Oleh : Chindy Benu
NIM : 13123020
Prodi: FKIP Matematika UNWIRA Kupang
Indonesia berdiri di atas paradoks yang menantang: Indonesia menjadi rumah bagi enam agama resmi dan ratusan kepercayaan lokal. Sebagai wara negara Indonesia tentunya merasa bangga dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun kenyataannya, kita masih bergulat dengan ketegangan antarumat beragama.
Dari berita tentang penutupan rumah ibadah, diskriminasi terhadap kelompok agama tertentu, bahkan kekerasan atas nama agama, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah toleransi beragama hanya slogan politik, atau sebuah panggilan eksistensial yang harus kita jawab?
Secara filosofis, toleransi sering disalahpahami sebagai sikap pasif, “membiarkan orang lain berbeda”. Tetapi ini adalah sebuah pemahaman yang dangkal. Sejatinya toleransi bukan tentang “saya mengizinkan kamu eksis” atau seolah-olah kita punya kuasa atas kehidupan orang lain.ini bukan toleransi sejati, melainkan sebuah hegemoni yang terselubung.
Toleransi sejati adalah pengakuan bahwa orang lain punya hak yang sama atau setara dengan kita untuk mencari Tuhan dengan caranya sendiri.kita dapat meyakini kebenaran kita adalah yang paling benar, tetapi ini adalah penghormatan terhadap martabat manusia sebagai sesama makhluk pencari makna sejati.
Dalam kehidupan ini, kita sering melihat bagaimana isu agama dipakai untuk kepentingan politik. Dari aksi massa yang memobilisasi jutaan orang, hingga kampanye pemilu yang main isu SARA. Situasi semacam ini, agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian spiritual atau mengikat kembali dengan Yang Ilahi justru menjadi alat untuk memecah belah. Ini adalah penyelewengan terhadap hakikat agama itu sendiri. Seperti sebuah konflik pendirian rumah ibadah sering kali bukan murni soal agama, tetapi karena ada kepentingan politik lokal, persaingan ekonomi, atau sekadar iri hati yang dibungkus dengan dalil agama.Banyak konflik berakar pada pembacaan literal terhadap ayat suci tanpa mempertimbangkan konteks historis dan hermeneutis.
Di mana orang lebih membaca ayat suci secara harfiah tanpa memahami kapan, mengapa, dan dalam situasi atau konteks seperti apa ayat-ayat itu. Oleh karena itu, semuanya perlu dipahami dengan baik juga dalam konteks yang tepat dan dengan semangat kasih yang menjadi inti semua ajaran agama.
Di era modern ini, kita menghadapi sebuah krisis: bagaimana mengklaim kebenaran absolut tanpa jatuh pada absolutisme yang menghancurkan? Hampir semua agama mengajarkan bahwa ajarannya itu adalah kebenaran.
Hal ini menjadi sesuatu yang wajar dan bahkan sangat penting untuk keyakinan setiap orang.Namun, perlu diketahui bahwa dengan meyakini kebenaran kita tidak berarti kita boleh memaksakan atau menyakiti yang berbeda.
Dalam ajaran Islam mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bagimu agamamu, bagiku agamaku. Namun dalam praktiknya, ada sekelompok orang yang masih ditindas, dianiaya, dan dihukum karena perbedaan pendapat. Agama Kristen mengajarkan tentang kasih bahkan kepada musuh, namun umat Kristen kadang mengalami diskriminasi dalam pendirian gereja. Dalam agama Hindu dan Buddha dengan konsep tanpa kekerasan dan pengakuan berbagai jalan spiritual seharusnya menjadi contoh, tetapi kasus di Bali menunjukkan mayoritas agama apapun bisa lupa menghormati minoritas.
Namun perlu diketahui bahwa semua agama pada intinya mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan kedamaian. Jika ada yang mengatasnamakan agama untuk membenci, itu bukan agama lagi melainkan penyalahgunaan agama. Tuhan yang Maha Pengasih tidak mungkin menghendaki agar anak-anak-Nya saling menyakiti atas nama-Nya.
“Ketuhanan Yang Maha Esa” dapat kita ketahui dalam pancasila pada sila yang pertama mejadi sebuah fondasi dan solusi yang cerdas dari pendiri bangsa. Hal ini adalah sebuah pengakuan bahwa negara berdiri di atas nilai-nilai spiritual, tapi tidak mengklaim satu agama lebih benar dari yang lain. Semua agama dihormati sama.“Berbeda-beda, tapi tetap satu bangsa”.Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya sekadar suatu slogan, melainkan ini adalah sebuah filosofi hidup. Karena itu, perbedaan bukanlah suatu ancaman tetapi kekayaan.
Karena itu yang perlu dan harus kita lakukan adalah yang pertama, adanya pendidikan yang jujur dan mendalam terutama bagi generasi penurus bangsa agar dapat mengetahui bahwa perbedaan itu indah, bukan hanya sekedar tahu tetapi benar-benar memahami. Kedua,sebuah dialog yang berani dan jujur perlu adanya dialog yang jujur sehingga bukan hanya dialog yang pura-pura tetapi sebuah dialog yang berani membahas tentang suatu perbedaan. Ketiga, kembali pada esensi spiritual, dalam hal ini setiap pemeluk agama perlu adanya introspeksi diri sehingga tidak tercipta berbagai macam persoalan dan perselisihan dalam perbedaan.
Indonesia bisa menjadi contoh bagi dunia tentang bagaimana hidup bersama dalam perbedaan. Tetapi itu hanya sebuah kemungkinan apabila semua agama dan kepercayaan berusaha belajar untuk melihat yang lain bukan sebagai ancaman, tapi sebagai saudara sebangsa. Toleransi bukan tentang menghapus perbedaan atau berpura-pura semua agama sama. Toleransi adalah tentang menghormati kemanusiaan di balik setiap perbedaan itu. Perbedaan adalah sebuah rahmat. Kekerasan atas nama perbedaan adalah dosa. Maka, mari kita jaga rumah bersama kita: Indonesia, dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang sejati bukan hanya sebuah ungkapan semata, tetapi dalam tindakan nyata sehari-hari.
Sekian.







