Anak Nelayan Lebih Nyaman di Laut daripada di Sekolah: Ini Salah Siapa?

Minggu, 5 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di desa Oenggae, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, sebuah potret kecil realitas pendidikan pesisir terlihat jelas: banyak anak nelayan yang lebih memilih bekerja di laut ketimbang duduk di bangku sekolah. Fenomena ini bukan sekadar cerita lokal — ini adalah cerminan dari krisis yang lebih luas dan mendalam.

Saya melakukan studi kecil sebagai guru di SMK Negeri Pantai Baru, sekolah yang memiliki jurusan KNPI (Keahlian Nautika Penangkap Ikan), NKN (Nautika Kapal Niaga), TJKT (Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi), serta ATPH (Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura).

Menariknya, tingkat kehadiran siswa jurusan KNPI, yang mayoritas anak nelayan, sangat rendah. Mereka hanya benar-benar hadir lengkap saat ujian semester atau ujian kenaikan kelas.
Lewat wawancara langsung dengan para siswa dan orang tua di Desa Oenggae, saya menemukan bahwa anak-anak nelayan sebenarnya tidak sepenuhnya anti terhadap pendidikan, tetapi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya membuat mereka merasa sekolah bukanlah prioritas.

Kenapa Mereka Lebih Memilih Laut?

Anak-anak nelayan merasa lebih nyaman bekerja di laut. Di usia remaja, mereka sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari hasil tangkapan ikan. Mereka tumbuh dalam kultur di mana produktivitas ekonomi dianggap lebih berguna daripada duduk di ruang kelas. Kalimat seperti, “Lebih baik bantu orang tua cari ikan, daripada sekolah tapi tidak bisa makan,” adalah cerminan logika ekonomi keluarga mereka.
Ini bukan semata-mata pilihan, tapi kondisi yang mendorong dan membentuk pola pikir. Ini Salah Siapa?
Pertanyaan ini sulit dijawab secara hitam-putih. Namun ada beberapa pihak yang perlu berintrospeksi:

Keluarga (Orang Tua)
Banyak orang tua nelayan tidak menyadari pentingnya pendidikan formal. Sebagian besar dari mereka tidak pernah mengenyam bangku sekolah, dan karenanya sulit membayangkan bagaimana pendidikan bisa mengubah nasib. Bagi mereka, yang penting anak bisa makan dan bantu kerja.

Sekolah dan Guru
Sekolah sering kali gagal membangun relasi yang kuat dengan latar belakang sosial ekonomi siswa. Kurikulum formal dan pendekatan pengajaran sering kali tidak kontekstual. Guru kadang hadir hanya untuk menyampaikan materi, bukan mendampingi realita murid.
Lebih parah, tidak ada perhatian khusus bagi siswa dengan latar belakang rentan seperti anak nelayan. Di SMK Pantai Baru misalnya, pengawasan wali kelas terhadap kehadiran siswa jurusan KNPI sangat lemah. Padahal, merekalah yang justru paling membutuhkan pendekatan khusus.

Pemerintah Daerah dan Pusat
Sudah saatnya pemerintah serius melihat pendidikan berbasis wilayah pesisir. Selama ini, kebijakan pendidikan cenderung seragam dan tidak memperhitungkan dinamika sosial-ekonomi di daerah seperti Pantai Baru. Tidak ada beasiswa khusus untuk anak nelayan, tidak ada pendekatan pembelajaran alternatif berbasis komunitas nelayan.

Apa Penyebab Utamanya?
Dari studi sederhana ini, saya menyimpulkan beberapa penyebab kunci:
Kemiskinan struktural: orang tua tidak mampu menanggung biaya tak langsung sekolah.
Akses geografis yang sulit: jarak sekolah cukup jauh dan tidak semua anak punya sarana transportasi.
Budaya kerja sejak dini: melaut dianggap bagian dari tanggung jawab sejak kecil.
Minimnya kesadaran pendidikan: sekolah tidak dianggap penting karena tidak menjamin pekerjaan.
Kurikulum tidak relevan: pembelajaran tidak menyentuh kehidupan nyata anak-anak nelayan.
Kurangnya peran guru wali/pendampingan khusus untuk siswa rentan.
Lalu, Apa Solusinya?
Tidak cukup hanya menyalahkan orang tua, siswa, atau sistem. Diperlukan sinergi semua pihak:
Sekolah harus aktif menyesuaikan pendekatan belajar — misalnya mengembangkan kurikulum kontekstual berbasis laut.
Guru dan wali kelas harus melakukan pemetaan sosial siswa, tidak bisa hanya menunggu siswa hadir.
Pemerintah daerah harus membuat program afirmatif bagi anak nelayan — beasiswa, transportasi sekolah, bahkan jadwal belajar yang fleksibel.
Perlu ada peran LSM atau organisasi masyarakat yang masuk ke wilayah pesisir untuk membangun kesadaran pendidikan.

Ini bukan salah siapa, tapi tanggung jawab kita bersama. Kalau hari ini anak-anak nelayan lebih memilih laut daripada sekolah, maka itu adalah tanda bahwa sistem pendidikan kita belum menyentuh realita mereka.
Jika kita ingin anak-anak nelayan bisa bermimpi lebih dari sekadar menggantungkan hidup dari laut, maka sekolah harus menjadi tempat yang mereka rasa penting, relevan, dan layak diperjuangkan.

Isak Doris Faot
Guru di SMK Negeri Pantai Baru
Pegiat media

Berita Terkait

SDN Leomanu Pertama Gelar Ujian Sekolah Berbasis Komputer di Amfoang Timur
Diklat Alat Tangkap Ramah Lingkungan Perkuat Kompetensi Guru SMK Perikanan Di NTT
Polda NTT Terima Bantuan Ambulance dari BRI untuk Penanganan Darurat
Diduga Bocorkan Data Pribadi, Patman Werang Didampingi Kuasa Hukum Polisikan Dua Karyawan Kopdit Swasti Sari dan Dua Oknum Wartawan
Prodi Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang Perkuat Etika Digital Generasi Z di SMTK Setia Sumba
Propam RN Cek Langsung Kesiapan Apel Siaga May Day
UCB Kupang Sosialisasi di SMKN Pantai Baru, Siswa Didorong Lanjut Kuliah
Surat Teguran Bupati Flotim untuk Dua Instansi, Termasuk PKO

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 16:02

SDN Leomanu Pertama Gelar Ujian Sekolah Berbasis Komputer di Amfoang Timur

Rabu, 13 Mei 2026 - 00:25

Diklat Alat Tangkap Ramah Lingkungan Perkuat Kompetensi Guru SMK Perikanan Di NTT

Senin, 11 Mei 2026 - 16:32

Polda NTT Terima Bantuan Ambulance dari BRI untuk Penanganan Darurat

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:29

Diduga Bocorkan Data Pribadi, Patman Werang Didampingi Kuasa Hukum Polisikan Dua Karyawan Kopdit Swasti Sari dan Dua Oknum Wartawan

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:25

Prodi Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang Perkuat Etika Digital Generasi Z di SMTK Setia Sumba

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:32

Propam RN Cek Langsung Kesiapan Apel Siaga May Day

Kamis, 30 April 2026 - 18:59

UCB Kupang Sosialisasi di SMKN Pantai Baru, Siswa Didorong Lanjut Kuliah

Senin, 27 April 2026 - 16:48

Surat Teguran Bupati Flotim untuk Dua Instansi, Termasuk PKO

Berita Terbaru

Daerah

Warga Tolak LKPJ Kades Kolilanang, Diduga Kuat Fiktif

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:50