Lomba Pamer Pakaian di Atas Penderitaan Rakyat

Kamis, 13 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rhey Natonis

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tentu wajib dirayakan. Merah putih harus berkibar, semangat nasionalisme harus hidup, dan masyarakat berhak menikmati momentum 17 Agustus dengan penuh kegembiraan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang rasanya semakin sulit untuk dihindari: kemerdekaan ini sebenarnya sedang dirayakan untuk siapa?
81 tahun Indonesia merdeka, tetapi di banyak pelosok negeri masih ada rakyat yang hidup dalam keterbatasan. Mereka masih bergulat dengan kemiskinan ekstrem, anak-anak yang tidak bersekolah, stunting, akses pelayanan dasar yang terbatas, bahkan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ironisnya, ketika rakyat sedang berjuang mempertahankan hidup, sebagian pejabat justru sibuk mempertontonkan kemewahan dalam berbagai seremoni kemerdekaan.
Gerak jalan, misalnya, seharusnya menjadi simbol kebersamaan dan semangat perjuangan. Namun, tidak jarang yang lebih menonjol justru pakaian, atribut, kemewahan dan penampilan para pejabat. Seolah-olah ukuran keberhasilan memperingati kemerdekaan adalah siapa yang paling necis, paling mahal pakaiannya dan paling mencuri perhatian kamera.
Lalu di mana rakyat miskin? Di mana mereka yang setiap hari harus berpikir bagaimana mendapatkan makanan untuk keluarganya?
Di mana anak-anak dari keluarga miskin yang bahkan belum tentu memiliki pakaian layak untuk mengikuti perayaan kemerdekaan?
Apakah mereka hanya diperlukan ketika pemerintah membutuhkan suara, membayar pajak atau memenuhi angka partisipasi masyarakat?
Jangan sampai kemerdekaan berubah menjadi panggung pesta para elite, sementara rakyat hanya menjadi penonton di pinggir jalan.
Lebih menyedihkan lagi ketika wakil rakyat ikut tampil dengan pakaian terbaik, berdandan necis dan berkelas, sementara di daerah yang mereka wakili masih banyak masyarakat yang menangis karena kemiskinan.
Mereka adalah wakil rakyat. Seharusnya mereka tidak hanya pandai tampil di depan kamera, tetapi juga mampu melihat wajah rakyat yang berada jauh di balik panggung seremoni.
Rakyat membayar pajak. Rakyat bekerja. Rakyat ikut menopang jalannya pemerintahan. Dari keringat rakyatlah negara memperoleh penerimaan untuk membiayai berbagai program dan kebutuhan pemerintahan.
Maka ketika rakyat masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, ketika angka stunting masih menjadi persoalan, ketika anak-anak masih putus sekolah atau bahkan tidak sekolah, dan ketika kasus kekerasan seksual masih menghantui masyarakat, kemewahan yang dipertontonkan oleh pejabat publik seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan kebanggaan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa HUT RI tidak boleh dirayakan.
Rayakanlah!
Gerak jalanlah!
Pakai pakaian terbaik sekalipun!
Tetapi jangan sampai perayaan itu kehilangan makna.
Jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah pakaian, tetapi lupa memperbaiki kehidupan rakyat.
Pemerintah dan wakil rakyat seharusnya menjadikan HUT Kemerdekaan sebagai momentum untuk menghadirkan rakyat yang selama ini berada di pinggir. Ajak mereka terlibat. Berikan ruang kepada kelompok miskin, penyandang disabilitas, anak-anak dari keluarga tidak mampu, petani kecil, nelayan, pedagang kecil dan masyarakat di pelosok untuk menjadi bagian utama dari perayaan.
Sebab kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang punya jabatan.
Kemerdekaan bukan milik mereka yang mampu membeli pakaian mahal.
Kemerdekaan juga bukan milik mereka yang berdiri di panggung kehormatan.
Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia.
Pertanyaannya sederhana: sudahkah rakyat benar-benar merdeka?
Sebab sebuah bangsa boleh saja merayakan 81 tahun kemerdekaan dengan meriah. Bendera boleh berkibar di setiap sudut negeri. Panggung boleh berdiri megah. Pejabat boleh tampil dengan pakaian terbaik.
Tetapi jika masih ada rakyat yang tidak mampu makan dengan layak, anak yang tidak bisa sekolah, keluarga yang tinggal dalam kemiskinan ekstrem, dan masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan dasar secara layak, maka kita patut bertanya : Apa arti kemerdekaan bagi mereka?
Jangan sampai kita hanya merdeka dari penjajahan bangsa asing, tetapi sebagian rakyat masih merasa dijajah oleh kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakpedulian.
Dan yang paling menyakitkan, ketika rakyat sedang berjuang untuk hidup, kita justru sibuk lomba pamer pakaian di atas penderitaan rakyat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Semoga kemerdekaan tahun ini bukan hanya semakin meriah dalam seremoni, tetapi juga semakin nyata dalam kehidupan rakyat.
Karena rakyat tidak membutuhkan pejabat yang sekadar terlihat merdeka. Rakyat membutuhkan pemerintah yang membuat mereka benar-benar merasa merdeka.

Rhey Natonis

Berita Terkait

JANGAN SAMPAI JADI GENERASI GAPTEK BUDAYA DI ERA DIGITAL
Kontrak Pengadaan 700 Sapi Bali di Flores Timur Berpotensi Bermasalah, Pengacara Soroti Risiko Pemutusan Sepihak
Teror Menggila, Kenapa OPM Tak Dijuluki Teroris, Tapi Malah KKB?
Desil Berubah, Bansos Terancam Hilang? Begini Cara Warga Memperbaiki Data DTSEN
Pendidikan Sejarah, Kurikulum dan Pembentukan Watak Siswa di Tengah Perubahan Zaman
Rp103 Miliar untuk Podcast? DPR Mengkritik, Menteri Koperasi Membantah: Publik Menunggu Transparansi
Ketika Desil Diubah, Kemiskinan Seolah Ikut Menurun
HUT ke-81 RI di Monas: Di Balik Kemeriahan, Ada Doa untuk Warga NTT

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 12:20

JANGAN SAMPAI JADI GENERASI GAPTEK BUDAYA DI ERA DIGITAL

Jumat, 18 September 2026 - 11:11

Kontrak Pengadaan 700 Sapi Bali di Flores Timur Berpotensi Bermasalah, Pengacara Soroti Risiko Pemutusan Sepihak

Minggu, 13 September 2026 - 07:00

Teror Menggila, Kenapa OPM Tak Dijuluki Teroris, Tapi Malah KKB?

Minggu, 6 September 2026 - 10:21

Desil Berubah, Bansos Terancam Hilang? Begini Cara Warga Memperbaiki Data DTSEN

Rabu, 2 September 2026 - 20:42

Pendidikan Sejarah, Kurikulum dan Pembentukan Watak Siswa di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 2 September 2026 - 20:25

Rp103 Miliar untuk Podcast? DPR Mengkritik, Menteri Koperasi Membantah: Publik Menunggu Transparansi

Senin, 31 Agustus 2026 - 21:43

Ketika Desil Diubah, Kemiskinan Seolah Ikut Menurun

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:28

HUT ke-81 RI di Monas: Di Balik Kemeriahan, Ada Doa untuk Warga NTT

Berita Terbaru