SOE,METROTIMORnews.ID – Kurangnya Pengawasan Standar Kelayakan Makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Menuai Kritik Setelah Ratusan Siswa Keracunan di TTS
Sejumlah pihak mengkritik keras kurangnya pengawasan terhadap standar kelayakan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan di beberapa wilayah. Pasalnya, sejak program ini berjalan, tidak sedikit siswa di sejumlah sekolah diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG.
Kejadian tersebut kembali terulang pada Jumat, 3 Oktober 2025, di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), di mana ratusan siswa terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soe untuk mendapatkan perawatan medis. Para siswa mengalami gejala muntah-muntah, mual, dan pusing setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.
Meski dugaan keracunan kuat, hingga saat ini belum ada hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang disajikan dalam program tersebut.
Menanggapi insiden ini, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), David I. Boimau, A.Md, menegaskan agar persoalan ini tidak dipandang remeh sebagai akibat kelalaian semata.
“Keracunan MBG di Soe jangan dilihat sebagai masalah sepele dan normatif seperti yang terjadi di daerah lain, sehingga dianggap sebagai masalah kelalaian,” tegas David.
Politisi dari Partai Hanura ini juga mengingatkan agar kejadian ini tidak dibandingkan hanya secara statistik, mengingat dari sekian banyak siswa di TTS, hanya beberapa persen yang mengalami keracunan.
David menyarankan agar dalam pelaksanaan MBG ke depan, bahan makanan yang digunakan harus diambil langsung dari pengusaha lokal setempat.
“Saran saya, kalau MBG ini mau dilanjutkan maka wajib hukumnya semua bahan yang dimasak didatangkan dari pengusaha lokal setempat dan kurangi mendatangkan dari luar daerah,” ujarnya.
Lebih lanjut, David mengingatkan agar pengawasan terhadap vendor penyedia makanan MBG dilakukan dengan lebih ketat demi menjamin kualitas dan keamanan makanan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan gizi siswa, David juga mengusulkan agar dana pengelolaan MBG diserahkan kepada orang tua siswa agar mereka yang mengelola langsung makanan tersebut. Ia bahkan menyarankan agar model program MBG diganti menjadi pemberian beasiswa gratis atau memberikan dana langsung kepada orang tua siswa agar mereka yang mengatur sendiri kebutuhan gizi anaknya.
“Bisa juga modelnya sama seperti dulu, Pemberian Makanan Tambahan Sekolah (PMTS), di mana dananya diberikan kepada orang tua siswa untuk memasak di sekolah,” tutup David Boimau.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ratusan siswa yang mengalami gejala keracunan berasal dari lima sekolah di Kota Soe, yakni TK Ora et Labora Soe, SD GMIT Soe II, SD Inpres Soe, SD Advent Soe, dan SD Inpres Oenasi.
(*depo)








