Gaji Rp250 Ribu per Bulan, Pendidikan di NTT Menjadi Sorotan Nasional

Selasa, 28 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

The government has taken steps towards this, such as implementing a program to provide free education to all children for twelve years.

The government has taken steps towards this, such as implementing a program to provide free education to all children for twelve years.

 

Kupang, Metrotimornews.id– Video yang menampilkan seorang guru honorer di SMKN 6 Ende menerima gaji hanya Rp250.000 per bulan menjadi viral di media sosial. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan luas dari masyarakat, DPRD Provinsi NTT, hingga politisi nasional.

“Ini potret miris pendidikan di daerah terpencil. Guru bekerja keras, tapi penghasilannya jauh dari layak,” ujar anggota DPRD Provinsi NTT. Sementara itu, politisi DPR RI menekankan perlunya perhatian serius terhadap kesejahteraan guru honorer di seluruh NTT.

Selain masalah gaji guru, sejumlah sekolah negeri di NTT juga dikritik karena melakukan pungutan dan sumbangan yang dinilai membebani orang tua murid. Di SMAN 5 Kota Kupang, misalnya, orang tua harus membayar sumbangan Rp900.000 ditambah biaya seragam Rp200.000. Beberapa orang tua menilai pungutan ini “memalak” keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Di sisi lain, hasil survei terbaru menunjukkan bahwa indeks literasi dan numerasi di NTT masih sangat rendah, dengan hanya 24,7% siswa berada pada kategori baik. Pakar pendidikan menilai hal ini menandakan bahwa akses pendidikan saja tidak cukup; kualitas pengajaran juga harus ditingkatkan.

Pemerintah provinsi NTT diharapkan segera meninjau regulasi guru honorer, sistem pungutan sekolah, dan program peningkatan literasi. Jika tidak, kualitas pendidikan di NTT akan terus tertinggal dibanding provinsi lain.

Imbasnya: Guru honorer yang kurang sejahtera berpotensi kehilangan motivasi, orang tua terbebani biaya tambahan, dan kemampuan dasar siswa tetap rendah. Aktivis pendidikan menegaskan perlunya langkah terintegrasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah.

Berita Terkait

262 Guru di TTS Ikuti Pemetaan Kompetensi, Korwas: Saatnya Belajar Sepanjang Waktu
MGMP Sejarah Se-Kabupaten TTS Gelar Kegiatan di SMAN 1 Soe, Bahas Pembelajaran Kontekstual hingga Penulisan Sejarah Lokal
JANGAN SAMPAI JADI GENERASI GAPTEK BUDAYA DI ERA DIGITAL
SMA Katolik Stella Maris Niki-Niki Gelar IHT 2 Hari, Fokus Kuatkan Kurikulum Merdeka dan Karakter Guru
Satuan Reserse Narkoba Gandeng Tokoh Agama Cegah Peredaran Narkotika di Sumba Timur
Pendidikan Sejarah, Kurikulum dan Pembentukan Watak Siswa di Tengah Perubahan Zaman
Setahun Berjalan, SRMA 10 Jakarta Selatan Dorong Prestasi dan Masa Depan Siswa
Kapolsek Rote Barat Laut Edukasi Siswa SD Inpres Oeoko

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:11

262 Guru di TTS Ikuti Pemetaan Kompetensi, Korwas: Saatnya Belajar Sepanjang Waktu

Jumat, 25 September 2026 - 12:23

MGMP Sejarah Se-Kabupaten TTS Gelar Kegiatan di SMAN 1 Soe, Bahas Pembelajaran Kontekstual hingga Penulisan Sejarah Lokal

Jumat, 25 September 2026 - 12:20

JANGAN SAMPAI JADI GENERASI GAPTEK BUDAYA DI ERA DIGITAL

Jumat, 4 September 2026 - 22:05

SMA Katolik Stella Maris Niki-Niki Gelar IHT 2 Hari, Fokus Kuatkan Kurikulum Merdeka dan Karakter Guru

Kamis, 3 September 2026 - 13:23

Satuan Reserse Narkoba Gandeng Tokoh Agama Cegah Peredaran Narkotika di Sumba Timur

Rabu, 2 September 2026 - 20:42

Pendidikan Sejarah, Kurikulum dan Pembentukan Watak Siswa di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 2 September 2026 - 14:27

Setahun Berjalan, SRMA 10 Jakarta Selatan Dorong Prestasi dan Masa Depan Siswa

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:18

Kapolsek Rote Barat Laut Edukasi Siswa SD Inpres Oeoko

Berita Terbaru