Mencatat Tetap Relevan di Era Digital: Literasi sebagai Fondasi, Video sebagai Penguat Pembelajaran

Senin, 3 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Isak Doris Faot,S.Kom,Gr

Perkembangan teknologi telah mengubah wajah pendidikan secara signifikan. Ruang kelas kini tidak lagi hanya diisi dengan buku tulis, papan tulis, dan penjelasan guru, tetapi juga diperkaya oleh video pembelajaran, animasi, simulasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta berbagai platform digital yang membuat proses belajar menjadi lebih menarik. Transformasi ini merupakan sebuah kemajuan yang patut diapresiasi karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan sesuai dengan karakteristik generasi digital.

Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, muncul pertanyaan yang perlu direnungkan bersama: apakah kegiatan mencatat masih diperlukan? Sebagian orang beranggapan bahwa mencatat mulai kehilangan relevansinya karena semua materi telah tersedia dalam bentuk digital. Peserta didik dapat mengakses presentasi, video pembelajaran, maupun catatan elektronik kapan saja. Pandangan tersebut memang memiliki alasan, tetapi tidak sepenuhnya tepat.

Menurut hemat penulis, kegiatan mencatat tetap harus menjadi bagian dari proses pembelajaran, khususnya pada tahap awal sebagai kegiatan literasi. Mencatat bukan sekadar menyalin isi buku atau materi yang disampaikan guru, melainkan sebuah proses berpikir yang melibatkan kemampuan membaca, memahami, memilih informasi penting, kemudian menyusunnya kembali dengan bahasa sendiri. Proses inilah yang sesungguhnya membangun pemahaman yang lebih mendalam.

Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa peserta didik yang aktif mencatat cenderung memiliki kemampuan mengingat dan memahami materi lebih baik dibandingkan mereka yang hanya membaca atau menonton. Penelitian Mueller dan Oppenheimer (2014) dalam Psychological Science menemukan bahwa kegiatan mencatat secara aktif membantu peserta didik memahami konsep secara lebih mendalam dibandingkan hanya mengetik atau sekadar melihat materi. Hal ini terjadi karena otak dipaksa mengolah informasi sebelum dituangkan ke dalam tulisan.

Selain memperkuat daya ingat, kegiatan mencatat juga menjadi sarana untuk membangun budaya literasi. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, serta mengomunikasikan informasi secara efektif. Oleh karena itu, sangat tepat apabila pada awal pembelajaran guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca sumber belajar, mengidentifikasi gagasan utama, kemudian mencatat poin-poin penting sebelum memasuki kegiatan inti.

Kebijakan Gerakan Literasi Sekolah yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menegaskan bahwa budaya membaca dan menulis merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas pendidikan. Pembelajaran yang diawali dengan kegiatan literasi akan membantu peserta didik lebih siap menerima materi berikutnya. Mereka tidak hanya menjadi pendengar yang pasif, tetapi juga pembelajar yang aktif membangun pengetahuannya sendiri.

Meskipun demikian, mempertahankan kegiatan mencatat bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, guru perlu mengombinasikan literasi dengan media pembelajaran digital agar proses belajar menjadi lebih efektif. Setelah peserta didik memiliki pemahaman dasar melalui kegiatan membaca dan mencatat, guru dapat melanjutkan pembelajaran menggunakan video, simulasi, demonstrasi, diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), maupun pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning).

Media video memiliki keunggulan yang tidak dimiliki teks. Video mampu menghadirkan visualisasi nyata, memperlihatkan proses, serta menjelaskan konsep-konsep abstrak dengan lebih mudah dipahami. Dalam mata pelajaran kejuruan, misalnya, peserta didik dapat melihat secara langsung langkah-langkah instalasi jaringan komputer, konfigurasi perangkat, atau praktik keselamatan kerja yang mungkin sulit dipahami jika hanya dijelaskan melalui tulisan. Dengan demikian, video berfungsi sebagai penguat pemahaman, bukan sebagai pengganti kegiatan literasi.

Guru pada era digital dituntut untuk mampu memilih strategi pembelajaran yang seimbang. Ketika seluruh proses pembelajaran hanya mengandalkan video, peserta didik berpotensi menjadi penonton yang pasif. Sebaliknya, apabila pembelajaran hanya berisi kegiatan mencatat tanpa memanfaatkan teknologi, proses belajar dapat terasa monoton dan kurang menarik. Oleh karena itu, keseimbangan antara literasi, penggunaan media digital, dan metode pembelajaran aktif menjadi kunci terciptanya pembelajaran yang berkualitas.

