KUPANG, METRO TIMORNews.ID – Dunia pendidikan vokasi pertanian Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mencatat capaian membanggakan. Dalam langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori di ruang kelas dan kebutuhan nyata industri, Ice Y. Lopsau, SP., Gr., seorang guru berdedikasi tinggi dari SMK Negeri Toianas, sukses mengikuti program magang Teaching Factory (TEFA) yang bergengsi.
Program yang merupakan bantuan pemerintah skema reguler Tahun 2025 ini resmi dimulai pada 01 Desember 2025 dan dilaksanakan di Nutrimore Garden Kupang—salah satu pionir agrobisnis modern di NTT. Keikutsertaan Ice Lopsau bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi sebuah langkah besar SMK Negeri Toianas untuk memastikan kurikulum sekolah selaras dengan standar industri terkini.
Mentransformasi Pengetahuan dari “Lantai Pabrik”
Magang Teaching Factory ini secara khusus berfokus pada teknik budidaya hidroponik sayuran daun, sebuah teknologi yang menjadi tulang punggung pertanian presisi masa depan. Selama kegiatan berlangsung, Ice Lopsau terlibat langsung dalam praktik manajemen kualitas, inovasi produksi, dan proses operasional yang diterapkan oleh Nutrimore Garden.
“Pelajaran di pabrik ini sungguh luar biasa dan membuka wawasan. Kami tidak hanya disajikan teori, tetapi benar-benar mempraktikkan inovasi dan standar kualitas ketat yang diterapkan industri,” ungkap Ice Lopsau dengan penuh antusiasme.
Ia menambahkan bahwa pengalaman ini merupakan bekal berharga bagi dirinya dan sekolah.
“Ini adalah ‘pupuk’ penting yang akan kami bawa pulang untuk menyuburkan dan meningkatkan kualitas lulusan SMK kami, sehingga mereka benar-benar siap menghadapi dunia kerja,” ujarnya.
Menguatkan Kolaborasi SMK dan Industri
Program magang ini bukan hanya simbol komitmen seorang guru terhadap kualitas pendidikan, tetapi juga menjadi bukti kuat bahwa kolaborasi antara SMK dan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) adalah langkah strategis mencetak lulusan yang kompeten, berdaya saing, dan siap menyongsong masa depan pertanian Indonesia yang inovatif dan berkelanjutan.
Reporter: Martin Knaufmone








