Oleh: Thomas Edison Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE
Pendiri Rumah Literasi Thomas Edison
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Namun, hingga saat ini persoalan kemampuan literasi dan numerasi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berbagai hasil evaluasi pendidikan menunjukkan bahwa banyak murid belum mampu memahami bacaan secara mendalam maupun menyelesaikan persoalan matematika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini juga dirasakan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Masih banyak anak yang kesulitan membaca dengan pemahaman yang baik, menulis secara runtut, serta menerapkan konsep numerasi dalam situasi nyata. Rendahnya kemampuan literasi dan numerasi tidak bisa hanya dibebankan kepada murid, tetapi perlu dilihat sebagai persoalan bersama dalam proses pembelajaran di sekolah.
Salah satu praktik yang masih sering dijumpai adalah kebiasaan guru yang datang ke kelas hanya untuk memberikan catatan kepada murid. Bahkan, muncul istilah yang terdengar lucu tetapi sebenarnya menyimpan kritik yang serius, yaitu kurikulum CBSA (Catat Buku Sampai Habis). Murid menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyalin tulisan dari papan tulis atau buku tanpa memperoleh penjelasan materi yang memadai, tanpa diskusi dan tanpa pendampingan belajar. Jika praktik seperti ini terus dilakukan, muncul pertanyaan sederhana: apa manfaatnya anak-anak datang ke sekolah jika yang mereka lakukan hanya menyalin catatan? Bukankah catatan itu bisa saja diberikan untuk dikerjakan di rumah?
Lebih memprihatinkan lagi, banyak murid di daerah pedesaan harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju sekolah. Mereka mengeluarkan tenaga, waktu dan biaya, tetapi tidak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Padahal, hakikat pendidikan bukan sekadar memindahkan isi buku paket ke buku tulis, melainkan membantu murid memahami konsep, mengembangkan cara berpikir, memecahkan masalah dan membangun karakter. Tanpa penjelasan, latihan, umpan balik dan bimbingan lanjutan, catatan hanyalah rangkaian tulisan yang belum tentu dipahami oleh murid.
Sebagai guru, praktisi pendidikan, dan pegiat literasi, saya melihat bahwa salah satu penyebab rendahnya kemampuan literasi dan numerasi adalah kurangnya pendampingan yang berkelanjutan. Banyak anak belum diberikan tindak lanjut pembelajaran sesuai kebutuhan mereka. Ketika hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan murid belum mencapai target pembelajaran, seharusnya guru melakukan penguatan, remedial atau pendampingan khusus, bukan sekadar menambah jumlah catatan yang harus disalin.
Fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang menarik. Ada murid yang nilainya biasa saja di kelas, tetapi ketika diberikan kesempatan untuk membuat proyek, menulis cerita, menciptakan karya, atau mengikuti kompetisi tertentu, hasilnya sangat memuaskan. Bahkan, tidak sedikit yang berhasil menjadi juara dalam berbagai lomba. Pengalaman ini membuktikan bahwa potensi anak tidak selalu tercermin dari angka-angka di rapor. Banyak anak memiliki kreativitas, kemampuan berpikir dan bakat yang baru muncul ketika mereka diberi ruang untuk berekspresi dan berkarya.
Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya diukur hanya dari nilai ujian, rapor atau ijazah. Pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mengajukan pertanyaan, kemampuan menyusun hipotesis, berpikir kritis, menciptakan solusi dan menghasilkan karya edukatif. Guru bukan sekadar pemberi catatan, melainkan fasilitator yang menghidupkan proses belajar.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma pembelajaran di kelas. Sekolah harus menjadi ruang dialog, eksplorasi, kolaborasi dan kreativitas, bukan sekadar tempat menyalin catatan. Ketika guru lebih banyak mendampingi daripada mendikte, lebih banyak membimbing daripada menyuruh menyalin, maka literasi, numerasi dan karakter murid akan tumbuh lebih baik. Anak-anak di Kabupaten Timor Tengah Selatan maupun di seluruh Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar. Tugas kita adalah membuka ruang agar potensi itu berkembang, bukan membatasinya pada aktivitas menyalin buku sampai habis. Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan menghasilkan murid yang pandai menyalin isi buku, melainkan generasi yang kritis, menghasilkan karya dan memberikan solusi yang edukatif .








