KUPANG,METROTIMORNEWS.ID— Mahasiswa Kelompok 3 melaksanakan kegiatan penyuluhan bertema “Literasi Digital Aman bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)” yang terletak di Kecamatan Maulafa. kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang dilaksakan dalam dua sesi yakni ; Kamis,12/03/2026 dan Sabtu, 14/03/2026.
Sesi pertama dilaksanakan pada 12 Maret 2026, yang difokuskan pada kegiatan survei lokasi, serta wawancara dengan orang tua dari anak ABK bernama Alfin Fransiskus Amleni. Kegiatan ini bertujuan untuk memahami kondisi anak, kebutuhan belajar, serta pola pendampingan yang selama ini dilakukan oleh keluarga.
Selanjutnya, sesi kedua dilaksanakan pada 14 Maret 2026, berupa kegiatan penyuluhan yang bertempat langsung di rumah saudara Alfin. Kegiatan ini dihadiri oleh 7 orang peserta yang terdiri dari 1 anak ABK yang di dampingi oleh Ibu Amleni sebagai ibu kandung, dan 5 peserta lainnya yang merupakan Keluarga dan masyarakat setempat. Suasana berlangsung hangat dan interaktif.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran yang dibimbing oleh dosen pengampu, Ibu Nofriana Baun, M.Pd.K, yang mendorong mahasiswa untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan pendidikan yainklusif.
Materi penyuluhan disampaikan oleh tiga pemateri dari Kelompok 3. Hendrina Lakusa selaku ketua kelompok membuka kegiatan dengan menjelaskan pentingnya literasi digital bagi anak ABK di era modern. Ia menekankan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam mengakses teknologi, namun tetap memerlukan pendampingan agar penggunaannya aman.
Materi berikutnya disampaikan oleh Yusri Koriana Faot yang menjelaskan cara mengenali konten digital yang aman dan tidak aman, serta risiko yang dapat muncul jika penggunaan media digital tidak diawasi.
Selanjutnya, Oriston Teneo menyampaikan materi mengenai pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak ABK saat menggunakan teknologi, serta bagaimana membangun kebiasaan penggunaan digital yang sehat dan bertanggung jawab.

Saudara Alfin sebagai target dari materi yang telah di sampaikan dan menjadi gambaran nyata untuk setiap orang bahwa keinginan untuk belajar tidak dapat di batasi oleh keterbatasan fisik dan Psikologi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat akan pentingnya literasi digital yang aman bagi anak ABK. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata dukungan terhadap pendidikan inklusif, agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di tengah kemajuan teknologi. (FaGan)








