Kupang, Metrotimornews.id– Video yang menampilkan seorang guru honorer di SMKN 6 Ende menerima gaji hanya Rp250.000 per bulan menjadi viral di media sosial. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan luas dari masyarakat, DPRD Provinsi NTT, hingga politisi nasional.
“Ini potret miris pendidikan di daerah terpencil. Guru bekerja keras, tapi penghasilannya jauh dari layak,” ujar anggota DPRD Provinsi NTT. Sementara itu, politisi DPR RI menekankan perlunya perhatian serius terhadap kesejahteraan guru honorer di seluruh NTT.
Selain masalah gaji guru, sejumlah sekolah negeri di NTT juga dikritik karena melakukan pungutan dan sumbangan yang dinilai membebani orang tua murid. Di SMAN 5 Kota Kupang, misalnya, orang tua harus membayar sumbangan Rp900.000 ditambah biaya seragam Rp200.000. Beberapa orang tua menilai pungutan ini “memalak” keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Di sisi lain, hasil survei terbaru menunjukkan bahwa indeks literasi dan numerasi di NTT masih sangat rendah, dengan hanya 24,7% siswa berada pada kategori baik. Pakar pendidikan menilai hal ini menandakan bahwa akses pendidikan saja tidak cukup; kualitas pengajaran juga harus ditingkatkan.
Pemerintah provinsi NTT diharapkan segera meninjau regulasi guru honorer, sistem pungutan sekolah, dan program peningkatan literasi. Jika tidak, kualitas pendidikan di NTT akan terus tertinggal dibanding provinsi lain.
Imbasnya: Guru honorer yang kurang sejahtera berpotensi kehilangan motivasi, orang tua terbebani biaya tambahan, dan kemampuan dasar siswa tetap rendah. Aktivis pendidikan menegaskan perlunya langkah terintegrasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah.







