KUPANG, METRO TIMORNEWS. ID – Rabu 14 Januari 2026 – Sebanyak 18 mahasiswa Program Studi Penyuluh Agama, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen (FKIPK), Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, sukses melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMP Kristen Mercusuar Baru Kupang.
Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi biasa, melainkan sebuah “Laboratorium Kehidupan” di mana mahasiswa semester tiga dari Kelompok 1 dan 2 mengintegrasikan tiga mata kuliah inti: Metode Penyuluhan, Filsafat Ilmu, dan Komunikasi Antar Pribadi. Di bawah bimbingan dosen pengampu, Merling T.L.L.C Messakh, M.Pd., para mahasiswa ditantang untuk mentransformasi teori kelas menjadi aksi nyata yang berdampak.
Menjaga Mandat Ilahi: “Beriman, Berpikir, dan Bertindak”
Kelompok 1 membuka sesi dengan tema yang menggugah kesadaran ekologis: “Beriman, Berpikir, dan Bertindak untuk Ciptaan Tuhan.” Pemateri Sri Yeni Baukh dan Ota Tefa tampil memukau saat memaparkan konsep Ekoteologi di hadapan para siswa.
Sri Yeni menekankan bahwa alam semesta mulai dari pepohonan hingga aliran sungai adalah milik Tuhan yang dipinjamkan kepada manusia. “Kita bukan penguasa yang bebas mengeksploitasi, melainkan penjaga (stewardship) yang memegang mandat ilahi untuk merawat bumi,” tegasnya.

Menyambung hal tersebut, Ota Tefa mengajak siswa berefleksi tentang “dosa terhadap alam”. Menurutnya, merusak lingkungan adalah bentuk ketidaktaatan kepada Sang Pencipta. Sebagai simbol nyata kepedulian, kelompok ini menyerahkan dua anakan pohon pinang hias kepada pihak sekolah, sebuah aksi simbolis bahwa iman harus berakar dan bertumbuh dalam tindakan pelestarian alam.
Nasionalisme di Ujung Jari: Filter Filsafat di Era Digital
Sementara itu, Kelompok 2 yang dipimpin oleh Kondrat B.A. Pellokila membedah tema krusial masa kini: “Media Digital dan Pengaruhnya Terhadap Sikap Nasionalisme.”
Menggunakan kacamata Filsafat Ilmu, Kondrat mengajak siswa untuk tidak menjadi konsumen informasi yang pasif. “Filsafat mengajarkan kita berpikir rasional, objektif, dan kritis. Jangan telan mentah-mentah apa yang muncul di layar ponselmu. Pertanyakan sumbernya, cari buktinya!” pesannya dengan penuh semangat.
Siswa diajarkan untuk memisahkan fakta sejarah dari opini yang memecah belah, serta memahami bahwa nasionalisme di era digital bukan sekadar mengunggah foto bendera, melainkan bagaimana berkomunikasi secara sehat tanpa menyebarkan kebencian.
Komunikasi yang Membangun, Bukan Memecah
Dalam aspek Komunikasi Antar Pribadi, mahasiswa memberikan tips praktis agar siswa tetap santun di media sosial. Mengingat minimnya isyarat non-verbal di dunia maya, komunikasi yang efektif, hormat, dan konstruktif menjadi kunci.
“Jika ada perbedaan pendapat, jangan langsung menghakimi. Bertanyalah dengan sopan dan keluar dari ‘gelembung’ pemikiran sendiri untuk memahami perspektif orang lain,” jelas tim pemateri saat memberikan contoh praktis menghadapi kritik di media sosial.
Penutup yang Bermakna
Kegiatan PKM ini ditutup dengan antusiasme tinggi dari para siswa SMP Kristen Mercusuar Baru. Melalui Metode Penyuluhan yang interaktif, pesan-pesan tentang cinta Tuhan, cinta alam, dan cinta tanah air berhasil disampaikan secara ringan namun mendalam.
Dosen pengampu, Merling T.L.L.C Messakh, M.Pd., berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk terus menjadi garam dan terang bagi masyarakat melalui ilmu yang mereka timba di kampus.
Reporter: Martin Knaufmone








