LARANTUKA, METRO TIMORNEWS.ID — Sorotan dan kritik terhadap Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim), khususnya Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen (ADD), kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Kritik tersebut berkaitan dengan penanganan para penyintas erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-laki yang hingga kini masih menjadi perhatian publik, terutama terkait kepastian tempat tinggal bagi warga terdampak bencana.
Sejumlah warganet menilai pemerintah daerah dinilai lamban dalam memberikan kepastian dan solusi bagi para penyintas yang terdampak erupsi.
Keluhan tersebut bahkan dikaitkan dengan pernyataan dan pengalaman sejumlah pihak yang mengaku mengetahui proses koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur dengan pemerintah pusat dalam penanganan para korban bencana.
Salah satu akun Facebook, Arif Rahman Hakim, melalui unggahannya menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan Bupati Flores Timur.
Dalam unggahannya, Arif menyinggung persoalan koordinasi antara Bupati Flores Timur dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), khususnya ketika pihak BNPB datang ke Larantuka untuk membahas bantuan bagi para pengungsi.
Ia mengungkapkan, pada saat Kepala BNPB datang ke Larantuka, Bupati Flores Timur disebut hendak melakukan perjalanan ke Jakarta.
Menurut Arif, kondisi tersebut sempat membuat pihak BNPB kecewa karena agenda koordinasi terkait bantuan untuk para pengungsi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
“Suatu hari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional datang ke Larantuka dalam rangka bantuan pengungsi dan mau berkordinasi dengan Bupati ADD. Pada saat yang sama ADD mau meninggalkan Larantuka menuju Jakarta,” tulis Arif dalam unggahannya.
Ia melanjutkan, pihak BNPB kemudian menghubungi mantan Penjabat Bupati Flores Timur karena merasa kecewa dengan kondisi tersebut.
Menurut Arif, setelah dilakukan komunikasi dengan Sekretaris Daerah Flores Timur, keberangkatan Bupati akhirnya ditunda sehingga koordinasi dengan pihak BNPB dapat dilakukan.
Arif juga menyebut bahwa dalam kesempatan tersebut pihak BNPB menyampaikan betapa sulitnya melakukan koordinasi dengan Bupati Flores Timur terkait persoalan pengungsi.
Unggahan tersebut kemudian mendapat beragam tanggapan dari warganet. Sebagian nitizen menyampaikan dukungan terhadap kritik tersebut, sementara lainnya memilih memberikan pandangan berbeda dan meminta persoalan penanganan penyintas tidak hanya dilihat dari satu sisi.
Sejumlah komentar bahkan menggunakan bahasa yang cukup keras untuk mengkritik Bupati Flores Timur. Salah satu komentar dari akun Aba Bachtiar Lamawuran menyinggung bahwa Bupati dinilai lebih memperhatikan persoalan kesejahteraan hewan dibandingkan persoalan para pengungsi.
Sementara akun lainnya melontarkan tudingan mengenai penggunaan anggaran daerah. Namun, tudingan-tudingan tersebut merupakan pernyataan dari akun media sosial dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Persoalan penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri masih menjadi perhatian masyarakat Flores Timur. Kepastian tempat tinggal dan keberlanjutan kehidupan warga terdampak menjadi salah satu persoalan yang terus dinantikan penyelesaiannya.
Hingga berita ini diturunkan, Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen belum berhasil dikonfirmasi terkait berbagai tudingan dan kritik yang beredar di media sosial tersebut.
MetroTimorNews.id tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak Pemerintah Kabupaten Flores Timur maupun Bupati Anton Doni Dihen atas pemberitaan dan berbagai pernyataan yang beredar tersebut.
(*RS)







