Rosario di Pinggir Laut: Kisah Syukur dan Iman Komunitas Tanahlein

Jumat, 31 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Pagi itu, Pantai Wewa tersapu cahaya lembut matahari yang membangkitkan harapan. Angin laut menari di antara pepohonan, membawa aroma garam yang khas, sementara ombak perlahan menghantam pasir, seolah menjadi irama alam untuk sebuah doa yang akan segera dikumandangkan.

Di tepi pantai, umat Stasi St. Gabriel Tanahlein berjalan perlahan, masing-masing membawa lilin kecil dan rosario, bersiap mengikuti Misa Penutupan Bulan Rosario yang berbeda dari biasanya. Laut bukan lagi sekadar pemandangan namun hari itu ia menjadi altar yang hidup.

Tepat pukul 09.30 WITA, lonceng gua “Oba” bergema. Gua alam ini, dibangun almarhum Pater Simeon Bera Muda, SVD pada 2019 di Dusun Lamawolo, Desa Tanahlein, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur bukan hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga titik temu antara iman, alam, dan tradisi lokal.

Sambil melangkah di pasir, setiap umat membawa doa dan syukur yang tulus, menjadikan perjalanan menuju gua sebagai ziarah sederhana yang sarat makna.

Perayaan dipimpin oleh Pater Daniel Naragere, SVD, Pastor Paroki St. Yohanes Pembaptis Ritaebang, didampingi Pater Carrol SVD, imam muda yang baru ditahbiskan awal bulan ini. Kehadiran mereka menjadi simbol regenerasi iman, bahwa tradisi spiritual di Tanahlein terus hidup dan berdenyut meski zaman terus berubah.

Umat dari empat lingkungan yakni St. Rafael, St. Siprianus, St. Mikhael, dan St. Mateus bersatu dalam doa. Mereka menapaki rute ziarah ke Gua Maria Ina Pare Lewa Lau Niku Lewo Rae, yang berjarak sekitar dua kilometer dari desa.

Setiap langkah di sepanjang jalan setapak itu menjadi refleksi tentang perjalanan hidup: penuh tantangan, tetapi selalu dibimbing oleh iman.

Samuel Sapon Toron, Ketua Dewan Stasi, mengatakan bahwa misa di tepi laut adalah simbol kasih Tuhan yang luas dan tak terbatas.

“Misa di pinggir laut mengingatkan kami bahwa kasih Tuhan seluas samudra. Di sini, kami belajar bersyukur atas setiap berkat, besar maupun kecil,” ujarnya.

Kehadiran tokoh adat Kebele Raya Lamawolo dan Penjabat Kepala Desa Tanahlein, Andreas Keban, SP, menegaskan bahwa harmoni antara adat, pemerintahan, dan iman Katolik berjalan beriringan.

Bernabas Keban, Sekretaris Dewan Stasi, menekankan semangat komunitas untuk meneruskan karya Pater Simeon Bera Muda, SVD, yang menanamkan nilai pelayanan dan cinta Gereja.

“Kami ingin Pantai Wewa menjadi wajah baru devosi umat tempat di mana pariwisata bahari berpadu dengan ziarah rohani,” ujarnya.

Khidmat perayaan semakin terasa saat koor yang beranggotakan 30 orang mulai mengalunkan lagu-lagu rohani. Perjalanan Bagi Kisah Pelaut, karya P. Markus Solo Kewuta, SVD, menyentuh hati banyak umat, mengingatkan mereka akan badai dan tantangan hidup yang harus dihadapi dengan iman.

Gua Maria Ina Pare Lewa Lau, Niku Lewo Rae Stasi St. Gabriel Tanahlein

Beberapa anggota koor meneteskan air mata, terbawa lirik yang begitu dekat dengan pengalaman mereka.

Lagu-lagu lain, seperti Bagaikan Angsa dan Ina Lewo Wutun karya P. Simeon Bera Muda, SVD, menambah kedalaman doa, menjadikan perayaan ini lebih dari sekadar ritual namun ia menjadi napas komunitas.

Dalam homilinya, Pater Carrol menyoroti kisah Perkawinan di Kana, menekankan dua sifat utama Bunda Maria yakni kepekaan terhadap kebutuhan sesama dan ketaatan yang lahir dari tindakan nyata.

“Maria tidak menunggu diminta untuk bertindak. Ia peka, peduli, dan taat. Teladan ini mengingatkan kita untuk selalu hadir bagi sesama, bukan hanya dalam kata, tapi juga dalam perbuatan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan modern, banyak orang “kehabisan anggur” dan kehilangan semangat, harapan, atau iman.

“Datanglah kepada Tuhan bukan hanya saat susah, tapi juga saat senang. Datanglah dengan hati yang penuh syukur, karena Yesus selalu siap mendengarkan.”

Perayaan ini tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga membangkitkan semangat komunitas. Umat bertekad mempromosikan Pantai Wewa sebagai destinasi wisata religi sekaligus bahari.

Meski infrastruktur jalan dan penerangan masih menjadi tantangan, mereka yakin doa dan kerja sama akan membuka jal

(*tim)

Berita Terkait

Dobrak Standar Bintang Lima, NIHI Rote Padukan Kemewahan dan Misi Sosial
Jadwal Wings Air Kupang–Larantuka Dibatalkan, Erupsi Dua Gunung Api Ganggu Penerbangan
Pemkab Rote Ndao Sambut 149 Mahasiswa KKN IAKN Kupang, Perkuat Kolaborasi Membangun Masyarakat dari Desa
DPRD Soroti Program 700 Sapi Rp7,7 Miliar, BUMD dan Pakan Belum Siap
348 Calon Berebut Tiket ke Tingkat Pusat, Pangdam Kasuari Tegaskan Seleksi TNI AD Harus Bersih dan Profesional
Sat Resnarkoba Gandeng SMA Andaluri, Edukasi Bahaya Narkoba
300 Penunggang Meriahkan Festival Hus Nde’o, Budaya Rote Ndao Memukau Ribuan Pengunjung
Mengabdi di Beranda Selatan NKRI, 33 Mahasiswa KKN IAKN Kupang Disambut Hangat Pemerintah Desa Rote Barat

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:45

Dobrak Standar Bintang Lima, NIHI Rote Padukan Kemewahan dan Misi Sosial

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:07

Jadwal Wings Air Kupang–Larantuka Dibatalkan, Erupsi Dua Gunung Api Ganggu Penerbangan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:58

Pemkab Rote Ndao Sambut 149 Mahasiswa KKN IAKN Kupang, Perkuat Kolaborasi Membangun Masyarakat dari Desa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:33

DPRD Soroti Program 700 Sapi Rp7,7 Miliar, BUMD dan Pakan Belum Siap

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:04

Sat Resnarkoba Gandeng SMA Andaluri, Edukasi Bahaya Narkoba

Jumat, 10 Juli 2026 - 11:12

300 Penunggang Meriahkan Festival Hus Nde’o, Budaya Rote Ndao Memukau Ribuan Pengunjung

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:30

Mengabdi di Beranda Selatan NKRI, 33 Mahasiswa KKN IAKN Kupang Disambut Hangat Pemerintah Desa Rote Barat

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:32

Safari Flotim, Ahmad Yohan Salurkan Bantuan Rp3,41 Miliar

Berita Terbaru