KUPANG, METRO TIMORNEWS.ID — Ribuan lilin menyala di halaman Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Sabtu (29/8/2026) malam. Di tengah cahaya yang memenuhi kawasan Pascasarjana, doa dan kepedulian dipanjatkan bagi masyarakat Flores yang tengah menghadapi dampak bencana gempa bumi.
Nyala ribuan lilin tersebut bukan sekadar penerangan. Cahaya itu menjadi simbol solidaritas dan harapan bahwa masyarakat Flores tidak menghadapi masa sulit seorang diri.
Keluarga besar IAKN Kupang menggelar kegiatan “Doa untuk Flores” sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual kepada para korban serta masyarakat yang terdampak bencana.
Suasana haru terasa ketika civitas akademika bersama-sama menyalakan lilin dan memanjatkan doa. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta keluarga besar IAKN Kupang hadir dalam kegiatan yang sekaligus menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027.
Namun, kepedulian IAKN Kupang tidak berhenti pada doa.
Selain doa bersama, IAKN Kupang membuka penggalangan donasi sebagai bentuk aksi nyata untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak gempa.
Setiap peserta diberikan kesempatan untuk memberikan bantuan sesuai kemampuan. Dari aksi solidaritas tersebut, donasi yang terkumpul hari ini dan sebelumnya telah mencapai lebih dari Rp17 juta.
Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., mengatakan aksi tersebut merupakan wujud tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, ketika saudara-saudara di Flores mengalami duka dan kesulitan akibat bencana, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk hadir dan saling menolong.
“Prinsip mendalamnya adalah saudara-saudara kita yang ada di Flores membutuhkan. Kehidupan sesungguhnya adalah kita saling menolong dan saling hadir,” ujar I Made Suardana.
Ia menjelaskan, IAKN Kupang terus mendorong pembelajaran yang terpadu, holistik, produktif, dan transformatif. Karena itu, kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana juga menjadi bagian dari ruang pembelajaran nyata bagi sivitas akademika.
“Ini adalah dukungan dan tanggung jawab bersama. Kita menghadirkan ruang belajar sekaligus menghadirkan kepedulian,” katanya.
Tidak hanya berbicara tentang aksi solidaritas saat bencana terjadi, IAKN Kupang juga tengah menyiapkan langkah jangka panjang melalui sebuah program sosial yang lebih terstruktur.
Rektor mengungkapkan, ke depan IAKN Kupang akan mengembangkan “Dompet Sosial IAKN Kupang” sebagai wadah penggalangan dan penyaluran bantuan sosial secara berkelanjutan.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu terobosan agar respons terhadap bencana maupun persoalan sosial dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, sistematis, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Dompet Sosial IAKN Kupang ini bukan hanya untuk masyarakat di luar kampus, tetapi juga untuk masyarakat internal, termasuk mahasiswa kita yang mengalami duka cita atau menghadapi situasi sulit,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan program tersebut nantinya akan diperkuat dengan sistem pengelolaan yang memadai sehingga setiap bantuan dapat dipertanggungjawabkan secara jelas dan transparan.
Terkait donasi yang telah terkumpul, I Made Suardana mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama setempat untuk menentukan mekanisme penyaluran bantuan.
Bantuan tersebut nantinya dapat digunakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti sembako atau disalurkan langsung kepada masyarakat terdampak di wilayah bencana.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama setempat. Kemungkinan anggaran ini akan digunakan untuk pembelian sembako, atau nanti kita utus dari kampus untuk ke Flores atau daerah yang terdampak bencana,” ujarnya.
Ia menegaskan, meskipun nominal donasi yang terkumpul belum besar, nilai terpenting dari gerakan tersebut adalah semangat kebersamaan dan kepedulian yang ditunjukkan seluruh sivitas akademika IAKN Kupang.
“Rp17 juta lebih ini mungkin secara jumlah kecil, tetapi ini menjadi bagian dari komitmen bersama dan tanggung jawab bersama. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat,” katanya.
Kegiatan “Doa untuk Flores” menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya tentang kehilangan dan kesulitan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memilih untuk hadir bagi sesamanya.
Ribuan lilin yang menyala malam itu menjadi simbol bahwa di tengah kegelapan akibat bencana, selalu ada cahaya harapan.
Satu doa menjadi kekuatan. Satu tindakan menjadi pertolongan. Dan ketika dilakukan bersama, kepedulian kecil dapat berubah menjadi kekuatan besar.
Pesan “Satu doa, satu tindakan nyata” menjadi semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut.
IAKN Kupang mengajak seluruh masyarakat untuk tidak berhenti pada rasa prihatin, tetapi mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit.
“Setiap donasi Anda adalah harapan baru bagi mereka yang terdampak.”
Ketika Flores berduka, Kupang ikut menyalakan cahaya.
Sebab, satu lilin mungkin hanya memberikan cahaya kecil. Tetapi ketika ribuan lilin dinyalakan bersama, kegelapan menjadi lebih terang.
Begitu pula dengan kebaikan. Sekecil apa pun, ketika dilakukan bersama, ia dapat menjadi kekuatan besar untuk membantu Flores bangkit kembali.
(Martin Knaufmone)







