Adonara, Metrotimornews.id– Ketegangan antarwarga kembali mencuat di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bentrokan yang terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026, melibatkan warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan warga Desa Narasaosina.
Konflik yang diduga dipicu oleh perebutan lahan tersebut berujung pada insiden berdarah. Sedikitnya lima orang dilaporkan mengalami luka tembak akibat senjata rakitan yang digunakan dalam bentrokan antarwarga tersebut.
Kapolres Flores Timur, Adhitya Octorio Putra, melalui Kasie Humas Eliazer Kalelado menyampaikan bahwa aparat kepolisian telah bergerak cepat setelah menerima laporan kejadian. Personel dari Polres Flores Timur bersama anggota Polsek Adonara Timur langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan.
“Kami akan terus memantau dan berkoordinasi dengan semua pihak agar situasi kamtibmas tetap aman. Kami mengimbau warga agar tetap tenang, polisi siap melakukan pengamanan di lokasi,” tegas Eliazer.
Selain aparat kepolisian, personel dari TNI melalui Koramil Adonara Timur juga turun langsung ke lokasi bentrokan. Aparat gabungan melakukan langkah penanganan awal guna mencegah konflik meluas ke wilayah lain. Hingga saat ini, personel gabungan masih berjaga di lokasi untuk memastikan keamanan warga sekitar.
Kapolsek Adonara Timur, Andreas Peu Lamury, membenarkan adanya bentrokan tersebut. Namun ia menegaskan bahwa penyebab pasti perselisihan masih belum dapat dipastikan.
“Personel di lapangan masih fokus pada upaya pengamanan dan stabilisasi situasi. Rincian pemicu awal bentrokan belum bisa kami sampaikan,” ujarnya.
Sementara itu, para korban bentrokan mulai mendapatkan penanganan medis. Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura, menjelaskan bahwa dua korban dirujuk ke RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Kedua korban tersebut masing-masing berinisial JS alias Jamaludin (22) dan MA alias Mansyur (39). Sebelumnya, keduanya sempat menjalani perawatan di Puskesmas Ile Boleng sebelum akhirnya dirujuk.
“Jamaludin mengalami luka tembak di paha kanan, sedangkan Mansyur terluka di leher sebelah kanan tepat di bawah telinga. Keduanya masuk ke Puskesmas sekitar pukul 12.00 WITA,” terang Stefanus kepada awak media.
Selain dua korban yang dirujuk, tiga korban lainnya juga menjalani perawatan di RSP Pratama Adonara. Direktur rumah sakit tersebut, Doni Gunawan, menyebut ketiga korban adalah ID alias Inosensius (36), STD alias Sipri (66), dan ANK alias Agustinus.
“Ketiga korban mengalami luka tembak di paha dan kaki. Kondisi mereka stabil dan masih dalam perawatan,” jelas Doni.
Ia juga menyampaikan bahwa dua korban sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan intensif.
“Dua orang sudah pulang, sementara satu korban masih dalam observasi pasca pengangkatan proyektil,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, aparat keamanan dari kepolisian dan TNI masih berjaga di lokasi bentrokan. Aparat terus berupaya meredakan ketegangan agar konflik tidak kembali pecah.
Peristiwa ini menambah daftar panjang konflik lahan yang terjadi di wilayah Adonara Timur. Bentrokan antarwarga bukan kali pertama terjadi di kawasan tersebut, sehingga aparat berharap semua pihak dapat menahan diri serta mengedepankan musyawarah untuk menyelesaikan sengketa.
Masyarakat sekitar juga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memberikan solusi permanen atas konflik lahan yang berulang tersebut. Pasalnya, bentrokan semacam ini tidak hanya menimbulkan korban, tetapi juga mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi warga.
Dengan penanganan cepat dari aparat keamanan, diharapkan situasi di Adonara Timur segera kembali kondusif dan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas dengan aman.
(*RS)








