Oleh: Isak Doris Faot, S.Kom., Gr
Guru TKJ SMKN Pantai Baru
Saya masih mengingat dengan jelas masa-masa sekolah dahulu. Guru tidak datang ke kelas dengan laptop, LCD, atau slide PowerPoint yang penuh warna. Mereka hanya membawa kapur tulis, buku catatan, dan suara yang lantang. Namun suasana kelas selalu terkendali. Murid duduk rapi, diam, dan fokus. Guru pada masa itu dikenal sebagai sosok yang ditakuti—bukan karena kekerasan, tetapi karena wibawa.
Rasa takut itu sesungguhnya adalah rasa segan. Segan karena guru tegas, konsisten, dan benar-benar menguasai apa yang diajarkan. Kehadiran guru di kelas membawa pengaruh besar. Tanpa banyak kata, kelas bisa tertib. Tanpa teknologi, pembelajaran tetap berjalan dengan penuh makna.
Kini zaman telah berubah. Guru datang dengan berbagai perangkat modern: laptop, LCD proyektor, PowerPoint, video pembelajaran, bahkan akses internet tanpa batas. Secara fasilitas, dunia pendidikan telah maju pesat. Namun realitas di kelas sering kali berbanding terbalik. Di tengah tayangan slide yang rapi dan animasi yang menarik, tidak sedikit siswa justru bengong, kurang fokus, bahkan kehilangan minat belajar.
Perubahan ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Teknologi sejatinya adalah alat bantu, bukan inti dari pembelajaran. Ketika guru terlalu bergantung pada media, peran utama sebagai pendidik perlahan memudar. Guru bukan sekadar penyaji materi, melainkan pembentuk karakter, penggerak motivasi, dan teladan bagi peserta didik.
Wibawa guru tidak ditentukan oleh kapur tulis atau PowerPoint, melainkan oleh kehadiran yang utuh: penguasaan materi, ketegasan sikap, ketulusan dalam mengajar, serta kemampuan membangun hubungan dengan siswa. Tanpa itu semua, secanggih apa pun media yang digunakan, pembelajaran akan terasa kosong.
Sebagai guru kejuruan, khususnya di bidang Teknik Komputer dan Jaringan, teknologi tentu tidak bisa dipisahkan dari proses belajar. Namun teknologi harus ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan pengganti peran guru. Suara, interaksi, dan keteladanan tetap menjadi kunci utama.
Mungkin yang perlu kita bangun kembali bukanlah rasa takut seperti dahulu, tetapi rasa hormat. Hormat yang lahir dari guru yang berwibawa, profesional, dan manusiawi. Karena pada akhirnya, siswa tidak hanya belajar dari layar dan slide, tetapi dari sosok guru yang hadir secara nyata di hadapan mereka.








