Oleh: Thomas Edison Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE.
Guru, Penulis dan Pendiri Rumah Literasi Thomas Edison
Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Guru, murid, dan orang tua bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang saling mendukung. Di era transformasi pendidikan saat ini, sinergitas antara ketiganya menjadi syarat mutlak dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, bermakna, dan kontekstual.
Sebagai seorang guru dan pegiat literasi di kabupaten Timor Tengah Selatan, saya telah merasakan bahwa pendidikan yang berkualitas tidak mungkin berdiri di atas bahu guru semata. Guru bisa menjadi perancang pembelajaran yang inovatif, namun tanpa keterlibatan aktif orang tua dan semangat belajar murid, hasilnya akan jauh dari yang diharapkan.
Sayangnya, dalam praktik yang ada sampai dengan saat ini, sinergitas ini masih sering terputus. Guru bekerja keras di sekolah, murid berjuang sendiri memahami pelajaran, sementara orang tua kadang merasa peran mereka berhenti di batas menyediakan kebutuhan materi. Ketimpangan ini bukan hanya menghambat proses belajar, tetapi juga merenggangkan hubungan emosional antara anak, sekolah, dan orang tua.
Pendidikan Bukan Tanggung Jawab Sekolah Semata
Selama bertahun-tahun, persepsi bahwa sekolah adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan anak masih melekat kuat. Namun yang terjadi, anak hanya berada di sekolah sekitar 6-7 jam per hari. Sisa waktunya dihabiskan di rumah dan lingkungan. Jika rumah tidak menjadi tempat tumbuhnya semangat belajar, nilai-nilai karakter, dan kebiasaan belajar mandiri anak, maka sekolah akan kesulitan dalam peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri.
Di sinilah pentingnya kolaborasi yang setara antara guru dan orang tua. Kolaborasi ini harus dibangun dalam semangat keterbukaan, komunikasi dua arah, dan visi bersama, yakni mendidik anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara emosional dan berkarakter.
Misalnya, dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), banyak sekolah mengeluhkan minimnya dukungan dari rumah. Anak diminta membaca di sekolah, tapi di rumah tidak ada yang menanyakan buku apa yang dibaca. Bahkan masih banyak rumah tangga yang belum memiliki koleksi buku anak. Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa ketidakterlibatan orang tua bisa menghambat proses penguatan budaya literasi.
Sebaliknya, ketika orang tua dilibatkan dalam kegiatan literasi seperti membaca bersama anak di rumah, mendampingi saat anak menulis jurnal harian, atau berpartisipasi dalam program satu keluarga satu buku bacaan, maka perubahan positif akan terjadi. Anak merasa diperhatikan, orang tua lebih memahami proses belajar, dan guru terbantu dalam penguatan pembelajaran.
Kunci dari semua ini adalah kepercayaan dan kolaborasi. Pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang dibangun di atas fondasi saling percaya, saling mendukung, dan saling belajar. Guru belajar memahami konteks keluarga murid, orang tua belajar memahami dinamika pembelajaran, dan murid belajar untuk menjadi bagian dari proses ini secara aktif.
Murid sebagai Subjek Belajar, Bukan Objek
Sinergitas yang dimaksud bukan sekadar kerja sama administratif antara guru dan orang tua, tetapi juga mencakup pemberdayaan murid sebagai aktor utama dalam pendidikan. Murid harus diposisikan sebagai subjek belajar yang aktif, bukan hanya penerima pengetahuan.
Pendidikan akan lebih bermakna jika murid diberi ruang untuk berpendapat, memilih cara belajar yang sesuai, serta mengekspresikan ide dan emosi mereka. Namun agar hal itu terjadi, mereka butuh pendampingan yang sinergis. Guru memberikan arahan, orang tua mendukung di rumah, dan murid menjalani proses belajar dengan motivasi intrinsik.
Saya pernah mengalami kasus seorang siswa yang sangat pendiam di kelas. Ia tampak tidak tertarik belajar. Setelah pendekatan personal, saya berdiskusi dengan orang tuanya dan mengajak mereka untuk lebih terlibat, terutama dalam hal mendengarkan cerita anak sepulang sekolah. Beberapa minggu kemudian, perubahan dari anak tersebut meningkat secara baik. Anak itu menjadi lebih percaya diri, aktif bertanya, dan mulai menulis puisi sederhana. Kuncinya bukan pada metode pengajaran semata, tetapi pada hadirnya dukungan emosional dari rumah.
Guru Sebagai Penghubung antara Rumah dan Sekolah
Guru bukan sekadar pengajar, melainkan fasilitator dan jembatan antara rumah dan sekolah. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi interpersonal menjadi sangat penting. Guru perlu membangun hubungan yang inklusif dan humanis dengan orang tua. Bukan hanya menghubungi orang tuan saat anak bermasalah, tetapi juga mengajak mereka berdialog dalam suasana positif.
Sekolah harus membuka ruang bagi orang tua untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti kelas inspirasi, forum orang tua, diskusi bulanan, atau program parenting berbasis literasi. Dengan cara ini, orang tua merasa menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Demikian pula guru perlu mendekatkan diri pada realitas keluarga murid. Di banyak daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), guru perlu memahami bahwa tidak semua orang tua memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Maka komunikasi harus disampaikan dengan empati dan bahasa yang sederhana. Melalui pendekatan yang setara dan saling menghargai, sinergitas bisa tumbuh dengan baik dan membangun kolaborasi yang humanis.
Literasi sebagai Titik Temu Sinergitas
Gerakan literasi dapat menjadi jembatan yang kuat antara sekolah dan rumah. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan merefleksikan makna kehidupan. Dalam konteks sinergitas, kegiatan literasi bisa menghubungkan guru, murid, dan orang tua dalam satu ruang kolaboratif.
Kegiatan seperti membaca buku bersama, mendiskusikan cerita rakyat lokal, menulis pengalaman harian, atau membuat buku keluarga bisa menjadi media interaksi yang mendalam. Literasi tidak lagi menjadi beban tugas sekolah, tetapi budaya yang tumbuh bersama di rumah dan sekolah.
Saya menyarankan agar setiap sekolah memiliki agenda literasi yang melibatkan keluarga: misalnya, Program Ayah Bercerita, Ibu Membacakan Buku, atau Surat Cinta untuk Orang Tua yang ditulis oleh murid. Program seperti ini tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi murid, tetapi juga mempererat relasi emosional di antara tiga pihak.
Membangun Ekosistem Pendidikan yang Kolaboratif
Pendidikan adalah kerja besar, dan kerja besar ini membutuhkan kerja sama yang bermakna. Sinergitas antara guru, murid, dan orang tua bukanlah pilihan, tetapi kebutuhan. Ketiganya harus berjalan seiring, saling mendukung, dan membentuk lingkaran pengaruh yang positif bagi perkembangan anak.
Sebagai guru, saya menyerukan kepada sesama pendidik untuk membuka ruang dialog dan kolaborasi seluas-luasnya dengan orang tua. Kepada orang tua, mari kita kembalikan peran rumah sebagai sekolah pertama bagi anak-anak. Dan kepada murid, percayalah bahwa anda tidak berjalan sendiri. Ada guru dan orang tua yang siap mendampingi dengan hati yang terbuka.
Dengan sinergitas yang kuat, kita bisa mewujudkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. Pendidikan yang bukan hanya menghasilkan angka, tetapi membentuk manusia seutuhnya.








