ROTETIMUR, METROTIMORNEWS.ID — Di bawah sengatan matahari Rote Timur yang menyengat siang hari dan semilir angin pantai yang mulai turun menjelang sore, sebuah lapak kayu sederhana berdiri tenang di pinggir jalur wisata Desa Matasio.
Tak ada yang menyangka, lokasi yang kini ramai dikunjungi itu dulunya hanyalah hamparan hutan rawa dengan pohon gewang khas Rote. Namun sejak kehadiran PT Garam pada Agustus 2025, wajah kawasan itu berubah.
Jalan yang tadinya sunyi kini menjadi jalur hidup. Beberapa lapak warga mulai tertata rapi di sekitar kantor NK, memberi warna baru bagi desa. Kawasan tersebut pelan-pelan menjelma menjadi sumber wisata baru sekaligus pasar ekonomi kecil yang menghidupkan masyarakat sekitar.
Di antara deretan lapak itu, berdirilah lapak milik Katrin Malo—sederhana, namun penuh cerita. Dari situlah perempuan asal Sumba yang kini menetap di Rote menjaga asa untuk keluarganya.

Setiap pagi hingga sore, Katrin membuka lapaknya. Dengan telaten ia mengatur botol-botol minuman, membenahi jajanan kecil, dan menata kebutuhan harian yang ia jual.
Meski tampak sederhana, lapak itu telah menjadi ruang hidup—bukan hanya bagi Katrin, tetapi juga bagi para pekerja, warga desa, hingga wisatawan yang singgah menikmati panorama Matasio.
“Setiap hari paling saya dapat dua ratus ribu rupiah. Tidak banyak, tapi saya bersyukur karena bisa membantu ekonomi keluarga,” ujar Katrin kepada media ini, Selasa 24 November 2025.
Kata-katanya mengalir jujur, ditemani senyum yang tak dibuat-buat. Ia seolah menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari banyaknya pendapatan, melainkan dari ketulusan menjalani hidup.
Lapak kecil itu tidak hanya menawarkan jajanan atau minuman dingin, tetapi juga suasana keakraban.
Salah satu pelanggan setianya adalah Joni, pria asal Surabaya yang bekerja pada perusahaan milik NK sebagai teknisi elektronik dan pemasangan CCTV.
Joni hampir setiap hari mampir—baik pagi maupun siang. Terkadang untuk makan, terkadang hanya untuk menyeruput kopi sambil bertukar cerita.
“Di sini terasa seperti rumah kedua. Sambil kerja, bisa singgah dulu beli makan atau minum kopi. Rasanya lebih akrab dengan warga lokal,” tutur Joni.
Percakapan-percakapan kecil itulah yang membuat lapak Katrin tetap hangat. Keakraban yang terbangun dari senyum, sapa, dan gelas kopi yang tak seberapa harganya, namun berarti besar bagi hubungan sosial masyarakat Matasio.
Bagi desa kecil seperti ini, lapak sederhana menjadi simbol kehidupan. Ia adalah titik temu, tempat melepas lelah, tempat bercerita, dan kadang menjadi jembatan antara warga lokal dan para pendatang yang bekerja di kawasan tersebut.
Di balik setiap barang yang ia tata, ada tekad kuat yang menuntun Katrin.
“Yang penting saya tetap berusaha. Meski sedikit, ini rezeki yang Tuhan kasih,” ucapnya menutup perbincangan.
Lapaknya mungkin kecil, namun tekad perempuan asal Sumba ini jauh lebih besar. Di sana, ia merawat asa—satu pelanggan demi satu pelanggan, satu senyuman demi senyuman.
Sementara ekonomi kecil tumbuh perlahan melalui lapak-lapak warga, pemerintah pusat tengah mendorong sebuah proyek besar yang diharapkan mampu memberi dampak signifikan bagi Rote Ndao: Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN).
PT Garam (Persero) kini bersiap menjadi operator utama kawasan tersebut.
Pembangunan tahap pertama, Zona 1 seluas sekitar 1.100 hektare, telah dimulai sejak 2025 dan ditargetkan rampung pada akhir 2025 atau awal 2026.
Tanggung jawab PT Garam cukup besar: memetakan lahan, menyelesaikan status tanah, hingga menjalin kemitraan dengan investor lokal dan asing. Jika seluruh kawasan—sekitar 10.000 hingga 13.000 hektare—beroperasi penuh, produksi garam industri diproyeksikan mencapai 2,6 hingga 3 juta ton per tahun.
Proyek ini digadang-gadang menjadi tonggak penting dalam mengurangi ketergantungan impor dan mencapai swasembada garam nasional pada 2027.
Di tengah perubahan besar yang mulai terasa itu, kisah seperti milik Katrin Malo menjadi pengingat: pembangunan bukan hanya tentang angka produksi atau luas lahan yang digarap.
Pembangunan sejati adalah tentang manusia—tentang ia yang menjaga lapak kecil di bawah panas Rote Timur, tentang warga yang saling menyapa, dan tentang tawa-tawa kecil yang hidup di jalur wisata Matasio.
Merekalah penjaga denyut ekonomi yang sebenarnya. Merekalah penjaga asa Rote Timur.
(***tim)
.








