ROTE TENGAH – Harapan Baru dari sebuah kabar yang tumbuh di tengah aksi tanam pohon. Di halaman SMA Negeri 1 Rote Tengah, Sabtu (29/11/2025), angin pagi membawa aroma tanah yang baru disiram.
Para siswa menanam pohon dalam kegiatan bertema “Cinta Literasi Budaya”, namun rupanya bukan hanya bibit yang tumbuh hari itu, sebuah harapan baru pun ikut bersemi.
Di antara para siswa dan guru, berdiri Samsul Bahri, perwakilan PT Bo’a Development.
Dengan suara tenang namun mantap, ia menyampaikan kabar yang membuat banyak mata berbinar, Rote Hospitality Academy (RHA) resmi membuka pintu selebar-lebarnya untuk seluruh pelajar Rote Ndao.
Kabar itu muncul spontan, setelah seorang guru bertanya penuh harap tentang kemungkinan kuota bagi muridnya yang akan tamat sekolah.
Pertanyaan sederhana, namun penuh kegelisahan khas seorang pendidik yang ingin melihat masa depan muridnya lebih cerah.
Samsul tak menunggu lama untuk memberi kepastian.
“RHA bukan hanya untuk mereka yang berada di sekitar Rote Barat. RHA terbuka untuk seluruh Rote Ndao,” ungkapnya tegas.
Suasana berubah hening sejenak, hening yang menandakan kabar baik sedang meresap.
Samsul kemudian menjelaskan proses pendaftaran yang sengaja dibuat inklusif dan tidak rumit.
Informasi disebar melalui media sosial, dan calon siswa bisa mendaftar secara online atau menghubungi kontak person yang tersedia. Semua dirancang agar tak ada anak yang tersisih hanya karena terkendala akses.

Namun bukan itu kabar terbaiknya.
Dengan nada penuh keyakinan, Samsul merinci komitmen PT Bo’a Development untuk menghilangkan hambatan biaya, kendala yang sering kali membuat anak-anak pedesaan mengurungkan mimpi mereka.
“Biaya pendaftaran gratis. Bahkan transportasi, makan dan semua fasilitas penunjang ditanggung oleh PT Bo’a Development. Tidak ada pungutan apa pun,” ungkapnya.
Beberapa guru terlihat saling pandang. Beberapa siswa menunduk, seolah menyembunyikan senyum lega.
Di sebuah daerah di mana mimpi kerap tumbuh dengan hati-hati, kabar seperti ini rasanya seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Samsul menutup penjelasannya dengan kalimat yang menggema kuat di antara para peserta kegiatan.
“Kenapa demikian? Karena kami ingin memastikan bahwa anak-anak Rote Ndao harus menjadi raja di kampungnya sendiri,” ucapnya diikuti tepuk tangan meriah.
Di tengah deretan bibit pohon yang baru ditanam itu, ucapan Samsul seakan menjadi pupuk tambahan bagi harapan generasi muda Rote Ndao bahwa mereka tidak hanya layak bermimpi, tetapi juga layak mendapatkan kesempatan nyata untuk mewujudkannya.








