Albert Baunsele
Guru Di TTS
Kabar menyedihkan datang dari salah satu Sekolah Dasar Inpres (SDI) Oepula di Desa Oeklani kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) . Robohnya bangunan Sekolah Dasar tersebut terjadi pada rabu (18/3/2026) sore, sekitar pukul 16.30 WITA . Korban satu anak kecil , murid kelas 1 di sekolah tersebut meninggal dunia dan dua anak luka-luka. Kepala Dinas Pendidikan kabupaten TTS terus melakukan pemantauan terhadap korban yang meninggal terkena reruntuhan.
Menurut penulis, peristiwa robohnya nya bangunan SD Inpres Oepula ini menjadi pengingat penting tentang perlunya kepatuhan terhadap peraturan teknis bangunan gedung, terutama bagi fasilitas yang digunakan masyarakat luas. Dalam kacamata sipil, penulis beranggapan bahwa bangunan publik sepatutnya memiliki kinerja yang sudah diatur dalam peraturan. “Untuk memastikan kinerja itu tercapai, terdapat sejumlah tahapan yang harus dipenuhi, termasuk proses perizinan melalui Persetujuan Bangunan Gedung (PBG),”.
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2021 tentang Bangunan Gedung, termasuk juga PBG, yang menetapkan serangkaian tahapan evaluasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga fungsi bangunan. Ketika proses ini dilewati, maka tidak ada yang memeriksa struktur dan kekuatan bangunan dengan sesuai. Akibatnya, kinerja bangunan bisa jauh dari standar keselamatan yang seharusnya. “Sayangnya, banyak lembaga pendidikan yang mendirikan bangunan tanpa melewati tahapan ini” .
Berdasarkan informasi, bangunan yang roboh merupakan gedung lama yang sudah tidak digunakan selama kurang lebih dua tahun . Kondisi ini sangat berisiko karena struktur bangunan sepenuhnya sudah tidak stabil. Penulis menduga bahan bangunannya sudah tidak berfungsi secara baik.
Selain itu, faktor lain yang mungkin memperburuk kondisi adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya yang bermain di sekitar sekolah dengan kondisi bangunannya tidak stabil.
Soal pilihan penggunaan struktur beton maupun baja, menurut penulis ,keduanya bisa digunakan asal memenuhi target kinerja struktur sesuai standar teknis. Namun, perlu diakui material baja memiliki keunggulan dari sisi konsistensi mutu karena diproduksi secara industri dan terstandarisasi. “Keduanya tetap sah digunakan asalkan perencanaannya tepat dan pengawasannya benar”.
Disamping itu, penulis menilai penting adanya langkah bersama dalam menyusun roadmap evaluasi bangunan pendidikan . Walaupun, hal ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. roadmap tersebut perlu disusun bersama antara dinas pendidikan , Dinas Teknis, hingga pemerintah daerah.“Kemudian mungkin pemerintah desa yang ada di dekat sekolah itu,”.Sebagai penutup, penulis juga mengingatkan bahwa jasa gedung sekolah dalam mencerdaskan bangsa sangat besar sehingga keselamatan para murid menjadi prioritas utama. Terlebih bangunan gedung sekolah berisiko tinggi karena menampung banyak orang. Penulis menegaskan bahwa kejadian ini, terlebih aspek keselamatan, tidak boleh dianggap takdir, melainkan dapat dicegah melalui perencanaan dan pengawasan yang baik.








