara mereka, Charles Matara, pemilik Danau Ledulu, berdiri tenang menyaksikan pelepasan — di danau yang menjadi bagian dari hidupnya dan sejarah bumi Rote.

Ketika kura-kura terakhir perlahan meluncur ke air, tepuk tangan bergemuruh lembut. Seolah seluruh semesta bersepakat bahwa hari itu, di ujung selatan Indonesia, seekor satwa kecil telah mengingatkan bangsa tentang arti rumah dan tanggung jawab.“Rote ada untuk Indonesia. Kura-Kura Rote adalah Indonesia. Jika kita kehilangan Rote, kita kehilangan sebagian dari diri kita sendiri,” tutur Raja Juli, menutup acara dengan senyum dan mata yang memandang jauh ke danau yang sunyi.

Danau Ledulu kembali tenang. Namun di permukaannya, air bergoyang lembut—menyimpan kisah tentang pulang, tentang harapan, dan tentang sebuah bangsa yang perlahan belajar menjaga kehidupan, setenang kura-kura yang baru kembali ke rumahnya.

INFO

Fakta Singkat Kura-Kura Rote (Chelodina mccordi)

  • Endemik Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.
  • Termasuk 25 spesies kura-kura paling langka di dunia.
  • Dapat hidup lebih dari 20 tahun.
  • Masa inkubasi telur: 3–4 bulan.
  • Status konservasi: Critically Endangered (IUCN).

Pesan Menteri Kehutanan:“Menjaga Rote berarti menjaga Indonesia. Karena di setiap air dan tanahnya, ada cermin dari keberlanjutan bangsa ini.”

(*TIM : METROTIMORNEWS.ID)

Berita Terkait

Videotron Milik Pemda Flores Timur Kembali Off, Kominfo Sebut Terkendala Anggaran Listrik
GMIT Menggelama Siap Tampil Maksimal di Pesparawi HUT ke-66 Jemaat Imanuel Nemberala
TNI AD Berduka, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu Tutup Usia
Diduga Jadi Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Warga Desa Mio Minta Pendampingan Polisi
Ini Pesan Imam Haji Hasan Somba Momentum di Idul Adha 2026 Usai Sholat
Peduli Dengan Anggota, Polres Flotim Rayakan Idul Adha Bersama
Bunda Julie Sutrisno Laiskodat Salurkan Sapi Kurban untuk 200 KK di Desa Lamahala Jaya
Presiden RI dan Kepala Staf Angkatan Darat Hadir untuk Rakyat, Melalui Satgas Yonif 123/Rajawali Bangun Sumur Bor di Kampung Soba

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:53

Videotron Milik Pemda Flores Timur Kembali Off, Kominfo Sebut Terkendala Anggaran Listrik

Senin, 1 Juni 2026 - 09:29

GMIT Menggelama Siap Tampil Maksimal di Pesparawi HUT ke-66 Jemaat Imanuel Nemberala

Minggu, 31 Mei 2026 - 18:51

TNI AD Berduka, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu Tutup Usia

Kamis, 28 Mei 2026 - 23:54

Diduga Jadi Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Warga Desa Mio Minta Pendampingan Polisi

Kamis, 28 Mei 2026 - 06:50

Ini Pesan Imam Haji Hasan Somba Momentum di Idul Adha 2026 Usai Sholat

Kamis, 28 Mei 2026 - 00:19

Peduli Dengan Anggota, Polres Flotim Rayakan Idul Adha Bersama

Rabu, 27 Mei 2026 - 20:48

Bunda Julie Sutrisno Laiskodat Salurkan Sapi Kurban untuk 200 KK di Desa Lamahala Jaya

Rabu, 27 Mei 2026 - 00:31

Presiden RI dan Kepala Staf Angkatan Darat Hadir untuk Rakyat, Melalui Satgas Yonif 123/Rajawali Bangun Sumur Bor di Kampung Soba

Berita Terbaru