Di saat sebagian besar anak menikmati masa liburan sekolah dengan berbagai aktivitas santai, puluhan anak di Kecamatan Amanatun Utara justru memanfaatkan waktu libur untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka. Setiap hari, Rumah Literasi Thomas Edison yang berlokasi di Tukfenu, Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dipenuhi anak-anak yang datang untuk membaca, menulis, berhitung, dan bercerita bersama.
Semangat belajar yang ditunjukkan anak-anak tersebut menjadi gambaran bahwa budaya literasi mulai tumbuh dan berkembang di wilayah pedesaan. Bahkan, jumlah peserta yang mengikuti kegiatan di Rumah Literasi Thomas Edison terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Pendiri Rumah Literasi Thomas Edison, Thomas Edison Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE., mengatakan bahwa sejak pertama kali dibuka, rumah literasi tersebut hanya diikuti oleh 12 anak. Namun kini jumlah warga belajar telah meningkat menjadi 42 peserta yang berasal dari berbagai desa dan sekolah.
“Peningkatan jumlah peserta ini menunjukkan bahwa minat belajar anak-anak semakin tinggi. Mereka datang dengan kesadaran sendiri untuk belajar, membaca, menulis, dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi selama masa liburan sekolah,” ujarnya.
Peserta yang mengikuti kegiatan tidak hanya berasal dari Desa Lilo, tetapi juga dari Desa Muna dan Desa Snok. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, antara lain SD GMIT Putain 2, SD Katolik Yaswari Putain 3, SD Inpres Ayotupas, SD Negeri Bimate, SMP Kristen 1 Amanatun Utara, SMP Negeri Putain, SMP Negeri 1 Amanatun Utara, dan SMP Katolik St. Yohanes Don Bosco Putain.
Menurut Thomas Edison Kabu, kegiatan yang dilaksanakan difokuskan pada penguatan kemampuan literasi, numerasi, serta keterampilan berbicara dan menulis. Berbagai aktivitas dirancang secara menyenangkan agar anak-anak tetap termotivasi belajar selama masa liburan.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah dedikasi para peserta yang berasal dari lokasi cukup jauh. Demi mengikuti kegiatan belajar hingga sore hari, mereka rela membawa bekal makan siang dari rumah agar dapat tetap berada di Rumah Literasi tanpa harus pulang terlebih dahulu.
Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan jarak dan fasilitas tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk terus menimba ilmu. Dengan penuh antusias, mereka mengikuti setiap kegiatan yang diberikan, mulai dari membaca buku, berdiskusi, hingga berlatih menulis.
Selain kegiatan membaca dan bercerita, peserta juga mendapatkan pendampingan menulis surat dengan tema “Tokoh Inspiratifku” dan “Aku dan Cita-citaku”. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengenal sosok-sosok yang menginspirasi, mengembangkan kemampuan menulis, serta belajar merancang masa depan melalui cita-cita yang mereka impikan.
Thomas Edison Kabu menegaskan bahwa Rumah Literasi Thomas Edison hadir bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendorong anak-anak untuk berpikir kritis, kreatif, dan berani mengekspresikan gagasan mereka.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang terus memberikan dukungan dan kepercayaan kepada anak-anak untuk mengikuti kegiatan belajar di rumah literasi tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada anak-anak untuk terus belajar. Dukungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kebiasaan membaca dan budaya literasi sejak usia dini,” katanya.
Rumah Literasi Thomas Edison membuka kegiatan belajar setiap hari, termasuk pada Minggu sore. Kehadirannya menjadi ruang belajar alternatif yang ramah, terbuka, dan menyenangkan bagi anak-anak yang ingin terus mengembangkan potensi diri, baik selama masa liburan maupun di luar jam sekolah.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi daerah pedesaan, Rumah Literasi Thomas Edison membuktikan bahwa gerakan literasi berbasis masyarakat mampu menjadi motor penggerak perubahan. Dari sebuah ruang belajar sederhana di pelosok Amanatun Utara, lahir harapan baru bahwa pendidikan yang berkualitas dapat tumbuh melalui semangat belajar, kepedulian, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.








