YOGYAKARTA, METROTIMORNEWS.ID – Memasuki usia ke-22 tahun, Organisasi TALA IA Yogyakarta menegaskan komitmennya sebagai wadah kaderisasi, penguatan modal sosial, serta jembatan pengetahuan antara masyarakat perantauan dan Lewotana Lembata.
Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 yang digelar di Yogyakarta, Jumat (13/6/2026), menjadi ruang konsolidasi nilai, refleksi perjalanan organisasi, sekaligus perumusan arah gerak strategis TALA IA ke depan.
Perayaan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh organisasi, di antaranya Ketua TALA IA Yogyakarta, Donatus Asan Lamabelawa, Ketua Panitia Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dan HUT ke-22, Oemar Bayu B.M, serta perwakilan mantan pengurus TALA IA, Syafuad Nur Rahmad (Diego).
Dalam sambutannya, Donatus Asan Lamabelawa menegaskan bahwa perjalanan TALA IA selama 22 tahun merupakan proses institusionalisasi modal sosial yang berhasil mengubah ikatan kekeluargaan menjadi kekuatan kolektif yang produktif.
“Fungsi awal organisasi perantauan adalah mitigasi keterasingan. Organisasi TALA IA telah berevolusi menjadi ekosistem kaderisasi. Kami tidak hanya mereproduksi hubungan sosial, tetapi juga kapasitas intelektual, manajerial, dan politik anggota,” ujarnya.
Menurut Donatus, keberhasilan tersebut tercermin dari banyaknya alumni TALA IA yang kini berkiprah di berbagai bidang strategis, mulai dari birokrasi, politik, pendidikan tinggi, profesi hukum, hingga dunia usaha di berbagai wilayah Indonesia.
Namun demikian, ia menilai tantangan terbesar organisasi saat ini adalah membangun mekanisme yang mampu menerjemahkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di ruang akademik maupun profesional ke dalam kebutuhan pembangunan di Lewotana Lembata.
“Akumulasi modal manusia dan sosial ini tidak memiliki nilai transformatif jika berhenti pada level organisasi di rantau. Tantangan utama TALA IA adalah membangun mekanisme translasi yang sistematis antara pengetahuan yang diproduksi di Yogyakarta dan kebutuhan praksis pembangunan di Lewotana Lembata,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga memori kolektif organisasi melalui dokumentasi sejarah kepemimpinan dari periode 2004 hingga 2024 agar nilai-nilai organisasi tetap terjaga dan tidak mengalami amnesia institusional.
“Pulang ke Lewotana Lembata bukan sekadar nostalgia. Itu adalah imperatif politik dan organisasional. Tanpa mekanisme pulang yang terstruktur, organisasi berisiko menjadi ruang henti bagi potensi kader,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia LDK dan HUT ke-22, Oemar Bayu B.M, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tahun ini dirancang untuk menjawab kebutuhan regenerasi kepemimpinan yang mampu menjembatani konteks perantauan dan kebutuhan organisasi di kampung halaman.
“LDK kami rancang dengan fokus pada tiga dimensi kompetensi, yakni literasi kebijakan publik, manajemen organisasi nirlaba, dan etika kepemimpinan berbasis budaya Lembata. Tujuannya menghasilkan kader yang mampu menerjemahkan wacana pembangunan nasional ke kebutuhan spesifik organisasi di Lewotana,” jelasnya.
Menurut Oemar, tema besar “Pulang ke Lewotana Lembata” tidak hanya menjadi slogan perayaan, tetapi diterjemahkan ke dalam target program kerja yang konkret dan berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa semangat gotong royong yang terlihat dalam persiapan kegiatan merupakan bukti kuatnya modal sosial yang dimiliki TALA IA dan harus diarahkan pada agenda pembangunan organisasi yang terukur.
Pada kesempatan yang sama, mantan pengurus TALA IA, Syafuad Nur Rahmad atau Diego, mengingatkan pentingnya menjaga estafet kepemimpinan dan relevansi organisasi di tengah perubahan zaman.
“Kehadiran kami di sini adalah tanggung jawab moral untuk memastikan estafet kepemimpinan berjalan tanpa memutus memori kolektif organisasi. Organisasi akan kehilangan legitimasinya jika tidak mampu memproduksi kader yang relevan dengan kebutuhan Lewotana,” katanya.
Diego menilai tantangan terbesar TALA IA saat ini adalah menjaga relevansi organisasi di tengah dinamika sosial-politik dan perubahan karakter generasi muda.
“Kami yang pernah mengurus di periode penguatan organisasi melihat bahwa semangat gotong royong TALA IA masih hidup. Tugas generasi sekarang adalah mentransformasikan semangat itu menjadi program kerja yang sistematis dan menyentuh kebutuhan organisasi secara nyata,” pesannya.
Rangkaian kegiatan HUT ke-22 diawali dengan pembekalan materi Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk memperkuat kapasitas kader muda. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa syukur bersama sebagai bentuk refleksi atas perjalanan organisasi selama lebih dari dua dekade.
Nuansa budaya semakin terasa melalui pertunjukan tarian daerah Lembata yang dibawakan para anggota, sebelum ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, keberlanjutan, dan semangat baru dalam perjalanan organisasi.
Ke depan, TALA IA Yogyakarta menetapkan dua agenda strategis utama, yakni pelestarian dan dokumentasi budaya Lewotana di ruang perantauan serta pembentukan unit kajian kecil atau think tank yang akan mengkaji berbagai isu pembangunan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan organisasi.
“Jika kohesi internal organisasi tidak diarahkan pada agenda pulang dan membangun, maka organisasi akan menjadi ruang henti. Kami berkomitmen menjadikan pulang ke Lewotana Lembata sebagai proyek kolektif yang sistematis, terukur, dan berkelanjutan,” tegas para pengurus.
Perayaan HUT ke-22 TALA IA Yogyakarta akhirnya ditutup dengan doa bersama untuk persatuan, keselamatan, serta masa depan organisasi yang semakin kuat dalam mengabdi bagi Lewotana Lembata.
Reporter: Metro Timor News
Editor: Redaksi METROTIMORNEWS.ID