Pendidikan abad ke-21 tidak hanya menuntut penguasaan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Semua kompetensi tersebut tidak dapat dibangun hanya dengan menonton video. Peserta didik tetap memerlukan aktivitas membaca, menulis, berdiskusi, memecahkan masalah, serta merefleksikan apa yang telah dipelajari. Kegiatan mencatat menjadi salah satu langkah sederhana yang mampu melatih kemampuan tersebut sejak awal pembelajaran.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai memilih antara mencatat atau menggunakan video sesungguhnya tidak perlu terjadi. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Mencatat membangun fondasi literasi dan memperkuat proses berpikir, sedangkan video menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konkret, menarik, dan kontekstual. Ketika kedua pendekatan ini dipadukan secara tepat, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan belajar sepanjang hayat.

Sudah saatnya dunia pendidikan memandang kegiatan mencatat bukan sebagai metode lama yang harus ditinggalkan, melainkan sebagai investasi untuk membangun budaya literasi yang kuat. Teknologi akan terus berkembang, media pembelajaran akan semakin canggih, tetapi kemampuan membaca, memahami, dan menuliskan gagasan tetap menjadi keterampilan dasar yang tidak tergantikan. Karena itu, pembelajaran yang diawali dengan kegiatan literasi melalui membaca dan mencatat, kemudian diperkuat dengan video serta metode pembelajaran inovatif, merupakan strategi yang relevan untuk mencetak generasi yang cerdas, kritis, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Referensi

Brown, P. C., Roediger III, H. L., & McDaniel, M. A. (2014). Make It Stick: The Science of Successful Learning. Harvard University Press.

Mueller, P. A., & Oppenheimer, D. M. (2014). The Pen Is Mightier Than the Keyboard: Advantages of Longhand Over Laptop Note Taking. Psychological Science, 25(6), 1159–1168.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Pedoman Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

UNESCO. Global Education Monitoring Report dan berbagai publikasi tentang penguatan literasi sebagai fondasi pembelajaran.

 

Berita Terkait

Mahasiswa KKN Institut Agama Kristen Negeri Kupang Mahasiswa berdampak, Desa Berdaya
Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Mata Pelajaran Informatika: Model yang Sama, tetapi Membingungkan Guru
Jaksa Bongkar Polisi, Polisi Bongkar Jaksa: Bagaimana Nasib Negara Ini?
Catat Buku Sampai Habis (CBSA): Benarkah Itu Masih Bisa Disebut Pembelajaran?
Pemuda yang Bertumbuh dan Berdampak bagi Gereja dan Lingkungan (Refleksi Ekoteologi NTT bagi Generasi Muda)
CATATAN REDAKSI | Belajar dari Haiti, Menjaga Indonesia
Libur Sekolah Bukan Libur Belajar: Menyalakan Harapan dari Rumah Literasi Thomas Edison
Pelajaran dari Kesederhanaan: Kisah Anak Kampung yang Menginspirasi

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:00

Mahasiswa KKN Institut Agama Kristen Negeri Kupang Mahasiswa berdampak, Desa Berdaya

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:40

Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Mata Pelajaran Informatika: Model yang Sama, tetapi Membingungkan Guru

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:21

Jaksa Bongkar Polisi, Polisi Bongkar Jaksa: Bagaimana Nasib Negara Ini?

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:35

Catat Buku Sampai Habis (CBSA): Benarkah Itu Masih Bisa Disebut Pembelajaran?

Senin, 29 Juni 2026 - 12:33

Pemuda yang Bertumbuh dan Berdampak bagi Gereja dan Lingkungan (Refleksi Ekoteologi NTT bagi Generasi Muda)

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:39

CATATAN REDAKSI | Belajar dari Haiti, Menjaga Indonesia

Sabtu, 27 Juni 2026 - 17:09

Libur Sekolah Bukan Libur Belajar: Menyalakan Harapan dari Rumah Literasi Thomas Edison

Senin, 1 Juni 2026 - 09:32

Pelajaran dari Kesederhanaan: Kisah Anak Kampung yang Menginspirasi

Berita Terbaru