KUPANG, METRO TIMORNEWS.ID – Dalam upaya nyata mencetak generasi emas yang inklusif dan berjiwa kepemimpinan, sebanyak delapan mahasiswa Program Studi Pendidikan Penyuluhan Agama (PPA) Semester III Kelas A, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen (FKIPK), Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menggelar sosialisasi inspiratif di SMP Negeri 13 Kupang, Kamis 15 Januari 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Moderasi Beragama: Bosan Jadi Follower? Yuk Jadi Leader”, ini bukan sekadar sosialisasi biasa. Acara ini merupakan wujud nyata implementasi kolaboratif dari tiga mata kuliah inti, yakni Metode Penyuluhan, Filsafat Ilmu, dan Komunikasi Antar Pribadi, sekaligus menjadi bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berdampak langsung bagi siswa menengah.
Sentuhan Akademis di Balik Layar
Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari bimbingan tangan dingin dosen pengampu, Merling T.L.L.C Messakh, M.Pd. Merling yang dikenal sebagai akademisi yang visioner dalam mengintegrasikan teori di kelas dengan praktik nyata di lapangan. Melalui kegiatan ini, IAKN Kupang membuktikan komitmennya dalam melahirkan calon penyuluh agama yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cakap dalam berkomunikasi dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Dalam sambutannya, Merling T.L.L.C Messakh, M.Pd. menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah. Merling berharap kegiatan ini menjadi pemantik semangat bagi para siswa untuk tumbuh menjadi pemimpin yang moderat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar di balik meja, tetapi terjun langsung memberikan solusi bagi tantangan zaman. Harapannya, nilai-nilai yang dibagikan hari ini mampu membentuk karakter siswa SMPN 13 Kupang menjadi pribadi yang toleran dan solutif,” ungkapnya.
Esensi Moderasi: Jalan Tengah Menuju Pemimpin Masa Depan
Sindi Junarci Foes, perwakilan mahasiswa yang tampil memukau sebagai pemateri, membedah secara mendalam esensi moderasi beragama sebagai “jalan tengah”. Ia menekankan bahwa moderasi bukan berarti kompromi terhadap keyakinan, melainkan cara beragama yang seimbang: taat menjalankan ajaran agama sendiri sembari menjunjung tinggi kemanusiaan.
Sindi memaparkan tiga pilar utama moderasi bagi siswa:
1. Tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain.
2. Menghormati martabat agama lain tanpa merendahkan.
3. Mengedepankan perdamaian dalam menyelesaikan setiap perbedaan.
Lebih lanjut, ia menantang para siswa untuk bertransformasi dari sekadar pengikut (follower) menjadi pemimpin (leader) yang memiliki toleransi aktif, empati mendalam, dan kemampuan komunikasi persuasif tanpa menyakiti.
Apresiasi dari SMP Negeri 13 Kupang
Kehadiran mahasiswa IAKN Kupang ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Detje Ludji Nguru, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan SMP Negeri 13 Kupang, menyampaikan rasa terima kasih dan kekagumannya atas kualitas materi yang dibawakan oleh para mahasiswa.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran adik-adik mahasiswa IAKN Kupang. Materi ini sangat relevan dengan tantangan generasi muda saat ini. Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut karena dampak positifnya sangat terasa bagi pembentukan karakter anak didik kami,” ujar Detje dengan penuh harap.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan diskusi hangat, membuktikan bahwa mahasiswa IAKN Kupang siap menjadi garda terdepan dalam merawat keberagaman dan kerukunan di Nusa Tenggara Timur.
Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang terus bertransformasi menjadi pusat keunggulan akademik yang mengedepankan nilai-nilai Kristiani dan semangat kebangsaan, mencetak lulusan yang siap mengabdi demi kemajuan bangsa dan negara.
Reporter: Martin








