Anak Nelayan Lebih Nyaman di Laut daripada di Sekolah

Minggu, 5 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah Catatan dari Pantai Baru tentang Laut, Sekolah, dan Anak-anak yang Tumbuh di Antara Keduanya

ROTE NDAO [METROTIMORNEWS.ID] — Ombak pagi di pesisir Oenggae datang berulang, mengusap pasir, dan menyinggahi perahu-perahu kecil yang menunggu sentuhan tangan muda. Di sanalah kisah ini bermula — kisah anak-anak nelayan yang lebih nyaman di laut daripada di ruang kelas. Mereka bukan pembangkang. Mereka hanya sedang memilih jalan hidup yang, bagi mereka, lebih nyata.“Lebih baik bantu orang tua cari ikan, daripada sekolah tapi tidak bisa makan,”— ucapan polos seorang siswa SMK Pantai Baru yang menampar nurani kita semua.

Isak Doris Faot, seorang guru di SMK Negeri Pantai Baru, melihat fenomena ini bukan dari kejauhan, melainkan dari dalam ruang kelas yang sering kosong di jurusan KNPI (Keahlian Nautika Penangkap Ikan). Bangku-bangku diisi angin, bukan siswa. Mereka hanya hadir lengkap saat ujian semester — seolah sekolah adalah pelabuhan sementara sebelum kembali ke laut yang sesungguhnya.

Laut yang Lebih Ramah daripada Sekolah

Anak-anak nelayan tumbuh di antara debur ombak dan tali jala. Sejak kecil, mereka sudah tahu arah angin lebih baik daripada arah karier. Di usia belasan, mereka sudah bisa menghasilkan uang, sementara sekolah hanya menawarkan janji yang tak pasti.
Mereka bukan malas. Mereka realis.
Laut memberi hasil hari ini, sementara sekolah menjanjikan esok yang belum tentu datang.

Budaya kerja sejak dini membentuk cara berpikir mereka. Di banyak rumah, pendidikan dianggap kemewahan, sementara ikan adalah kebutuhan. Bagi sebagian keluarga, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah — ia adalah ruang hidup, tempat belajar, dan ruang sosial yang sesungguhnya.

Ketika Pendidikan Tak Lagi Menyentuh Realita

Faot mencoba menggali lebih dalam — berbicara dengan para orang tua, siswa, dan rekan guru. Jawaban mereka serupa: sekolah terasa jauh dari kehidupan mereka. Kurikulum tidak menyentuh laut, tidak berbicara tentang badai, jaring, atau kehidupan di perahu.
Guru datang, memberi materi, lalu pergi.
Tidak ada dialog, tidak ada pendampingan khusus bagi siswa yang rentan.“Kami ingin anak-anak sekolah, tapi siapa bantu cari makan?”— kata seorang ibu nelayan, matanya menatap laut yang tenang tapi menyimpan pergulatan.

Di sisi lain, pengawasan sekolah juga lemah. Wali kelas jarang turun ke lapangan, padahal di situlah anak-anak berada — bukan di halaman sekolah, tapi di dermaga, di laut, di antara ombak dan harapan.

Salah Siapa?

Pertanyaan itu seperti buih di ombak — muncul dan hilang, tanpa jawaban pasti.
Namun yang jelas, bukan hanya anak-anak yang salah.
Keluarga yang tak punya pilihan, sekolah yang tak mampu menyesuaikan diri, dan kebijakan pemerintah yang terlalu seragam — semua punya andil.“Kita tidak bisa mendidik anak nelayan dengan cara yang sama seperti anak kota. Mereka punya laut, punya budaya, punya ritme hidup yang berbeda,”

tulis penulis dalam catatan reflektifnya.

Mencari Jalan Pulang: Pendidikan yang Kontekstual

Solusi tidak cukup hanya dengan menyalahkan. Diperlukan pendidikan yang membumi di pesisir, menyatu dengan denyut kehidupan nelayan.
Sekolah perlu menyesuaikan pendekatan belajar — mungkin dengan kurikulum berbasis laut, praktik lapangan di pesisir, dan jam belajar yang fleksibel.
Pemerintah daerah harus hadir dengan program afirmatif — beasiswa khusus, transportasi sekolah, dan pendampingan sosial.
Guru perlu lebih dari sekadar mengajar; mereka harus menjadi sahabat, mediator, dan pelabuhan bagi para siswa.

Antara Laut dan Lembar Buku

Anak-anak nelayan bukan menolak sekolah, mereka hanya belum menemukan alasan untuk bertahan di sana.
Jika sekolah mampu berbicara dengan bahasa laut, mungkin mereka akan kembali.
Sebab bagi mereka, laut bukan tempat pelarian — melainkan tempat di mana hidup terasa nyata.“Kalau hari ini mereka lebih memilih laut, itu tanda bahwa sekolah belum cukup hangat untuk mereka kembali,”— tutup Isak Doris Faot, guru di SMK Negeri Pantai Baru, Rote Ndao.

Dan dari pinggir pantai itu, kita belajar satu hal: pendidikan sejati adalah ketika sekolah mampu memahami kehidupan muridnya, sebelum meminta mereka memahami isi buku.

METROTIMORNEWS.ID — Suara dari Timur, Mengalirkan Harapan dari Ombak ke Bangku Sekolah.

Berita Terkait

Sekolah Rakyat atau Revitalisasi Sekolah Negeri
Hardiknas 2026: “Partisipasi Semesta” atau Sekadar Ganti Baju Jargon di Tengah Penderitaan Guru Pelosok?
Makna Paskah 2026: Kristus Bangkit, Membaharui Kita
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Gubernur NTT Lantik 104 Kepala Sekolah
Wajah Pendidikan yang Runtuh Bersama SD Inpres Oepula
Memperkuat Pengawasan Yudisial dalam Proses Peradilan Pidana Melalui Praperadilan, Banding, dan Kasasi Berdasarkan KUHAP Baru (UU No. 20 Tahun 2025)
Seorang Anak Tewas Akibat Robohnya Bangunan SDI Oepula, TTS
Jemput Tersangka Pencabulan Anak di Maumere, Polres Flores Timur Komitmen Proses Hukum

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:42

Sekolah Rakyat atau Revitalisasi Sekolah Negeri

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:10

Hardiknas 2026: “Partisipasi Semesta” atau Sekadar Ganti Baju Jargon di Tengah Penderitaan Guru Pelosok?

Kamis, 2 April 2026 - 19:31

Makna Paskah 2026: Kristus Bangkit, Membaharui Kita

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:45

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Gubernur NTT Lantik 104 Kepala Sekolah

Sabtu, 21 Maret 2026 - 12:58

Wajah Pendidikan yang Runtuh Bersama SD Inpres Oepula

Sabtu, 21 Maret 2026 - 05:52

Memperkuat Pengawasan Yudisial dalam Proses Peradilan Pidana Melalui Praperadilan, Banding, dan Kasasi Berdasarkan KUHAP Baru (UU No. 20 Tahun 2025)

Jumat, 20 Maret 2026 - 11:18

Seorang Anak Tewas Akibat Robohnya Bangunan SDI Oepula, TTS

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:15

Jemput Tersangka Pencabulan Anak di Maumere, Polres Flores Timur Komitmen Proses Hukum

Berita Terbaru

Daerah

Warga Tolak LKPJ Kades Kolilanang, Diduga Kuat Fiktif

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:50