Harmonisasi Suara dan Kerja Keras Tiga Bulan Antar Tim Raih Hadiah Rp10 Juta.
Malam itu, suasana di arena Lomba Paduan Suara Gerejawi HUT ke-66 GMIT Imanuel Nemberala terasa berbeda. Tepuk tangan bergemuruh ketika nama GMIT Menggelama diumumkan sebagai Juara I. Wajah-wajah lelah yang selama berbulan-bulan menjalani latihan intensif seketika berubah menjadi senyum bahagia. Beberapa peserta saling berpelukan, sementara yang lain mengangkat tangan ke langit sebagai ungkapan syukur.
Bagi mereka, kemenangan ini bukan sekadar trofi atau hadiah pembinaan sebesar Rp10 juta. Di balik pencapaian itu tersimpan cerita panjang tentang komitmen, pengorbanan waktu, dan semangat pelayanan yang dibangun selama tiga bulan penuh.
Lomba yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-66 GMIT Imanuel Nemberala, Klasis Rote Barat, Selasa (2/6/2026), mempertemukan jemaat-jemaat terbaik dari berbagai wilayah di Kabupaten Rote Ndao. Mengusung tema
“Biarlah Yang Bernapas Memuji Tuhan”
kegiatan ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga perayaan iman melalui harmoni suara.
Ketika giliran tampil tiba, sebanyak 32 anggota Paduan Suara GMIT Menggelama melangkah mantap menuju panggung. Para pria mengenakan jas hitam yang rapi, sementara para wanita tampil anggun dalam balutan gaun hitam. Penampilan mereka sederhana, namun penuh wibawa.
Nada demi nada mengalun dengan teratur. Harmoni suara sopran, alto, tenor, dan bas berpadu indah memenuhi ruangan. Tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga sarat penghayatan.
Setiap bait lagu seolah menjadi doa yang dinyanyikan bersama.
Di balik penampilan memukau itu, tersimpan perjuangan panjang yang tidak terlihat oleh penonton.

Jacobia Smaut, S.Pd., salah satu peserta yang juga Ketua Ikatan Amarasi (IKARASI), mengisahkan bagaimana tim harus membagi waktu antara pekerjaan, pelayanan gereja, urusan keluarga, dan latihan rutin.
“Kemenangan ini merupakan hasil kerja keras seluruh anggota tim. Kami menjaga kekompakan vokal, menyelaraskan tempo dan dinamika suara, serta menjalani latihan secara intensif selama kurang lebih tiga bulan,” tuturnya kepada MetroTimorNews.id.
Latihan demi latihan dijalani dengan disiplin. Tidak jarang anggota tim harus datang setelah menyelesaikan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Ada yang menempuh perjalanan cukup jauh, ada pula yang harus meninggalkan waktu istirahat demi mengikuti jadwal latihan.
Namun, semua itu dijalani dengan sukacita.
Menurut Jacobia, keberhasilan tim bukan hanya karena kemampuan bernyanyi, tetapi juga karena penghayatan terhadap pesan lagu yang dibawakan.
“Kami berusaha menyampaikan pesan lagu dengan hati. Bukan sekadar menyanyi, tetapi bagaimana pujian itu bisa dirasakan oleh juri dan seluruh jemaat yang hadir,” katanya.
Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari peran pelatih Vian Lolo dan Dirigen Yacomina Adolfina Manuain. Keduanya menjadi sosok penting yang membentuk kualitas musikalitas sekaligus mental para peserta.
Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing setiap anggota agar mampu menampilkan kemampuan terbaik saat berada di atas panggung.
“Kami bersyukur karena seluruh anggota tim dapat menampilkan yang terbaik. Mereka tampil percaya diri dan menjalankan setiap arahan dengan baik saat berada di atas panggung,” ujar Vian Lolo yang diamini oleh Yacomina Adolfina Manuain.

Sementara itu, Ketua Majelis Harian Jemaat GMIT Menggelama, Pdt. Ronald Arwadi Kolo, S.Th., melihat kemenangan ini sebagai buah dari kesetiaan jemaat dalam melayani Tuhan melalui talenta yang dimiliki.
“Atas nama gereja, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mempersembahkan talenta terbaik mereka untuk kemuliaan Tuhan. Meski memiliki berbagai kesibukan dan rutinitas sehari-hari, mereka tetap meluangkan waktu untuk berlatih dan melayani melalui pujian,” ujarnya.
Baginya, lomba paduan suara tidak semata berbicara tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana mempererat persekutuan dan memperkuat pelayanan gereja.

Ketika pengumuman pemenang dibacakan, perjuangan selama berbulan-bulan itu akhirnya terbayar. GMIT Menggelama dinobatkan sebagai Juara I, disusul GMIT Imanuel Nemberala sebagai Juara II dan GMIT Solagracia Alukama di posisi Juara III.
Namun bagi para anggota tim, kemenangan terbesar bukanlah angka dalam penilaian dewan juri.
“Yang terpenting bagi kami adalah memuji Tuhan. Juara merupakan bonus dari kerja keras dan kebersamaan yang kami bangun selama ini,” kata Jacobia dengan mata berbinar.
Menjelang berakhirnya kegiatan, para peserta kembali berkumpul. Tawa dan canda terdengar di antara mereka. Ada rasa lega, bangga, sekaligus syukur.
Keberhasilan GMIT Menggelama menjadi bukti bahwa talenta yang diasah dengan disiplin, kerja sama, dan semangat pelayanan mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Lebih dari sekadar kemenangan lomba, momen ini menjadi kisah tentang iman, kebersamaan, dan pujian yang dipersembahkan dengan sepenuh hati kepada Tuhan.
Editor: Redaksi MetroTimorNews.id







