LPI Amfoang Raya 2026 Resmi Ditutup, Semangat Persaudaraan Tetap Menyala

Sabtu, 30 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malam itu udara Nunuanah terasa lebih dingin dari biasanya. Angin dari perbukitan Amfoang Timur berembus pelan melewati lapangan SMAN 2 Amfoang Timur yang sejak sore telah dipenuhi manusia. Lampu-lampu sederhana menggantung di beberapa sudut lapangan, memantulkan cahaya kekuningan ke wajah-wajah lelah yang masih menyimpan semangat.

Di tribun penonton, anak-anak sekolah masih bernyanyi dan berteriak menyebut nama sekolah mereka masing-masing. Sebagian menggenggam bendera kecil, sebagian lain sibuk mengabadikan momen bersama teman-teman yang selama lima hari terakhir telah menjadi keluarga baru dalam sebuah perhelatan bernama Liga Pendidikan Indonesia Zona Amfoang Raya 2026.

Tak ada yang benar-benar ingin malam itu cepat berakhir.

Sejak tanggal 22 Mei, Nunuanah berubah menjadi pusat keramaian. Jalan-jalan desa yang biasanya lengang mendadak dipenuhi kendaraan, tawa pelajar, dan suara peluit pertandingan. Dari pagi hingga malam, lapangan SMAN 2 Amfoang Timur hidup oleh sorak-sorai dan semangat muda.

Bagi masyarakat Amfoang Raya, LPI bukan sekadar pertandingan sepak bola atau bola voli. Ia telah menjadi ruang perjumpaan. Tempat anak-anak muda dari berbagai sekolah saling mengenal, saling menghargai, dan belajar tentang arti sportivitas.

Di sela pertandingan, tampak para ibu menjual jagung bose, ubi rebus, dan kopi panas di pinggir lapangan. Anak-anak kecil berlari sambil membawa balon. Guru-guru duduk berdampingan dengan masyarakat, menyaksikan pertandingan dengan mata penuh harap.

Lima hari terasa singkat.

Ketika nama-nama juara diumumkan malam itu, tepuk tangan bergema panjang di seluruh lapangan. SMAN 1 Amfoang Timur keluar sebagai juara sepak bola setelah tampil meyakinkan sepanjang turnamen. Di cabang voli putra, SMAK Fini Alekot O,aem menunjukkan dominasi yang sulit dibendung. Sedangkan pada voli putri, SMAN 1 Amfoang Timur kembali membuktikan kualitas mereka.

Namun di balik kemenangan itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar trofi.

Ada persaudaraan yang tumbuh diam-diam di antara mereka.

Wakil Ketua MKKS SMA/SMK Kabupaten Kupang yang malam itu berdiri di atas panggung sederhana mengatakan bahwa LPI bukan hanya tentang mencari juara.

“Ini tentang kebersamaan. Tentang bagaimana anak-anak Amfoang belajar saling mendukung dan menjaga persaudaraan,” katanya disambut tepuk tangan panjang.

Kata-kata itu seolah menjadi penutup yang sempurna bagi seluruh perjalanan lima hari tersebut.

Kepala SMAN 2 Amfoang Timur, Eni Adriana Neparasi, tampak berkaca-kaca saat menyampaikan sambutannya. Ia tahu, suksesnya kegiatan itu bukan hasil kerja satu dua orang.

Ada tangan masyarakat Nunuanah yang bekerja tanpa lelah. Ada guru-guru yang pulang larut malam demi memastikan semuanya berjalan baik. Ada aparat keamanan yang berjaga hingga dini hari. Ada anak-anak muda yang rela mengorbankan waktu dan tenaga demi satu tujuan: membuat Amfoang bangga.

Dan malam itu, mereka berhasil.

Di sudut lapangan, beberapa pemain yang tadi sore masih saling berhadapan kini duduk bersama sambil tertawa. Jersey mereka penuh debu, wajah mereka basah oleh keringat, tetapi mata mereka menyimpan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Mungkin itulah kemenangan sesungguhnya dari sebuah olahraga.

Bukan tentang siapa yang paling kuat mencetak gol atau mengangkat trofi, tetapi tentang bagaimana pertandingan mampu menyatukan begitu banyak hati dalam satu semangat yang sama.

Malam semakin larut. Satu per satu lampu mulai dipadamkan. Masyarakat perlahan meninggalkan lapangan. Namun semangat dari Nunuanah tampaknya belum benar-benar pergi.

Ia tinggal di ingatan setiap anak muda yang hadir malam itu.

Tentang lapangan sederhana di kaki bukit Amfoang, tempat persaudaraan tumbuh lebih kuat daripada rivalitas.

Dan dari Nunuanah, semangat itu akan terus berjalan menuju tahun-tahun berikutnya.

Sumber: Arnichus Loit

Berita Terkait

Website, Sumber Pendapatan Baru di Era Digital
Kehilangan Ayah, Kehilangan Rasa Aman: Perspektif Psikologi tentang Kesehatan Mental Anak
Mencatat Tetap Relevan di Era Digital: Literasi sebagai Fondasi, Video sebagai Penguat Pembelajaran
Mahasiswa KKN Institut Agama Kristen Negeri Kupang Mahasiswa berdampak, Desa Berdaya
Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Mata Pelajaran Informatika: Model yang Sama, tetapi Membingungkan Guru
Jaksa Bongkar Polisi, Polisi Bongkar Jaksa: Bagaimana Nasib Negara Ini?
Catat Buku Sampai Habis (CBSA): Benarkah Itu Masih Bisa Disebut Pembelajaran?
Pemuda yang Bertumbuh dan Berdampak bagi Gereja dan Lingkungan (Refleksi Ekoteologi NTT bagi Generasi Muda)

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 23:03

Website, Sumber Pendapatan Baru di Era Digital

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:26

Kehilangan Ayah, Kehilangan Rasa Aman: Perspektif Psikologi tentang Kesehatan Mental Anak

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:27

Mencatat Tetap Relevan di Era Digital: Literasi sebagai Fondasi, Video sebagai Penguat Pembelajaran

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:00

Mahasiswa KKN Institut Agama Kristen Negeri Kupang Mahasiswa berdampak, Desa Berdaya

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:40

Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Mata Pelajaran Informatika: Model yang Sama, tetapi Membingungkan Guru

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:21

Jaksa Bongkar Polisi, Polisi Bongkar Jaksa: Bagaimana Nasib Negara Ini?

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:35

Catat Buku Sampai Habis (CBSA): Benarkah Itu Masih Bisa Disebut Pembelajaran?

Senin, 29 Juni 2026 - 12:33

Pemuda yang Bertumbuh dan Berdampak bagi Gereja dan Lingkungan (Refleksi Ekoteologi NTT bagi Generasi Muda)

Berita Terbaru

Opini

Website, Sumber Pendapatan Baru di Era Digital

Jumat, 7 Agu 2026 - 23:03